Among the landscape, you feel like the best gift I've ever got
Sebuah gang sempit. Salju bertebaran di atap jendela vertikal sebuah dinding bata yang telah memudar warnanya. Aku berputar ke belakang. Dinding biru dan salju menyelimuti jalan seperti pasir putih yang rapuh. Sepanjang gang ini bangunan berlantai dua tersusun dan membelok di ujung sana, kosong. Tapi di depan gang beda lagi. Aku melangkahkan kaki maju perlahan-lahan. Percakapan timbul dan hilang selagi orang-orang mendekati dan menjauhi gang tempat kami mendarat—atau muncul lebih tepat?
Dalam baju hangat, orang-orang berjalan cepat, beberapa merapatkan mantel ke tubuh, beberapa bergandengan tangan dengan pasangan, ada yang lebih santai menghadapi hari dingin seolah-olah ini hanyalah satu dari sekian hari-hari di musim semi.
"Ada Christmas market di Eyre Square, buka mulai sore nanti. Tapi kalau kamu mau keluar Galway, kita bisa mulai dengan Tebing Moher di selatan atau Taman Nasional Connemara di barat?"
Kami berdiri di sebuah jalan di antara bangunan berlantai tiga atau empat yang warna-warni. Kuning, biru, hijau, merah-putih, kedai minum, kafe, toko baju, semuanya berada di bawah bentangan tali bendera segitiga yang dipasang zig-zag dari lantai atas bangunan. Aku berputar, memandangi awan tebal gemuk yang menyingkap sedikit langit muram di baliknya. Bahkan di bawah cuaca muram, Eropa memancarkan pesonanya.
"Bagaimana rute perjalanan yang bagus, kalau aku ingin kembali lagi untuk Christmas market-nya?"
"Aku ingat ada festival lampu juga di Cork, dan di sepanjang jalan ada Christmas market-nya." Soma mulai melangkah ke kiri kami, mendekati persimpangan dekat bangunan beratap limas yang punya cerobong asap di ujung jalan.
Aku melangkah di sebelahnya, memasukkan tangan yang terbungkus sarung rajut ke kantung bomberku. "Kamu hafal rute pariwisata di sini?" Dinginnya mencengkeram wajahku dan uap napasku sendiri berkejaran tertiup angin.
"Setiap tempat yang pernah kukunjungi di Bumi."
Hebat sekali. "Jadi kita akan ke tebing itu lalu ke festival lampu di mana tadi?"
"Kamu ingat nggak bisa belanja banyak barang, kan?"
"Aku ingat, tapi aku kan ingin lihat-lihat. Kalau bisa, aku mau makan dulu di Galway." Pada kesempatan ini aku akan lebih bijak untuk mencicipi sebanyak-banyaknya makanan yang bisa tertampung di perutku. "Kuharap di sana menyenangkan."
"Itu Christmas market, selama ada makanan, mana mungkin nggak menyenangkan?"
Kami mampir di kedai yang menjual toast ber-topping prawns, burrito berisi telur orak-arik dan kentang goreng, dan burger isi crispy bacon kalkun. Tungku api di ruangan menyala, tapi oleh lampu yang mengimitasi bentuk api, bukan api sungguhan. Pencahayaan di sini punya kontras tajam antara kegelapan dan lampu sorot di langit-langit atas meja, tampak pendar debu hijau yang melayang-layang. Orang-orang yang mengitari meja di dekat tungku menceritakan sesuatu dalam logat Irlandia yang sulit kuikuti lalu mereka tertawa sampai menggebuki meja. Sepasang kekasih duduk di sebelah kami di meja panjang, mereka tersenyum ramah sejenak pada kami sebelum saling melirik dan dengan penuh arti kembali bertukar senyum manis.
Pesanan kami datang bersamaan di meja.
"Turis?" tanya si gadis yang duduk di seberangku, di sebelah Soma.
Aku menatap lipstik merahnya dan mengingat-ingat betapa cantiknya Emma Watson, dia tampak seperti itu. "Ya. Dari Indonesia."
"Indonesia ...." Dia mengangguk-angguk. "Sebelah India?"