Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #17

Wrong Bidding

You lured me into some other miraculous side of the universe, and I was deceived


Segera saja aku menyusun daftar. Beberapa negara yang paling menarik perhatianku belakangan ini. Seminggu menjelang, kami pergi untuk menikmati siang di kota tua St. Gallen yang dijatuhi hujan salju tipis. Kami berlarian di atas rumput yang terasa seperti hamparan beludru di antara serbuk putih. Pohon Natal tertinggi di Swiss didirikan di tengah-tengah rumah-rumah kayu beratap seperti lumbung, diterangi oleh ribuan lampu. Soma mengajakku untuk mencicipi glühwein, sesuatu yang mereka sebut anggur mulled dari salah satu kedai di tepian pohon Natal tertinggi. Kecut, asam, dan manis, rasanya glühwein itu—anggur pertama yang kucicipi. Kami bertukar cerita mengenai bentangan sawah, ratusan pantai, dan gunung-gunung gagah seperti Merapi, Sinabung, dan Krakatau di Indonesia kepada Broadjack, bartender di balik bar.

"Tapi lebih hangat udaranya di sana," balas Broadjack setelah menceritakan keindahan Danau Genova dan Kota Grindelwald—benar, aku dan Soma langsung melirik satu sama lain. Grindelwald, katanya. Sementara Soma menjelaskan tentang negara kami yang dilalui garis khatulistiwa, aku membayangkan Johnny Depp dan malah keterusan menjadi The Pirate of Carribean.

"Bali adalah salah satu pulau di Indonesia yang paling terkenal di luar negeri," cerita Soma, "dan di sana adil sekali pembagiannya. Panas terus-menerus di selatan. Dingin terus-menerus di tengah, aku bicara tentang Kabupaten Bangli. Dan gersang di bagian pesisir Karangasem. Kalau mau suasana kota, pergi ke Denpasar, kalau mau lihat sawah, pergi ke Ubud."

Broadjack termenung dengan lap pink tua yang dia selaputkan di sekeliling gelas kristal. Mungkin sedang mencocokkan tabungannya dengan perkiraan bujet berlibur di Bali. Sementara Broadjack berbalik tajam ke bufet jajaran botol anggur, aku mencondongkan tubuh ke sebelahku. "Bali nggak boleh ketinggalan, kan?"

"Sangat nggak bijaksana mengenali dengan cermat gang di antara Galway dan kedai-kedai mana saja yang punya glühwein terlezat di Swis, tapi malah nggak mengetahui apa pun tentang salah satu permata negara sendiri. Apalagi sudah sejak abad 20 Bali menjadi tujuan wisata yang mendunia."

Aku mengangkat alis. Sejenak kupandangi saja dia. Sampai Soma meletakkan kembali gelas anggurnya dengan ketukan keras di meja bar berbau serat pinus. "Maksudmu, kita harus pergi ke Bali dua minggu lagi?" tanyanya.

Dua minggu lagi kami sudah mulai libur. Aku bukan hanya bisa bepergian dengan Soma mulai pukul enam sore, kami malahan bisa pergi sepagi apa pun yang kuinginkan. Tergantung bagaimana aku mengatakan pada Papa caraku menghabiskan liburan semester kali ini. Tadi sore, saat aku meminta izin untuk menginap lagi, Papa menunduk agar bisa menatapku dari balik bulu mata, memberinya kesan luar biasa serius dalam menyelidiki sesuatu. "Menginap lagi, ya?"

"Kali ini belajar bersama untuk menghadapi ujian akhir semester."

"Kenapa tidak belajar sendirian di kamarmu? Sepertinya kamu akan lebih berkonsentrasi." Papa lalu menegakkan kembali tubuhnya sambil berdeham panjang. Tangannya diluruskan juga sehingga ujung kemeja dan jas cokelat serupa warna kulit jeruk busuk menggelepar di atas telapak tangan yang kuat dan gempal. "Kamu yakin di sana tidak hanya bercanda-canda saja?"

Lihat selengkapnya