Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #20

Wrong Mist

Repeating pattern in pattern until it knows you better


"Bagaimana di sana tadi?" Tidak biasanya Papa lebih dulu tiba dariku di rumah.

Pertanyaannya menarik, karena aku bisa saja menjawabnya dengan, seperti kelihatannya. Menara Piza dan Colosseum, mereka menakjubkan. Dari batu kapur, yang satu benar-benar miring dan yang satu lagi benar-benar setengah runtuh. Italia menyenangkan sekali. Arsitekturnya, kulinernya .... Tahu tidak, Pa? Ini adalah kali kedua aku menyantap piza autentik. Dan yang kali ini malah makan di negaranya langsung sehingga masih hangat. Enak, sangat enak, kejunya lumer dan harum minyak zaitunnya bertahan lama sekali di mulut.

Tapi tentu saja bukan itu yang ingin dia dengar. Aku mengangkat bahu dan mencebik. "Lebih banyak turis mancanegara yang hadir. Kulit mereka merah waktu kami membagikan makanan di Jalan Cempaka." Percabangan dari rute belok ke kanan setelah pom bensin Soma di Jalan Kamboja Merah.

"Kamu pasti lelah."

Tidak ada yang bisa membayangkannya. Jalan kaki 40 menit saat subuh, turun dari Bukit Janiculum, naik lagi ke Bukit Capitolini untuk mencapai Piazza del Campidoglio atau Capitoline Square demi bisa mengagumi arsitektur karya seniman besar Michelangelo Buonarroti dan artefak peninggalan masyarakat Roma kuno di Musei Capitolini, lalu makan tris carpaccio dan caviar di restoran yang mendapatkan anugerah bintang tiga Michelin di Roma. Jadi, yah ... luar biasa. "Ya, ada 500 kotak semester ini, meningkat dari 320 kotak semester lalu. Aku akan ke kamarku, meluruskan kaki sebentar." Aku berusaha tersenyum sambil lalu.

"Buk Laras memasak cumi balado, Nak. Makanlah setelah selesai beristirahat."

"Oke." Aku membuka pintu, mengangguk pada Buk Laras yang duduk di teras, mengupasi petai. Sebaskom potongan terong terletak di sebelah pinggangnya, dan aku pun masuk kamar.

Hal pertama yang kulihat setelah berada di balik pintu adalah daftar negara dan cetakan peta yang kupin di papan mungil. Aku mendekatinya. Senyum langsung terasa merobek wajah dan aku mulai menahan kikik tawa seperti orang gila.

Belanda, Ceko, Moldova, Kosovo. Kemudian kami akan pergi ke Asia.

Hari demi hari kuhabiskan dengan menyusuri jalanan kota-k         ota di Eropa; naik bus, kereta, menghirup napas yang sejuk dan cenderung dingin di luar pagar ladang rumput, menari bersama Soma, diam-diam menyapa penduduk asli tanpa diketahui Soma, makan masakan yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain.

Kami berangkat dan pulang mengikuti durasi waktu kerjaku di acara kegiatan relawan. Dan selagi beristirahat di suatu kedai, aku akan mempelajari isi postingan Duggan, membayangkannya seolah-olah aku memang melakukannya. Menggongseng tempe manis, menyendoknya ke kotak kertas setelah menimbangnya dengan adil, mengepak kotak ke kantung kanvas, menggotong kantung-kantung itu ke berbagai tempat sambil tertawa-tawa dengan beragam turis mancanegara yang tidak tahu kakakku menderita AIDS.

Dan kalaupun tahu, tampaknya mereka tidak akan peduli. Pengalaman terkadang membuat orang-orang menjadi lebih bersikap terbuka.

Betapa mudah melakukan semua itu. Bicara dengan mereka tanpa khawatir mereka bisa menduga masa laluku. Tertawa pada orang-orang baru ini yang berkomunikasi menggunakan bahasa yang berbeda dariku. Membayangkan perlakuan hangat mereka, kerja sama yang bagus, kekompakan setelah membagi-bagikan makanan, lalu kami akan makan bersama di belakang restoran sambil bertukar kontak.

Mudah membayangkannya karena sebagian besar dari semua itu memang kulakukan selama berhari-hari, di bagian berinteraksi dengan orang-orang asing. Dan lebih mudah lagi karena imajinasiku telah terlatih. Bayangkan kincir angin, ladang bunga tulip, dan daratan yang sesungguhnya ada di bawah permukaan laut, sampailah aku di dekat Amsterdam. Orang sana tinggi, kulitnya hampir seperti susu madu, hidungnya ramping dan tinggi, bibir tipis, mata kecil. Aku mengingatnya dengan baik, penting sebagai referensi, kata Soma.

Lihat selengkapnya