I constructed a world, ladies and gentlemen; could you believe it?
Akhir Januari telah tiba. Februari akan dimulai dengan ajaran baru semester genap. Kami punya seminggu lagi untuk bersenang-senang sebelum dihantam tugas sekolah, tugas praktik, dan tugas kelompok. Kembali lagi berdiskusi dengan orang-orang yang bersikap canggung padaku. Kembali lagi duduk di kelas yang mengganggapku tidak kasatmata.
Suatu hari, saat kami duduk di Puncak Sugarloaf, memandangi kota Rio De Janeiro, aku memberitahunya progres esaiku. "Nanti akan kuserahkan padamu untuk kamu periksa."
Dia mendengus. "Kamu nggak akan menginginkannya lagi nanti, setelah kita sampai di tingkatan perjalanan yang lebih tinggi. Inggris, Jepang, Australia, semua tempat di Bumi akan terasa dangkal kalau pandanganmu diperluas sampai tepian alam semesta."
"Apakah semesta bahkan memiliki tepi?"
Dari samping, di antara celah kacamatanya, aku melihat mata datar Soma berbinar-binar. "Nggak. Itulah kehebatan alam semesta."
"Tapi aku tetap harus berkuliah di Eropa."
Soma menyeringai sambil mendorong tubuhnya dari batuan. "Lihat aja nanti."
Sekaranglah waktunya, yang telah kami tunggu-tunggu sejak awal. Aku terutama. Tidak menyangka saat tiba di pom bensin ini pukul tujuh kurang belasan menit, kami akan memikirkan suatu tempat yang tidak ada sangkut pautnya dengan Bumi. Soma melompat ke motornya setelah mendorong motor itu dari mesin pom. Setang motor kami berdempetan. Dia merapatkan tali ransel ke dada dan menoleh padaku.
"Gimana kalau aku salah membayangkan atmosfernya dan kita akan menghirup pecahan kaca?"
"Jadi bensinnya akan menyelamatkan kita."
"Nggak apa-apa kalau aku membayangkan bintik besar Jupiter?"
"Kamu mau kita berputar-putar di dalamnya sambil menyaksikan petir menyambar di segala tempat?"
"Tapi apa kita akan berputar sekencang itu? Dan tersambar petir?"
"Bensin akan melindungi kita. Tapi akankah kamu mengambil risiko itu?"
Akankah? Kami punya sekitar sembilan jam sebelum kembali lagi ke sini. Aku tidak mau membayangkan kami harus berputar-putar selama itu dan hanya menyaksikan petir raksasa di antara pusaran gas. Ilmuwan sejati mungkin menganggapnya sebagai anugerah, tapi penyuka sains sederhana sepertiku hanya akan bisa bertahan di lima menit pertama. Kalau aku nekat mau pulang setelahnya, alam tak akan segan-segan melemparkanku hidup-hidup ke Venus atau bahkan Matahari. Tidak. Aku tidak mau mengambil risiko itu.
"Bagus," katanya. "Kamu bayangkan tempat yang ramah untuk dikunjungi manusia. Sedikit liar boleh, tapi nggak mematikan. Dan apabila mematikan, tolong jangan lupa membayangkan satu titik aman yang membuat kita bisa mengamati tempat mematikan itu."