Is this truly true?
Lusa datang. Aku dan Soma langsung pergi ke pom bensin sepulang sekolah karena aku telah mengepak barang-barangku sejak pagi. Ada strategi baru yang bisa kugunakan pada Papa. Sesampainya di pom bensin, Somalah yang memegangi motorku ketika pegawai mengarahkan nozel ke tangki, sementara aku menjauh sampai bilik ATM terbengkalai yang kaca depannya pecah di bagian jalan keluar. Panggilan masukku diterima pada dering ketiga oleh Papa. Kedengaran tenang di seberang sana.
"Pa?"
"Ya, Matra, ada apa, Nak?"
"Tugas Kewirausahaan. Aku harus menginap lagi di rumah temanku. Kami akan merangkai pembangkit listrik tenaga gerak, jadi kami akan pergi ke pasar loak untuk beli dinamo dan merancang desain produk untuk konsep pembangkitnya. Karena ini Jumat dan besok Sabtu, jadi sekolah akan lebih santai, kami memutuskan untuk menyelesaikannya malam ini juga," jelasku. Aku memandangi Soma yang menuntun motorku ke arah reservoir tanam bertutup merah. Ada gagang yang mencuat di atasnya. Dan tumbuhan di sekitarnya mengering, didominasi oleh gulma.
"Berarti tidak pulang dulu untuk ambil baju ganti?"
"Tidak perlu, Pa, Mily akan meminjamiku baju tidurnya. Lagi pula, hanya satu malam saja. Besok aku akan pulang sepulang sekolah."
"Matra?" Tepat saat aku hampir mematikan telepon, Papa memanggilku. Aku menyahut ragu-ragu. "Papa tidak ingin kita merepotkan Mily terlalu sering. Walaupun dia dan keluarganya menolak dibilang direpotkan, tapi tetap saja, kamu terlalu sering menginap di sana, makan bersama mereka, dan mandi dengan air mereka. Ya, Nak? Tolong pikirkan lagi."
Kupikir Papa akan semakin terbiasa seiring waktu, tapi kekhawatirannya malah semakin menyala. Aku mengusap wajah dan mengangguk. "Ya, Pa."
"Dan ... aku menyayangimu, Nak."
"Aku tahu, Pa."
Telepon mati. Aku memandangi layarnya yang menghitam dan mengulangi kata-kata Papa. Dia menyayangiku. Sayang padaku. Sayang padaku, bukan hanya pada Dimens. Aku juga anaknya. Tapi kenapa tidak terasa seperti itu?
Soma menuntun motornya sendiri, menyejajarkannya dengan motorku lalu melambaikan tangan agar aku datang ke sana. "Siap?"
Aku mengangguk, memasukkan ponsel ke salah satu kantung depan di ransel, lalu menaiki motorku. Dia lebih mudah kubayangkan setelah kupikirkan selama dua hari penuh. Dia yang sekarang versus dia yang sebelumnya, dan itulah yang kumau. Dia yang sebelumnya, sebagai konsekuensi dari seandainya Mama tidak pergi lebih dulu meninggalkan kami. "Siap."
Punggung perbukitan membentang di belakang bangunan-bangunan bata gelap yang memiliki dua menara di kedua sisi. Bintang besar mengintip di belakang salah satu punuk bukit, tampak kekuningan dan agung. Jalan di depanku lurus, semakin kecil di kejauhan, diapit oleh halaman-halaman berumput yang mirip sekali dengan rumput jepang di Bumi. Aku dan Soma merapatkan diri, mengamati jalan batu berpermukaan lebar.
"Ini mungkin salah satu saudara kembar Bumi," katanya.
"Atau saudari kembarnya."
"Lihat penghuninya saja dulu."
"Sudah pasti manusia," jawabku. Aku memandang Soma, berusaha mengatakan bahwa inilah yang sudah kita tunggu-tunggu sejak awal. Aku akan mengunjungi keluargaku yang berbeda. Keluargaku di planet lain. Dan Soma mengangguk. Pikiranku terbaca.
Kami melangkah di jalan berbatu, melewati halaman bangunan demi halaman bangunan. Lampu di setiap menara menyala. Lampu. Aku mengeluarkan ponsel dari ransel dan menyalakannya, tapi benda itu tidak berfungsi. Sebenarnya aku sudah tahu, tapi tidak ada salahnya mengeceknya kembali, kan? Seluruh elemen di sini tampak seperti elemen di Bumi juga. Jadi kupikir serat optik, kelistrikan, gelombang radio, apa pun yang memungkinkan komunikasi modern di Bumi juga akan berguna di sini.
"Alam nggak akan membiarkanmu curang." Soma berkicau.
Perbukitan di seberang kanan sana dilimpahi cahaya keemasan bintang pusat yang mau tenggelam. Sisi gelapnya tampak dingin dan lebih hijau.
"... delapan juga, El!" Teriakan itu disusul bunyi pintu didobrak keluar. Kami memfokuskan tatapan pada sebuah bangunan bata putih di kiri kami. Tepian sisi depan persegi bangunan itu dicat cokelat kayu, menyerupai sebuah bingkai. Seorang laki-laki jangkung keluar dari pintu papan kayu dengan sebuah tabung di tangan kanannya.