Copy and paste aren't going to look precisely like this
Papa di dunia ini bernama Reiz dan dia mohawk sungguhan, bukan hanya sekadar menginginkannya. Dia menyewakan properti untuk pesta-pesta besar dan punya istri cantik yang pandai memasak. Dua menara di sisi rumah ini mereka niatkan untuk disewakan, tapi yang sudah siap baru satu, di sayap sebelah kanan. Aku dan Soma berpandangan. Mengenal keluargaku—tanpa aku—di dunia ini membuatku merasa tersentuh, tapi kami jelas tahu mereka tidak akan menerima jenis keanehan baru-sejam-yang-lalu-kulihat-mereka-ada-di-kamar-tapi-sejam-kemudian-mereka-sudah-menghilang-padahal-semua-pintu-tertutup. Aku berkeras kami akan mengambil kamar di penginapan milik Qula, tapi bersedia tinggal lebih lama untuk makan caria (semacam lobak, tapi punya rambut putih seperti jagung) pedas dan dan kanila (sejenis burung besar) panggang.
Hampir seratus tahun lamanya ketika Semwel muncul lagi dengan kompor barunya, yang tampaknya jauh lebih berat. "Rasgenya disewakan, bodoh sekali mereka. Padahal aku rela membayar dua juta jumb untuk jasa angkutan kompor itu."
"Jangan sebut mereka bodoh, El," mamanya memperingati, "bisnis peralatan masak mereka berputar dan menguasai pangsa pasar."
Semwel mendesah, melirik sofa abu-abu berkain kasar yang aku dan Soma duduki, lalu berputar ke arah bar. Dia merentangkan tangan ke balik lemari, tangannya panjang sekali sampai dia berhasil membuka pintu lemari gantung di dapur. Semwel mengeluarkan stoples kacang-kacangan dan memeluknya sambil bersenandung. Aku tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.
Senandung itu, yang dulu sering dia perdengarkan padaku saat mendesak kasurku di malam hari dan memaksa untuk tidur di sebelahku. Aku mengeraskan suara dan mengikuti pola ritmisnya. Punggung Semwel spontan menegak. Dia menolehku. "Itu baru rancanganku, dan hanya ada di kepalaku, bagaimana kamu bisa ...." Kata-kata apa pun yang mau diucapkannya tadi telah dia usir pergi dari kepala dengan menggeleng. "Siapa namamu?"
"Aku? Ma ... eh, Grasila."
Semwel menelengkan kepala. Tapi bukan hanya dia yang berkonsentrasi padaku. Mamanya berhenti mengaduk sesuatu di panci tinggi dan Reiz berputar setelah beberapa waktu memunggungiku untuk memanggang daging di tungku.
"Kenapa?" tanya Soma.
Aku berdeham dan membetulkan. "Maksud temanku, apakah ada sesuatu yang salah?"
"Tidak salah, tapi Mama dulu pernah mengandung adik perempuanku, dan kami memberinya nama Garsile."
Mulutku kering dan hanya terbuka tanpa mampu mengucap apa pun.
"Mungkin ... kalau dia ada di sini sekarang, dia akan secantik dirimu," kata Reiz, menyunggingkan senyum sendu yang memukulku telak karena senyum seperti itu mustahil bisa dimiliki siapa pun kecuali Papa. Papaku, Primus. Bahkan untuk ukuran Papa di dunia lain.
"Eh, galaksi kita ini ... bentuknya cakram, kan? Grasila, Garsile, mengingatkanku pada kata galaksi," aku tertawa, dan berharap tidak kedengaran kikuk, "apa nama galaksi kita? Bagaimana bisa aku lupa?"
"Galaksi apa siapa yang tahu?" Reiz tertawa sampai bahunya berguncang-guncang. Ketika dia kembali pada panggangannya, Semwel yang telaten menghadapiku.
"Aku juga tidak tahu, terserahlah kita tinggal di galaksi berbentuk cakram atau bebek. Aku cuma tahu kalau Hekdal Amosium terdiri dari lima planet dan hanya ada satu yang punya kehidupan, planet kita ini."
"Planet kita ini," aku mengulangi, "apa saja nama planet-planet di Heksal Posum? Eh, selain planet kita?"