Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #33

Wrong Figure

Is that really you who stands there?


Ceroboh sekali aku tidak membawa ponsel. Ponselku ada di kamarku dan dalam keterburuan, aku tidak sempat mampir ke sana. Berakhirlah emosiku yang menggebu-gebu dan timpang sebelah membawaku ke Jalan Kamboja Merah, berhenti di depan pom bensin yang suram dan berdebu. Aku tidak akan bisa bepergian tanpa Soma dan sekarang ini ... aku tidak tahu di mana dia berada. Mungkin di Manhattan, Mars, atau galaksi yang jaraknya milyaran tahun cahaya dari Bumi? Dalam perjalanan seperti itu, nomornya tidak pernah aktif.

Perasaanku mendesak untuk membelokkan setang motor ke kanan. Aku berkendara lurus sampai melewati jalan masuk Blindly Taste yang diapit gapura berbentuk limas dan dibangun dari tumpukan batang bambu hingga di bagian atasnya mencuat empat antena seperti tonggak tenda. Simpul itu menjaga lampion besar bulat pepat berlampu kuning. Blindly Taste. Aku pernah berjanji pada Duggan dan yang lain untuk berkunjung waktu libur, tapi aku tak pernah jadi melakukannya.

Motorku menepi di trotoar. Sekelompok remaja melangkah ke dalam restoran sambil tertawa-tawa dan saling merangkul. Lampion itu disusun dari tangkai-tangkai buah kelapa yang dikeringkan dan ditata di sepanjang jalan menuju gapura limas. Sebuah mobil hitam yang badannya berkilauan memantulkan cahaya lampu restoran membelok dan diarahkan untuk parkir di lapangan. Dua pohon palem berbatang gemuk tumbuh di lapangan itu, menjadi penanda alami garis parkir.

Selepas sore hari, Blindly Taste menjelma jadi restoran kekinian yang menjadi pusat menongkrong remaja, bukan sebuah rumah makan dermawan yang sering mengundang para sukarelawan untuk memasak bersama dan membagi-bagikan makanan pada orang lain yang membutuhkan.

Meski aku tahu fungsinya telah berubah di malam hari, aku tetap menarik gas dan mengarahkan setang motor ke sebelah kiri rumah kaca, di pojok lapangan parkir mobil, menjadikan motorku salah satu yang terparkir dalam satu barisan rapi motor-motor di sana. Aku menggantungkan helm di spion sambil memperhatikan suasana di dalam lewat dinding rumah kaca. Para pengunjung duduk di hadapan meja besi hitam berkaki melingkar. Vas bunga, display nomor, dan kotak lilin diletakkan di tengah meja. Pramusaji melenggak-lenggok untuk menghindari tabrakan dengan pengunjung yang berdiri menghubungi seseorang; pengunjung yang melangkah mencari meja kosong; pengunjung yang menuju kamar mandi atau memesan ke meja bar; meja-meja; dan tiang lampion di taman di balik rumah kaca.

Perutku belum merasa lapar, tapi aku terus bergerak di atas conblock menuju gapura limas. Seorang perempuan berambut pirang berjalan mundur sambil mengangkat kamera ke mata. Aku segera mendekat dan menyentuh punggungnya, khawatir dia akan menabrak gapura. Perempuan itu berbalik dan aku melihat Duggan tengah menatapku dengan mata birunya yang bagai safir.

Dia menunjukku dan tersenyum memarahi. "A-a," katanya, "right you visit me, true. But, don't you feel it's quite late? Like ... it's been a month since your last message."

Aku gamang, antara mau bicara atau balas tersenyum. Tapi Duggan sudah melepaskan kamera yang tergantung di leher dan menggandengku kembali ke arah jalan masuk. Kakiku menyapu rimbun tanaman yang menjorok ke atas jalan berbatu pantai. "Malam yang sibuk," lanjutnya dalam bahasa Inggris. "Banyak orang datang untuk merayakan hal-hal kecil ataupun besar. Tadi sebuah keluarga mengizinkanku memotret terrier yorkshire mereka yang berulang tahun. Rambutnya panjang sampai membingkai wajah. Imut sekali, Mats, tahu? Mereka memakaikan terrier itu baju berenda."

Mats. Mataku terpejam erat.

Kami melewati suatu ruangan berpintu ganda dari akrilik buram yang dibingkai cat cokelat tua. Ruangan di dalam berlampu kuning terang, tampak dari akrilik itu. "Ini," Duggan menunjuk pintu itu, "ada rapat perancangan dekorasi taman yang baru. Pemilik restoran, penanam saham, desainer senior, serta bocah yang menjual rancangan pintu masuk baru kepada pemilik restoran."

"Bocah?"

"Bocah." Duggan mengangguk. "Masih SMA, mungkin seumuran denganmu." Duggan sendiri seumuran dengan Dimens. "Kamu mau menunggu sebentar? Rapatnya sudah berlangsung sejak tadi. I'd highly appreciate it if you're willing to stay here, helping me direct the setting to take pictures."

Duggan tak butuh diarahkan. Dia fotografer andal yang tahu letak sesuatu sesuai porsi dan lebih senang mengambil gambar apa pun yang diinginkannya, tidak terpaku pada permintaan orang lain. Itulah sebabnya dia bukan fotografer panggilan, melainkan fotografer yang menjual lepas koleksi fotonya. Tapi aku mengangguk. Sementara ini aku tak punya tempat lain yang pantas untuk dituju.

Dia memasankanku frappe, sosis, kentang goreng keriting, telur scramble, dan lapis mocca untuk dessert. "Aku yang bayar, kemarin serial lanskap flora di musim kering negara tropis milikku laku oleh klien dari Belgia. Kamu boleh tambah es krim atau roti panggang sesukamu!"

Selagi aku makan, Duggan tak henti-hentinya berkeliling, mengajak beberapa pengunjung mengobrol, sepertinya menanyai momen yang sedang mereka rayakan dan meminta izin untuk memotret keramaian kecil itu. Dia berkeliling sendirian tapi tidak tampak kesepian. Tiba-tiba pipiku bergetar dan aku menahan sesak di dada. Dia akan cocok dengan Dimens. Keceriaan, kelincahan, sinarnya.

Aku mengusap wajah dengan telapak tangan, membersit ingus dengan tisu, lalu menoleh ke gapura limas. Soma berdiri di antaranya, tampak seperti satu kesatuan utuh yang tak akan mampu terpecahkan oleh gempabumi sekalipun.

Dia datang.

Lihat selengkapnya