Your emotion is creeping deep inside my pulse
Dia berkeras menyelamatkan maketnya sampai kami tiba di halaman parkir. Lindu menumpang taksi saat berangkat ke Blindly Taste karena tak ingin maketnya lecet sehingga presentasinya kacau. Dia ingin semuanya sempurna, seperti yang telah dilatihnya berminggu-minggu.
Soma marah padaku, aku bisa merasakannya. Panas di dadaku, gemuruh tak berkesudahan, dan selalu hanya ada luxvux merah darah yang menyala dalam kepalaku, menggantikan kedua mata datar Soma yang hampir selalu serius atau bosan.
Aku tidak mengerti mengapa aku merasa yakin kemarahan ini miliknya dan bukan milikku, seolah kami terhubung oleh sesuatu yang padat dan menegang di udara. Inikah yang disebutnya dengan pertalian batin? Dari segi mananya? Kami hanya teman, tidak ada hubungan darah sama sekali. Mungkin pertalian batin yang pernah dia jabarkan padaku tidak bergantung pada ikatan darah sama sekali.
Tapi aku pun tidak bisa mengabaikan pembelaan Lindu untukku setelah melihat kemarahan Soma yang terpancar melalui luxvux-nya.
"Kenapa nggak pernah mengatakannya padaku? Sapa saja aku, ajak aku ke kantin, atau mengobrolkan apa saja yang kamu suka padaku." Mengatakan ini pada orang lain membuatku merasa normal. Bahwa aku remaja utuh, sama seperti Lindu sendiri dan teman-teman di kelas kami.
"Aku senang asyik sendiri. Aku pikir kamu juga jago asyik sendiri. Aku nggak mau mengganggu orang lain walau aku nggak keberatan diganggu untuk suatu kepentingan mendesak. Aku senang kita berada dalam batas masing-masing, sendirian tapi berdua."
Walaupun berkontradiksi, tapi aku mengerti maksudnya. Dia mengajakku mampir untuk membeli teh susu boba berhubung tadi dia belum sempat memesan makanan di Blindly Taste. Lindu yakin mereka tidak akan mau menghubunginya lagi selepas pertengkaran yang dia gagas tadi. Dan dia masih merasa berat karenanya. Maketnya berada di antara kami. Sekarang dia bangkit, menendang-nendang kecil ke depan dan ke belakang, lalu berlari kencang ke samping dan menendang kuat-kuat sampai rasanya dia hampir jungkir balik. Lindu mengempaskan napas kasar dan berbalik lalu menghampiriku lagi, yang duduk di anak tangga tribun semen teratas. Tiga remaja sedang berseluncur dengan papan skate mereka di arena bawah sana.
"Aku nggak tahu kalau kamu selama ini merasa dikucilkan. Bodoh sekali, kan? Duduk di sebelahmu, tapi nggak kenal kamu."
Dia mungkin melakukan lebih baik dari diriku sendiri selama ini. Aku menggeleng. "Nggak bodoh," kataku, tapi tak tahu lagi bagaimana melanjutkannya.
"Aku kepingin mengenalmu, tapi kamu kelihatannya nggak suka orang lain terlibat dalam hidupmu. Kamu tertutup, begitu kata teman-teman di kelas. Tapi kemudian ada bocah itu, dan kamu berubah jadi lebih bahagia. Padahal kupikir sebelumnya kamu sudah merasa cukup. Sial, bagaimana orang bisa sesalah itu, sih?"
"Sudah, Lindu. Aku bersedia ikut denganmu bukan untuk mendengar penyesalan-penyesalanmu."
"Iya. Kita pergi untuk menghindari bocah itu."
"Namanya Soma."
"Apa kamu lihat tadi ...? Eh, aku ...." Lindu langsung menggeleng dan membungkuk untuk merampas kembali minumannya yang pasti sudah tidak manis lagi. Sarinya berpisah dari air dan semua es batu telah menyatu dengan air. "Pasti perasaanku saja."
Nggak, aku ingin memberitahunya. Memang begitulah Soma, tapi itu bukan suatu keanehan. Dia mengambil suatu material dari sebuah planet bernama sesuatu yang berkombinasi dengan angka, material itu disebut luxvux, material yang sebenarnya bisa dibuat di Bumi, hanya saja seluruh unsurnya terpisah secara kompleks. Itu material yang canggih. Yang aneh adalah Soma bisa berteleportasi jauh sekali ke galaksi-galaksi lain.
"Jangan antar aku pulang, ya? Biar aku yang antar kamu pulang, lalu aku pesan taksi saja supaya maketku nggak berantakan."
Terlepas dari renunganku soal Soma, aku tertawa. "Bolak-balik, terlalu repot. Lagi pula, aku nggak akan pulang malam ini." Aku mendongak pada langit biru yang gelap tapi cerah berbintang. "Ada masalah keluarga."
"Keluargamu nggak akur? Karena kakakmu ODHA?"
Aku tidak biasanya mendengar orang lain seterus terang itu, bahkan Soma sekalipun. "Ya."
"Kamu tersinggung aku blak-blakan?"
"Oh, nggak, nggak." Anehnya, dia malah terasa akrab, seolah mengonfirmasi pernyataan bahwa dia memperhatikanku. Hari itu Lindu juga blak-blakan seperti ini dan hari itu rasanya dia seperti menyerangku, tapi malam ini rasanya seperti sedang bertukar cerita apes.
"Aku nggak bisa mengajakmu pulang ke rumahku—"
"Nggak, Lindu, aku nggak memintamu ...." Aku mengibas-ngibaskan tanganku. Roda papan skate di bawah menggelinding di atas silinder besi. Anak-anak itu berseru untuk menyemangati teman mereka.
"Kami hidup sendiri-sendiri di rumah. Terpecah belah, seperti anak-anak kos sebeban tapi nggak sepenanggungan. Ayah kami punya pacar sepeninggal ibu kami yang jadi TKW di Taiwan tapi memutuskan untuk nggak kembali lagi ke sini. Tiga anak Ayah mengikuti jejak Ayah untuk hidup seperti orang yang nggak memiliki keluarga. Aku yang bungsu. Kakak perempuanku yang pertama bekerja di Starbucks. Kakak laki-lakiku punya bisnis sewa peralatan multimedia dengan sebelas temannya. Dan aku dipaksa hidup mandiri juga, jadi aku kerja serabutan jadi apa pun."
Aku menunduk, tertarik mengamati daging yang akan memutih di kukuku kalau aku menekannya. Berulang kali kulakukan sampai kusadari bahwa situasi dalam rumahku jauh lebih baik dari miliknya. Aku punya uang yang diberikan Papa, bekal makanan yang dibuatkan Buk Laras. Ketika sebutir air mata jatuh ke tanah, aku langsung mengerjap panjang dan mengusapkan wajah ke lengan kaus berwarna khaki-ku, tidak mau Lindu melihatnya dan berpikir aku mengasihaninya.
"Mengajak seseorang pulang berarti menanggung kehidupannya juga. Bukannya aku nggak mau, Matra, aku cuma nggak tahan memikirkan kamu akan bertandang ke wilayah paling egois di dunia."