Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #36

Wrong Vision

I lose the ability to distinguish reality and imagination


Aku mengirim pesan singkat pada Mily untuk mengabarkan bahwa aku ikut pulang bersama Papa, sedangkan motorku yang ada di rumahnya akan segera kuambil. Dan untuk pesan berikut, aku mengirimnya pada Lindu, memberitahunya bahwa masalah sedang dalam proses penyelesaian. Lindu langsung membalas. Dipanggil pemilik Blindly Taste jam delapan malam. Aku memberinya emotikon api. Pikiranku berganti pada Soma .... Aku tidak sempat sama sekali menoleh ke arah lapangan parkir walau aku tahu dia pasti berdiri di sebelah motor hitam besarnya karena tidak menemukan motorku.

Papa kembali ke showroom. Buk Laras setengah tertidur di sofa, sepertinya tidak bisa berhenti memikirkan cerita Dimens yang sampai merecoki mimpi-mimpinya. Tapi Dimens ada di atas, kembali bertapa di menaranya. Di dunia lain, dia menyewakan dua menara itu pada para pendatang di pulau tempatnya tinggal. Di sini, dia kelihatannya nyaman sekali sampai-sampai tak pernah sudi meninggalkannya.

Kecuali tadi.

Hanya untuk memberi penjelasan pada kami. Dendamku berubah arah dan ketika sadar terhadap siapa dendam itu mengarah, aku langsung membenci diri sendiri yang tak pandai menempatkan diri. Aku tidak boleh membenci orang yang telah meninggal. Tapi seandainya saja Emily mau lebih dermawan. Atau Dimens mau lebih ... teguh pada pendiriannya untuk menghargai Emily alih-alih memasrahkan diri terhadap situasi.

Kembali ke kamarku lagi, aku melemparkan diri ke kasur yang dingin. Sepertinya Buk Laras baru mematikan pendingin ruangan di kamar ini saat mau berangkat ke sekolah menjemputku. Mungkin tadi malam dia berharap aku pulang. Dadaku seperti ditusuk rasanya. Aku menyentak tubuh hingga duduk dan memegangi kerah kemeja Mily yang mendadak terasa kekecilan.

Soma. Kemarahannya membuas lagi. Dia menungguku dan berpikir aku akan kembali untuk setidaknya berpamitan padanya. Aku bernapas terengah-engah, menyangga dahi dengan telapak tangan dan mengusap wajah. Kita mungkin baru bisa bicara besok, Soma. Siang ini lelah sekali rasanya. Kakakku baru saja menceritakan segalanya dan aku harus memikirkan banyak hal.

Rasa ngilu itu berangsur pudar. Aku segera melepaskan kancing teratas kemeja dan kembali berbaring di atas kasur. Kamar Dimens terdengar tenang seperti biasanya, meski aku tahu perasaannya gelisah bukan main saat ini. Dulu Buk Laras dan Papa mati-matian membujuknya untuk mau mengobrol dengan mereka agar dia tidak merasa kesepian. Dan sekarang semuanya jungkir balik, bahkan dalam sekejap. Mataku perih, pelupuknya terasa berat.

Saat berikutnya, aku terbangun oleh rasa lapar yang seperti menggenang di atas perut. Aku mengganti kemeja dan rok abu-abu dengan sweter longgar dan celana pendek berbahan baby terry lalu keluar kamar. Tercium aroma rempah-rempah dan saus dalam kadar yang agak banyak. Buk Laras memegangi tangkai wajan dan mengaduk nasi di atasnya sampai wajan itu berkali-kali menampari kompor.

"Buk Laras?"

"Sebentar lagi matang," jawabnya. Tapi tidak ada senyum dalam suaranya. Sudah lama sekali sejak Buk Laras terakhir kali memasak nasi goreng. Masakan sesimpel itu tidak menantang baginya. Aku langsung maklum mengingat percakapan kami siang tadi. Nasi dipindahkan ke dalam mangkuk kaca bening besar. Dia membuka laci bawah sampai rodanya menggelinding keras sekali di rel. Aku sempat melihat laci itu melompat keluar, tapi Buk Laras tanggap mendorongnya kembali ke dalam. Peralatan makan khusus untuk Dimens terbanting di atas meja marmer. Aku meringis.

"Buk Laras, aku akan mengambil makanan untuk kami." Dia tidak berhenti, jadi aku menghampiri dan menyentuh lengannya dengan hati-hati. "Buk Laras bisa beristirahat." Sejenak, cuping hidungnya mengembang dan mengempis. Lalu Buk Laras melengos dari dapur, menuju kamarnya yang ada di sudut depan tanpa mengatakan apa pun.

Aku menyendok nasi goreng ke piringku sendiri sebelum mengangkat nampan ke lantai dua. Dimens membuka pintu dengan gerakan kikuk dan agaknya terkejut melihatku di balik pintu. Aku tetap menahan nampan berisi sepiring nasi goreng, dua mangkuk mungil tempat acar dan kacang polong, dan sebotol mayones, ketika dia menarik nampan itu.

"Dia masih marah?" tanyanya.

Aku mengangkat bahu. "Kamu mengharapkan apa? Buka pintunya lebih lebar supaya aku bisa menaruh nampannya di mejamu."

Dimens butuh waktu lebih dari sepuluh detik untuk melakukan permintaanku. Dia lalu duduk di kasur dan mengangkat piring, mulai makan. Aku menuju rak bukunya di hadapan kasur, menelusuri punggung-punggung buku yang dia kelompokkan sesuai ilmu bidang dengan telunjuk. Rasanya seperti sedang memilih buku di toko. Dinding di belakang rak itu dipasangi tapestri hitam bermotif kemudi kayu kapal. Karena Dimens tinggi, dia bisa memasang berbagai memo acara online, catatan dari buku, kutipan, gambar-gambar kasar, dan lirik lagu ataupun kunci gitarnya ke tapestri itu dengan pin. Matras yoga dibentangkan di antara rak buku yang memenuhi setengah dindingnya dan kasur. Komputer, pengeras suara, tatakan kertas, dan bingkai foto Mama diletakkan di meja rak sebelah kiri kasurnya.

"Semua paket yang datang, makin banyak buku sainsnya," kataku sambil melangkah ke nakas, tempatku meletakkan nampan. Aku mengambil kotak kacamata di sana dan membukanya. Ada kacamata berbentuk kotak yang tangkainya berwarna seperti uang koin seribuan. Aku memakainya. Dimens rajin sekali mengusap lensanya sampai dunia tampak lebih jernih jika dilihat dari kacamata ini.

"Itu untuk filter sinar biru dari gawai. Nggak terlalu berpengaruh kalau untuk jalan-jalan di pantai."

"Bisa buat bergaya."

Lihat selengkapnya