Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #37

Wrong Fright

We should have felt this relieved a while ago, shouldn't we?


Soma pasti memiliki penjelasan. Pom bensin itu memang tampak seperti gudang yang usang selama ini; aku penasaran kenapa mereka membuka tanpa memugarnya kembali. Aku pernah menanyakannya pada Soma, tapi dia menjawab segalanya seolah tidak ada masalah apa pun dengan itu. Soma, Soma, Soma ....

"Kamu mau aku menendang tutup sengnya dan bikin trek balap di sana?"

Aku masih bersama Lindu di seberang telepon, hampir saja melupakannya. Aku memejamkan mata, tersenyum, dan mendengus. "Nggak. Cuma heran karena pom itu ditutup tanpa kelanjutan apa pun."

"Kalau aku jadi presidennya, semua pom bensin tutup akan kujadikan trek balap." Tidak heran Mily senang memarahinya.

"Semoga desainmu laku dan karena itulah kamu dipanggil."

"Semoga begitu."

Aku mengunci layar ponsel setelah mematikan telepon. Sisi kasurku bergerak, jadi rendah di suatu sisi, dan saat melihat sepasang kaki berbulu terbuka di atas lantai, aku menjerit sekeras-kerasnya. "Matra! Hei, hei!"

Kaki itu berasal dari tubuh yang lengkap. Sepasang tangan diulurkan kepadaku, ditutupi lengan hoodie hitam yang dikenakan Dimens. Tatapannya yang nyalang, nyaris panik, diarahkan padaku. "Kenapa? Kenapa berteriak?"

"Aku pikir ... aku baru lihat kaki berbulu milik ... hantu." Jantungku berdetak seolah dia bisa membengkak sebesar tubuhku setiap kalinya, memakan paru-paru hingga aku kesulitan bernapas.

"Kenapa bisa kepikiran sama hantu?"

"Karena gimana aku tahu itu kamu! Kupikir aku sendirian di kamarku."

"Pintunya nggak kamu tutup." Meskipun kututup, aku yakin Dimens berani membukanya sekarang. "Jadi gimana? Temanmu bilang tutup, kan? Kenapa kamu bilang pom bensin itu buka, kalau gitu?"

"Karena memang buka, Kak Dim." Aku mengernyit dengan merana. Bagaimana caraku menjelaskan dari awal? Aku mendatangi pom bensin hantu, begitu? Tidak, kan? Aku harus berbicara dengan Soma dulu karena aku yakin hanya dia yang bisa menjawab pertanyaanku. Apakah aku harus menghubunginya? Atau harus menunggu sampai besok? Dimens membiarkanku berpikir sambil duduk di kursiku.

Getar ponsel di genggamanku membuatku berjengit sampai hampir melemparkannya. Kenapa aku mudah sekali terkejut baru-baru ini! Ah! Pesan masuk dari ....

Aku di luar rumahmu.

Apa? Di luar rumahku? Tapi aku tidak pernah memberitahunya .... Aku memandang Dimens sebentar, sebelum bergegas membalas pesan. Bukankah aku nggak pernah memberitahumu rumahku?

Ya. Tapi aku tahu karena kamu sedang memikikirkanku.

Kulitku meremang lagi. Dia bisa menemukanku saat aku terdampar di Papua Nugini. Menemukan rumahku di Bumi baginya hanya seperti berkedip.

"Matra?" panggil Dimens. Aku mulai mondar-mandir dari dinding dekat pintu ke kursi meja belajar. "Kenapa?"

Kalau aku menceritakannya pada Dimens, aku hanya akan membuatnya ketakutan. Belum tentu dia akan percaya sekalipun dia ingin. Soma tidak akan menerobos masuk ke rumahku begitu saja, kan? Aku mengetik di layar ponsel. Masuk aja kalau gitu, kamu bisa langsung berpindah ke sini, kan?

Nggak bisa di ruang tertutup, balasnya.

Semua napas yang tertahan di dadaku langsung membanjir keluar. Sesaat setelahnya aku merasa bersalah. Kalaupun dia masuk, kenapa memangnya? Dia adalah Soma, temanku. Aku berkelana dengannya setahun ini. Tapi pom bensin yang sebenarnya tutup dan luxvux yang berkilau merah?

Apa yang membuatmu kemari? tanyaku lewat pesan pada Soma.

Kamu memikirkanku, kupikir kamu butuh bantuan?

Nggak, aku akan menemui besok, Soma. Ada suatu insiden, Papa marah besar dan sebaiknya aku nggak keluar rumah hari ini. Aku tidak menceritakan kebohongan total, hanya setengahnya, di bagian takut Papa marah besar padaku. Masalah pom bensin bisa kutanyakan besok saja.

Lihat selengkapnya