I used to assume everything—every single thing—was going to be alright
Sebelum pulang, aku meminta bantuan Soma untuk mengantarku ke rumah Mily untuk mengambil motorku. Mily dijemput oleh papanya yang menggunakan jam istirahat di kantor untuk mengantarnya pulang. Mereka berkendara di depan kami. Pesan Lindu sampai waktu aku turun dari motor Soma dan Mily sedang membuka gerbang. Hubungi aku kalau dia bersikap aneh. Tapi aku dan Soma sudah melakukan puluhan perjalanan dan tak sekali pun dia pernah bersikap aneh. Lindu masih mengkhawatirkan luxvux merah Soma, dia melihat itu dengan kedua matanya sendiri, aku mengerti. Tapi sejauh ini, luxvux itu tidak berbahaya.
Mily memandangiku mengeluarkan motor dari garasinya sambil memasang tampang cemberut, setengah merengut untuk menampik cahaya siang karena dia berdiri di bawah perbatasan bayangan kanopi rumahnya dan langit. "Kapan mau menginap lagi?"
"Kapan-kapan, Mily, tapi aku pastikan, akan menginap bukan karena punya masalah dengan keluargaku."
Mobil papanya memutar balik di percabangan gang, lima rumah jauhnya dan sekarang sedang melaju ke arah kami. Klakson dibunyikan waktu mobil melewati rumah. Mily mengangguk padaku. "Hati-hati di jalan, Matra." Dia menatap Soma dan tersenyum. "Kamu juga."
"Soma." Soma memperkenalkan diri.
"Di kelasnya Karina Lestari?" tanya Mily. Soma mengangguk. "Kalian hati-hati, nanti hubungi kalau kamu sudah sampai rumah, Matra."
Aku dan Soma berpisah jalan di perempatan pom bensin kami. Aku membelok ke arah Blindly Taste untuk mampir ke pasar ikan di selatan dan dia melaju lurus. Hewan laut berukuran besar ditempatkan dalam boks putih dan ditata di bawah atap-atap seng yang ditegakkan oleh pilar beton. Tanah dilapisi semen kasar yang ditumbuhi lumut di bawah meja berlapis seng. Keranjang plastik mewadahi kerang, udang, dan kepiting berbagai jenis di atas meja. Aku memilih kerang bambu, scallop, oyster, kerang hijau, dan kepiting. Total kelimanya seberat 3,5 kg.
Langit berwarna jingga terbakar sekeluarku dari pasar ikan dengan kantung plastik hitam. Aku menggantungnya di motor setelah berjalan di lorong-lorong licin berbau amis dan asin. Pintu rumah terbuka sewaktu aku memarkir motor di garasi. Dimens keluar dan merentangkan tangan di teras. "Pesananku?"
"Lengkap."
Dia meraih kantung plastik belanjaan. "Scallop berapa kilo?"