Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #40

Wrong Place

Caught, helpless; I'm just nobody


Sesuatu melayang menyentuh puncak kepalaku. Aku bergolek ke samping dan merentangkan tangan, menyentuh sesuatu yang keras, tajam, dan dingin. Jauh dan dekat, di atas sana, aku memandangi langit hitam. Badai sudah berhenti, pikirku, sebelum benar-benar mendengarkan gemuruh yang bergulung-gulung di dekatku, seperti dengkur raksasa yang tidur di balik bukit. Aku tidak tahu rupanya, aku hanya kenal suaranya.

Lalu aku melihatnya. Melayang dan berbenturan satu sama lain. Batuan cokelat, serpihan, sebesar kepalan tangan, sebesar kepala manusia, sebesar truk. Mereka bergerak, sama sepertiku.

Mereka bergerak. Batuan cokelat sebesar truk. Dan ... ludahku serat di tenggorokan. Sebesar rumah. Aku membeliak, spontan meraih-raih ke belakang, berusaha mencari tumpuan untuk duduk ataupun berdiri. Pada kenyataannya, aku sedang melakukan semuanya sekaligus kalau arah tidak menjadi tolak ukur kegiatan. Karena aku sedang melayang seperti mereka.

Jantungku menjelma jadi salah satu batu itu, menggebuk dada. Satu pukulan, dua, tiga, empat, lima. Aku berusaha menarik napas begitu melihat kehitaman tak berujung di luar sana. Jauh dan dekat di atasku. Aku di antara keduanya. Aku bergabung bersama mereka.

Aku masih bisa bernapas.

Bensin membantumu beradaptasi di tempat itu, Kak Matra.

Air mataku luluh lantak mengingat wajah oval berahang lancipnya. Dia bukan manusia. Aku tak tahu dia apa. Dia telah mengirimku ke sini, terapung-apung di bawah ... batu seukuran beruang menyenggol tubuhku. Aku akan terguncang, seluruh organ akan saling bertabrakan di dalam tubuhku, seperti batu-batu itu.

Tapi aku hanya berguling hingga tampaklah keagungan alam semesta dalam bentuk benda besar. Besar sekali hingga ketika aku mendongak, puncaknya masih juga tak kelihatan. Benda itu tampak seperti kabut yang memadat ke dalam satu titik secara simetris, membentuk sesuatu seperti bola.

Kamu akan selalu bisa bernapas selama bensin dalam tubuhmu belum habis. Bensinlah yang akan melakukan filter atmosfer, memastikanmu menghirup udara segar, merasakan benturan dalam kekuatan yang masih bisa diterima tubuhmu. Bensin memastikanmu hidup.

Batuan itu menabrakku, tapi tak akan membuatku mati selama kandungan bensin dalam tubuhku belum habis.

Lihat selengkapnya