Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #42

Wrong Tale

We're heading to the edge, brother


Aku menggeleng. Kalau pertalian itu tidak begitu kuat, aku tidak akan sanggup menjangkau raga Dimens sepenuhnya. Sekarang aku mengerti bahwa lemahnya pertalian batin pastilah disebabkan karena salah seorang merasa tidak rela harus menanggung jiwa orang satunya dalam raganya. Dimens ... aku menyayangimu, Kak Dim.

Darahku mendidih, mendesing di kedua telinga. Tapi aku memasang senyum, sementara tanganku yang berada di sisi tubuh mengepal erat. "Ke mana kamu akan pergi setelah ini?"

Pintu-pintu kelas terbuka. Di belakang kami, Lindu dan Pak Satpam masih terus memperdebatkan argumen masing-masing. Guru-guru akan keluar dari kantor. Semakin banyak saksi, semakin banyak yang menghalangi kami.

Aku bisa merasakannya. Kami mendekati akhir jika aku tidak bergerak dengan segera. Saat ini mungkin sudah pukul sembilan. Aku tidak mengerti bagaimana bisa cadangan bensin di tubuhku jauh lebih banyak daripada biasanya. Saat ini seharusnya tubuh tereksposeku bisa saja sudah dihajar langit. Apakah aku berhasil bertahan sejauh ini karena pengaruh pertalian batin di antara aku dan Dimens? Atau karena "pergi" dalam konteks Soma berarti bekal? Lebih banyak bahan bakar dari ukuran "pulang-pergi" normal?

Soma terlihat tidak gentar oleh gangguan di sekitar kami. "Ke mana pun yang kumau, selalu ada orang-orang sepertimu yang menginginkan rumah baru. Yang hatinya telah digusur dari rumah lama. Aku tidak akan membiarkannya bernasib serupa Paricakra. Aku akan memberinya rumah baru agar dia tidak perlu terus berkelana."

Tanganku yang berada di kerah kemejanya mengayun ke atas, menghantam dagunya hingga kami mendengar bunyi benturan gigi-giginya. Seseorang menjerit. Lalu seorang lagi. Rantai jeritan itu memekakkan telinga, tapi malah membuat hatiku mengeras.

"Kak, Kak, beri tahu apa yang harus kulakukan," pinta Lindu, sepertinya sudah tak lagi mampu berdebat dengan orang-orang yang ingin menjangkauku dan Soma.

"Keluarkan motor Soma dari parkiran, Lindu, motor sport hitam. Nomor platnya 5034 ADI."

"Oke."

Soma melangkah mundur, tapi aku segera meraih kepala belakangnya dan meraba kantung celana abu-abunya untuk mengeluarkan kunci tanpa gantungan lalu melemparkan kunci itu pada Lindu. Helai-helai rambut Soma kuremas dan kujambak sampai tanganku gemetaran. Tubuh fananya jelas tidak bertenaga bila dibandingkan dengan tubuh Dimens. Dimens memang semakin kurus, tapi otot-ototnya terjalin saling menguatkan. Soma tak mampu terus-terusan menahan tarikanku. Kepalanya semakin rendah hingga tubuhnya menggelepar di tanah. Aku mendengar kegemparan di sekelilingku, yang berbaur seperti derum kendaraan di kejauhan.

Dia punya suatu kekuatan yang sanggup membinasakan kami semua, tetapi kenapa tidak menggunakannya? Seperti yang dia gunakan terhadapku semalam.

"Tunjukkan pada kami bahwa kamu bukanlah manusia, Soma."

Walau tampak seperti boneka seret, dia malah menyeringai seperti hewan buas. "Persepsi orang sangat memengaruhi, manusia sepertimu tak akan mengerti," katanya terengah-engah. Dia berusaha mengusap darah di bibir, tapi aku menyentakkan tangannya menjauh dari kepalanya. "Semua itu tergantung cara mereka memandangku. Kekuatanku hanya akan muncul di depan orang-orang yang mempercayaiku. Dan di sini, ada lebih banyak orang yang tidak mempercayaiku. Sekarang kamu tahu betapa bodohnya dirimu, kan?"

Tangan-tangan berusaha menarik tubuhku menjauh dari Soma, tapi mereka semua tak tahu bahwa dialah yang paling kuinginkan di alam semesta ini.

Lihat selengkapnya