malam pun tiba, gua berjalan ke arah meja makan, terlihat wajah terkejut dari ayah dan mas danu, bella dan bunda tampak senang mihat gua bergabung, gua duduk di samping bella, "mulai sekarang bangku kosong ini akan selalu terisi lagi, oleh abang" kata kata yang keluar dari nyokap.
semuannya terdiam, sampai akhirnya bunda mulai membagikan makanan untuk para anaknya, kitapun makan bersama, hening, sampai makanpun selesai, dan ayah tiba tiba membuka obrolan dengan bertanya ke gua, "selama ini, hal beguna apa yang kamu lakuin" tanya ayah kepada gua, guapun menjawab pekerjaan gua yang serabutan itu, dan impian gua menjadi musisi.
namun semuanya seakan tak berarti di mata ayah, "musisi, itu hanya omong kosong, cari kerja yang bener, mau jadi apa kamu di masa depan nanti, kalau cuman luntang lantung gak jelas seperti ini" cerca ayah tentang pekerjaan dan impian gua.
gua hanya terdiam, sampai akhirnya mas danu, menambahkan bumbu kebencian kepada gua, "ya begitulah yah, kalau terlalu ngikutin ego, jadi musisi, dia sama band nya ajah di keluarin, sekarang band nya udah besar, berarti ada yang salah dengan dia yah" tambah mas danu, gua hanya tertunduk bingung, makan malam untuk pertama kalinya lagi, yang gua harap indah, malah menajdi interogasi kehidupan gua.
"terbuktikan, kamu masalahnya, lagian susah juga, mau kerja apa, gelar juga cuman sampai SMA, di tambah sekarang badan penuh tato, perusahan mana yang mau memperkerjakan orang seprti kamu, jadi OB pun gak bakal keterima kamu", ujar ayah, seakan menusuk jantung gua.
"maaf aku yang kaya gini, sebenernya, saya ingin sekali kuliah pada waktu itu, tapi tidak ada satu orangpun, yang menanyakan saya ingin kuliah dimana, saya seperti ini, mungkin ayah lupa, saya kehilang suport dari orang tua, dari semenjak saya kecil, mungkin ayah melihat saya hanya orang lain" kata kata gua keluar begitu saja dari mulut gua.
"satu hal lagi, keinginan apapun yang di inginkan oleh mas danu, dan bella, ayah selalu mendukung, sedangkan saya, belum sempat mintapun ayah sudah memalingkan muka, saya iri yah pada waktu itu, mas danu dan bella kuliah di unversitas ternama, bahkan sampai detik ini, saat ayah memberikan mobil kepada mereka, memberikan kemewahan kepada mereka, saya bahkan untuk membeli motor tua saja harus banting tulang" sambung gua.
gua pun berdiri dari kursi, gua melihat bunda dan bella tertunduk seakan kata kata gua adalah kebenaran yang selama ini mereka lipat dalam dalam di hati mereka, "satu hal lagi, apa yang tadi saya ucapkan, semuanya telah berlalu, kalau saya boleh jujur, saya bangga dengan keluarga ini, semua yang ada di meja ini, sukses dengan hidupnya, sayan berharap suatu saat nanti, kalian tidak merasakan hal yang begitu menyakitan di hidup saya, yaitu, KESEPIAN, maaf jika saya menggangu maka malam kalian, saya tidak akan mengulangi nya lagi, dan maaf bun, sepertinya saya tidak akan duduk di kursi ini lagi, makasih buat kesempatanya" kata kata terakhir gua.
bunda sempat menggenggam tangan gua, gua balas dengan senyuman, dan bilang saya harus pergi, karena ada janji, untuk ambil motor di bengkel, guapun pergi meninggalkan mereka.
gua berjalan keluar dari komplek gua menaiki busway, yang tujuanya entah kemana, di dalam busway gua hanya mencoba menahan kesedihan, langit mulai mendung, ternyata tujuan busway ini, ke blok m, dan guapun berjalan di sepanjang jalan blok m, gerimis mulai turun, dan guapun melipir di sebuah restoran cepat saji, gua duduk di tengah kerumunan manusia, pelayan datang, gua memesan sebuah makanan dan minuman, gua perhatika sekitar, orang orang tertawa dengan, keluarganya, dengan pacarnya, dengan teman temanya, hujan semakin deras, begitupun dengan air mata gua yang sudah tidak terbendung.
POV, BUNDA DAN AYAH.