Layar ponsel pintar berukuran 6,1 inci itu memantulkan wajah Rian yang kusam. Lingkar hitam tebal mengelilingi kedua matanya, menegaskan betapa sedikitnya waktu tidur yang ia dapatkan selama satu minggu terakhir. Di sudut kanan atas layar, sebuah angka berwarna merah menyala seolah mengejeknya tanpa henti: 5 Viewer.
Dari lima penonton itu, Rian yakin tiga di antaranya adalah akun bot spam judi online, satu adalah temannya sendiri yang ketiduran sambil menyalakan ponsel, dan satu lagi mungkin orang asing yang tidak sengaja memencet live streaming-nya.
"Ayo guys, jangan lupa di-like dan di-share ya. Kalau tembus seratus viewer malam ini, gua bakal nyanyi lagu permintaan kalian," suara Rian terdengar parau. Ia berusaha tersenyum seluwes mungkin di depan kamera murah ponselnya, walau senyum itu terasa sangat dipaksakan.
Ruang kamar kontrakan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa amat menyesakkan. Kipas angin tua di sudut ruangan berderit keras, meniupkan hawa panas yang makin membuat kepala Rian pening. Di atas meja lipat kayu yang mulai lapuk, menumpuk dua bungkus mie instan kosong dan tiga botol air mineral bekas.
Sebuah notifikasi perpesanan mendadak muncul di layar atas. Notifikasi dari bapak kos: Rian, besok pagi kalau uang sewa bulan ini dan tunggakan bulan lalu belum masuk ke rekening Bapak, kunci gembok kamar kamu bakal Bapak ganti. Jangan salahin Bapak kalau barang-barang kamu terlempar di pinggir jalan.
Rian menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Saldo di aplikasi m-banking miliknya saat ini hanya tersisa lima belas ribu tujuh ratus rupiah. Tak cukup bahkan hanya untuk membeli satu porsi nasi goreng di depan lorong kontrakan.
Mencoba keberuntungan menjadi streamer horor dan misteri adalah keputusan ternekat yang pernah diambil Rian. Ia tergiur cerita sukses beberapa streamer ternama yang bisa mengantongi puluhan juta rupiah hanya dalam semalam dengan bermodalkan nyali berburu hantu di tempat-tempat angker. Namun realita menghantamnya telak. Tanpa modal promosi, tanpa peralatan kamera mahal, dan tanpa koneksi, Rian hanyalah satu dari ribuan streamer kecil yang tenggelam di dasar algoritma platform.
"Mungkin emang udah waktunya gua berhenti," gumam Rian pelan, hampir tak terdengar oleh mikrofon ponselnya. Tangannya bergerak mendekati tombol merah untuk mengakhiri live streaming night hunt-nya yang gagal total.
Namun tepat sebelum ujung jarinya menyentuh layar glass retak itu, ponsel Rian mendadak bergetar hebat.
BIP! BIP! BIP!
Suara efek khusus notifikasi donasi menggema sangat keras dari speaker ponselnya. Bukan suara lonceng standar yang biasa terdengar, melainkan suara dentang lonceng kematian yang amat melengking dan berdengung di telinga.
Layar ponsel Rian mendadak berubah menjadi warna merah darah. Sebuah kotak dialog besar muncul melayang di tengah-tengah siaran langsungnya.
[ @KamarMati telah mengirimkan Donasi sebesar Rp 10.000.000,- ]
Mata Rian membelalak sempurna. Ia sampai refleks berdiri hingga kursi plastik yang didudukinya terdorong ke belakang dan jatuh menghantam lantai.
"Sepuluh... sepuluh juta?!" bisik Rian dengan napas tertahan. Ia menggosok matanya berkali-kali, berpikir bahwa kelelahan telah membuatnya mengalami halusinasi parah. Namun angka delapan digit itu tetap bertengger di sana, bersinar terang dengan latar merah menyala.