Donasi @Kamar Mati

kholid alamsyah
Chapter #2

Chat Anonim yang Tahu Masa Lalu

Layar ponsel Rian memantulkan cahaya putih samar yang bergetar hebat. Ribuan pesan di kolom komentar bergerak begitu cepat hingga tampak seperti garis-garis teks yang melompat tanpa henti. Semua pesan itu memuat deretan huruf yang sama persis: 'SELAMAT DATANG DI KAMAR 13.'

Bulu kuduk di sekujur tubuh Rian berdiri tegak. Udara malam di dalam Kamar 13 terasa sangat mencekam, membekukan helai napasnya menjadi kabut tipis setiap kali ia mengembuskannya. Rasa dingin itu tidak terasa seperti suhu malam biasa; ada aura mistis menyengat yang seolah menusuk langsung hingga ke dalam tulang sumsumnya.

Rian menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering seperti pasir. Ia memegang erat gagang tongsis di tangannya, berusaha keras menyembunyikan getaran hebat pada jarinya agar tidak terlihat terlalu jelas di kamera.

"O-oke... guys..." suara Rian terdengar bergetar parau. "Terima kasih buat sepuluh ribu viewer yang udah gabung. Gua... gua udah ada di dalam Kamar 13 sekarang."

Senter kecil di atas ponselnya mengarahkan berkas cahaya kekuningan menyusuri setiap sudut ruangan. Kamar 13 tidak terlalu luas, sekitar empat kali lima meter. Di sudut kiri, terdapat sebuah tempat tidur kayu tua dengan kasur kapuk yang sudah robek dan menghitam. Busa dan serat kapuknya terurai keluar seperti isi perut yang terburai. Di dinding bata atas tempat tidur, ada bekas bercak hitam keabu-abuan yang menyerupai jejak jelaga bekas terbakar.

Di tengah ruangan, ada satu meja belajar kayu dengan cermin retak di atasnya. Cermin itu begitu kusam dan tertutup lapisan debu tebal, hingga tidak lagi mampu memantulkan bayangan dengan jelas. Dan tepat di sudut kanan ruangan, berdiri sebuah lemari pakaian dua pintu dari kayu jati tua yang dilapisi ukiran-ukiran pudar. Lemari itu terkunci rapat dengan sebuah gembok besi besar yang sudah berkarat.

Mata Rian kembali melirik ke arah layar ponselnya. Gerakan kolom komentar yang semula gila-gilaan mendadak melambat secara drastis. Teks selaras 'SELAMAT DATANG DI KAMAR 13' itu menghilang dalam sekejap, berganti dengan akun-akun anonim berfoto profil hitam polos yang mulai mengetik pesan-pesan baru.

Namun, pesan-pesan yang muncul berikutnya justru membuat seluruh darah di tubuh Rian mendadak dingin serasa membeku.

[@User99201]: 'Rian, uang sepuluh juta tadi lumayan kan buat bayar utang kontrakan ke Pak Darmo?' [@GraveDigger]: 'Cukup juga buat beli mie instan rasa ayam bawang yang kamu simpan di lemari plastik kamar kamu.' [@MataMati_13]: 'Ibu kamu di kampung masih sering sakit dada kanan, kan? Uang sisanya bisa buat beli obat.'

Rian tersentak mundur satu langkah. Punggungnya hampir menabrak bingkai pintu kayu yang ia lewati tadi.

"Si-siapa kalian?!" teriak Rian refleks ke arah kamera ponsel. Jantungnya berpalpitasi keras, berdegup liar kencang sekali. "Kalian siapa? Hacker?! Kok kalian bisa tahu nama bapak kos gua?! Kok tahu soal ibu gua?!"

Tidak ada orang yang tahu detail kehidupan finansial dan keluarganya sejauh itu. Bahkan soal ibunya yang sering mengeluh sakit dada di kampung, Rian hanya pernah menceritakannya pada satu orang temannya lewat telepon pribadi beberapa minggu lalu, tanpa pernah menuliskannya di media sosial atau platform mana pun. Bagaimana mungkin akun-akun anonim di siaran langsungnya bisa mengetahui hal itu dalam hitungan detik?

Kolom komentar kembali bergulir cepat, seolah ribuan orang misterius di balik layar sedang tertawa terbahak-bahak menikmati ketakutannya yang makin menjadi-jadi.

Lihat selengkapnya