Donasi @Kamar Mati

kholid alamsyah
Chapter #3

Tombol Exit yang Hilang

Ancaman itu terpampang jelas di layar ponsel Rian dalam balutan warna merah menyala yang menyilaukan mata. 'Buka lemarinya, Rian. Atau kami yang keluar dari ponselmu.'

Napas Rian makin memburu, dangkal dan patah-patah. Keringat dingin mengalir deras membasahi dahinya, menetes melewati pelipis hingga meresap ke kerah jaket hitamnya yang kusam. Kalimat yang tertera di layar itu tidak terasa seperti gertakan atau gurauan biasa. Di dalam keremangan Kamar 13, bayangan piksel di dalam layar ponselnya seolah meliuk-liuk hidup, seperti ada jemari-jemari pucat tak kasat mata yang sedang mencoba menembus lapisan kaca tipis tempered glass tersebut dari dalam.

"Gua harus keluar dari sini! Bersetan sama uang sepuluh juta!" jerit Rian panik. Ketakutan mendalam telah melumpuhkan rasa serakahnya.

Ia memutar badannya secepat kilat, berniat melompati ambang pintu Kamar 13 dan berlari sekuat tenaga menuruni tangga menuju sepeda motornya di luar. Namun, tepat sebelum ujung sepatunya berhasil menginjak lantai lorong luar, sebuah hembusan angin kencang beraroma bau tanah basah dan busuk bertiup sangat keras dari dalam kamar.

BAM!

Pintu kayu tebal Kamar 13 terbanting menutup dengan sangat keras. Suara dentumannya yang membingakkan telinga bergema hebat menembus sunyinya lorong apartemen tua yang terbengkalai itu.

Mata Rian terbelalak sempurna. Ia langsung menyambar gagang besi pintu dan memutarnya secara berulang-ulang dengan histeris. "Buka! Buka! Tolong! Siapa pun di luar, tolongin gua!" teriaknya sambil menggebrak-gebrak daun pintu kayu jati tersebut hingga telapak tangannya terasa panas dan memar.

Gagang besi itu memang bergerak bebas, tetapi pintu kayu tebal itu sama sekali tidak bergeser serambut pun dari bingkainya. Seolah-olah ada dinding beton tebal tak kasat mata yang menahan pintu itu rapat-rapat dari luar. Pintu Kamar 13 telah terkunci sempurna, mengurungnya sendirian di dalam kegelapan ruangan yang makin menyengat.

Rian menyandarkan punggungnya ke pintu kayu, napasnya tersengal-sengal dan dadanya naik turun dengan cepat. Senter kecil ponselnya menyorot liar ke sekeliling ruangan yang kian mencekam dan menyiksa mentalnya.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan dari dalam lemari kayu jati di sudut ruangan itu terdengar lagi. Kali ini tidak hanya suara ketukan keras, tetapi disusul dengan suara garukan kuku yang sangat ngilu menyayat permukaan kayu dari sebelah dalam.

Sreeek... sreeek... sreeek...

"Jangan... please, jangan..." bisik Rian dengan suara parau yang hampir tak terdengar. Air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya, mengaburkan pandangannya.

Ponsel di dalam genggamannya kembali bergetar hebat tiada henti. Layar yang semula terkunci gembok merah mendadak menampilkan animasi kotak dialog donasi baru.

Lihat selengkapnya