Donasi @Kamar Mati

kholid alamsyah
Chapter #4

Bayangan Tanpa Wajah

Napas dingin beraroma tanah kuburan yang lembap itu berhembus tepat di tengkuk Rian. Hawa dinginnya begitu menyengat, seolah-olah sepotong es batu ditempelkan paksa ke kulit lehernya yang terbuka. Bisikan parau itu bergema pelan namun sangat jernih di dalam gendang telinganya, menyapu habis sisa-sisa keberanian yang masih ia miliki.

"Waktu tiga puluh menitmu... baru saja dimulai."

Rian menjerit histeris. Ia secara refleks memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, mengayunkan tongsis beserta ponselnya ke udara bebas untuk membela diri. Senter di atas ponselnya menyapu kegelapan sudut kamar dengan liar.

Namun, tidak ada siapa-siapa di belakangnya.

Ruangan di balik punggungnya kosong melompong. Hanya ada pintu kayu tebal Kamar 13 yang tertutup rapat dan tumpukan debu tebal di lantai. Tak ada sosok manusia, tak ada bayangan berdarah, tak ada apa pun.

Napas Rian tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan sangat kencang, memompa oksigen yang terasa kian menipis di dalam ruangan itu. Sambil gemetar hebat, ia memutar kembali pandangannya ke arah lemari kayu jati yang terbuka lebar di sudut ruangan.

Senter ponselnya kembali menyorot permukaan cermin tua di dalam lemari.

Di sana, di dalam cermin retak yang kusam itu, bayangan itu masih ada.

Sesosok pria berdiri tegap di balik lapisan kaca. Pria itu mengenakan jaket hitam yang sama persis dengan yang dipakai Rian saat ini. Namun, wajah pria di dalam cermin itu hancur mengerikan. Kulit pipinya terkelupas memperlihatkan tulang rahang yang menghitam akibat luka bakar. Mata kirinya melotot keluar dengan urat-urat darah yang pecah, sementara mata kanannya hanyalah lubang hitam kosong yang terus meneteskan cairan kental berwarna kehitaman.

Yang paling membuat Rian ketakutan setengah mati adalah gerakan bayangan itu. Bayangan di dalam cermin tidak meniru gerakannya. Ketika Rian mundur ketakutan, sosok hancur di dalam cermin itu justru melangkah maju, mendekati permukaan kaca dari sebelah dalam.

Jemari sosok hancur itu menyentuh permukaan kaca cermin dari dalam. Tuk. Tuk. Tuk. Suara ketukan jemari pada kaca bergema nyaring di dalam kamar.

Ponsel di genggaman Rian bergetar hebat. Layar siaran langsungnya mendadak berubah warna menjadi merah pekat. Di bagian atas layar, sebuah angka hitung mundur berwarna kuning menyala mulai berjalan:

[ 29:59... 29:58... 29:57... ]

BIP! BIP! BIP!

[ @KamarMati telah mengirimkan Donasi sebesar Rp 20.000.000,- ]

[ Pesan dari @KamarMati: 'Jangan membuat penonton menunggu, Rian. Ambil kotak kayu hitam di bawah cermin itu dan buka isinya di depan kamera. Waktumu terus berjalan. Jika hitungan mundur habis sebelum tugas selesai, kamu tahu apa yang terjadi pada streamer sebelummu.' ]

Lihat selengkapnya