Angka hitung mundur di layar ponsel Rian terus bergerak turun tanpa ampun, menyala kejam dalam warna kuning keemasan di tengah kegelapan Kamar 13. Setiap detik yang berganti terasa seperti detik-detik menuju eksekusi matinya sendiri.
[ 24:05... 24:04... 24:03... ]
Dada Rian membusung cepat, dihinggapi rasa sesak yang kian hebat. Tangannya yang dingin dan bergetar memegang erat pisau bedah berkarat yang diambilnya dari dalam kotak kayu hitam. Ujung logam kecil yang dingin itu menyentuh permukaan kulit telapak tangan kirinya. Ujungnya yang runcing terasa amat tajam, siap mengoyak daging tipis di genggamannya.
Di layar ponsel, video lima detik dari Diko masih berputar berulang-ulang tanpa henti secara looping. Wajah sahabatnya yang penuh luka memar dan mulut tersumpal kain itu terus terbayang-bayang di ruang matanya. Rian tahu, jika ia menolak atau terlambat sedetik saja, sosok tak berwajah di dalam video itu akan benar-benar menghabisi nyawa Diko.
"Diko... maafin gua, Bro..." bisik Rian lirih. Air mata ketakutan dan keputusasaan mengalir hangat di pipinya yang kotor oleh debu.
Rian memejamkan mata rapat-rapat. Dengan satu tarikan napas panjang yang patah-patah, ia menekan ujung pisau bedah itu ke telapak tangan kirinya, lalu menggoresnya dengan cepat secara melintang.
SREEEKK!
Sensasi rasa sakit yang membakar langsung menjalar cepat menembus jaringan saraf di tangannya. Rian merintih kesakitan saat kulit telapak tangannya terbelah, mengalirkan darah segar berwarna merah pekat yang hangat menetes menembus sela-sela jarinya dan jatuh mengenai lantai kayu yang lapuk.
Rian melepaskan pisau bedah itu hingga terlempar ke lantai. Dengan tangan kiri yang berdarah-darah dan gemetar hebat, ia melangkah maju mendekati cermin tua di dalam lemari kayu jati yang terbuka lebar.
Sosok pria berwajah hancur di dalam cermin menatapnya dengan seringai lebar yang kian lebar dan mengerikan. Pria itu seolah sudah menantikan momen ini selama bertahun-tahun.
Rian menempelkan telapak tangan kirinya yang basah oleh darah ke permukaan kaca cermin yang dingin.
SPLAT!
Jejak telapak tangan berdarah Rian menempel sempurna di tengah-tengah permukaan kaca. Darah hangat itu perlahan-lahan mengalir turun membentuk garis-garis merah yang panjang di atas cermin tua tersebut.
Namun, sesuatu yang amat tidak masuk akal terjadi pada detik berikutnya.
Cairan darah segar yang semula menempel di permukaan luar kaca cermin mendadak terserap masuk ke dalam lapisan kaca. Seolah-olah cermin tua itu adalah spons haus yang menyerap cairan darah hingga tak bersisa sedikit pun di permukaan luar. Garis-garis merah itu meresap masuk, memberi warna merah terang pada bayangan sosok hancur di dalam cermin.
Seketika itu juga, ponsel di tangan kanan Rian bergetar hebat. Notification bar menyala terang benderang.
BIP! BIP! BIP!