Cengkeraman jemari hitam gosong itu terasa seperti batangan besi membara yang menempel langsung pada luka terbuka di telapak tangan kiri Rian. Bau daging terbakar dan minyak tanah yang sangat menyengat memenuhi udara sekitar, membakar saluran pernapasan Rian hingga ia batuk-batuk tercekik dan hampir kehilangan kesadaran.
"Lepasin gua! Bangsat, lepasin!" jerit Rian histeris. Ia berusaha memutar dan menarik pergelangan tangannya sekuat tenaga, tetapi kekuatan sosok dari dalam cermin itu sama sekali tidak seperti manusia biasa.
Tubuh Rian terdorong kasar ke depan. Wajahnya makin dekat ke permukaan cermin tua yang kini mencair menyerupai permukaan air rawa yang gelap, pekat, dan bergelombang. Kepala sosok Rian Pratama—streamer dari tahun 2016 yang hangus terbakar—mulai menjulur keluar melewati batas kaca. Mata melototnya yang pecah berdarah menatap Rian dari jarak kurang dari lima sentimeter.
"Sepuluh tahun aku membusuk dan disiksa di dalam ruangan laknat ini..." bisik sosok terbakar itu, suaranya nyaring dan melengking seperti gesekan dua lembar besi berkarat di atas keramik. "Malam ini, jiwamu yang akan menggantikanku di dalam cermin!"
Rian bisa merasakan tubuhnya perlahan-lahan tertarik masuk ke dalam batas dimensi cermin yang dingin. Kaki kanannya sudah mulai kehilangan pijakan di lantai kayu Kamar 13, terangkat menggantung seolah tertarik oleh gaya gravitasi misterius dari balik lapisan kaca tersebut.
Di layar ponsel yang masih dipegangnya erat-erat dengan tangan kanan yang gemetar, angka hitung mundur terus berkedip gila-gilaan dalam balutan warna merah menyala:
[ 09:15... 09:14... 09:13... ]
[ Pesan dari @KamarMati: 'Donasi sebesar Rp 100.000.000,- menunggumu jika kamu membiarkan proses pertukaran jiwa ini selesai sampai akhir. Bergabunglah dengan kami, Rian. Abadikan namamu di sini.' ]
Kolom komentar bergerak dengan kecepatan yang sangat mengerikan, dipenuhi simbol angka 13 dan emotikon api dari 13.000 viewer gaib yang menonton proses eksekusi tersebut dengan penuh gairah sadis.
"Bersetan sama donasi gila kalian!" teriak Rian penuh amarah dan rasa takut yang memuncak di batas akhir kewarasannya.
Dalam keputusasaan yang luar biasa, otak Rian bekerja kilat mencari cara untuk bertahan hidup. Ia teringat kembali pada pita kaset VHS tahun 2016 yang tadi ia putar di mesin pemutar di bawah cermin. Di dalam video tersebut, Rian Pratama tewas mengenaskan karena api dan bensin yang disiramkan secara paksa oleh para pelaku snuff film. Jika hantu di hadapannya ini terikat erat oleh trauma pembunuhan masa lalunya, maka elemen api adalah kelemahan sekaligus mimpi buruk terbesarnya!
Dengan sisa tenaga di tangan kanannya yang bebas, Rian merogoh saku jaket bagian dalam. Di sana, tersimpan sebuah korek api gas murah berwarna hijau yang biasa ia pakai untuk menyalakan lilin di kamar kontrakan saat terjadi pemadaman listrik.
"Lu mau jiwa gua, kan?!" geram Rian, menatap lurus ke dalam bola mata berdarah sosok di hadapannya.
Dengan jemari yang gemetar hebat dan dingin, Rian memetik roda korek api gas itu tepat beberapa sentimeter di depan wajah sosok terbakar yang sedang menariknya.
CETEK!
Percikan api menyambar cepat, memunculkan lidah api kecil berwarna biru kemerahan yang menyala terang di tengah kegelapan Kamar 13.