Donasi @Kamar Mati

kholid alamsyah
Chapter #7

Layar yang Hancur

Hantaman gembok besi berkarat itu menghantam tepat di pusat cermin tua. Suara ledakan kaca pecah menggema hebat memekakkan telinga, disusul jeritan melengking dari ribuan suara yang pecah bersahut-sahutan di dalam Kamar 13.

PRANGGGGG!

Kaca cermin tebal itu hancur berkeping-keping. Ribuan serpihan cermin berhamburan ke udara bak hujan kaca tajam yang berkilauan di tengah kegelapan pekat. Seketika itu juga, gelombang udara dingin berkekuatan dahsyat terhempas keluar dari dalam lemari kayu jati, menghempaskan tubuh Rian hingga terlempar sejauh dua meter dan menghantam pintu kayu kamar dengan sangat keras.

BAM!

Rian mengerang kesakitan luar biasa. Punggungnya serasa patah, dan dadanya terasa sesak yang amat sangat. Namun, ketika ia membuka matanya secara perlahan melalui celah pandangannya yang samar dan buram, pemandangan di dalam kamar mendadak berubah secara drastis.

Siluet-siluet hitam tanpa wajah yang tadinya mengerumuni dan hendak mencincang tubuhnya mendadak meliuk-liuk seperti asap hitam tebal, lalu terhisap masuk secara paksa ke dalam pecahan-pecahan kaca cermin yang berserakan di atas lantai kayu. Suara bisikan massal dan sirene peringatan merah dari aplikasi siaran langsung mati seketika tanpa sisa.

Hening.

Keheningan yang amat senyap, dingin, dan pekat mendadak menguasai seluruh penjuru Kamar 13. Hanya ada suara helaan napas Rian yang memburu patah-patah dan suara tetesan darah segar dari telapak tangan kirinya yang menetes pelan ke atas lantai kayu yang lapuk.

Ponsel di genggaman tangan kanan Rian bergetar sekali lagi, lalu layarnya mati total secara mendadak. Lampu senter kecil di atasnya ikut padam. Cahaya di dalam kamar sepenuhnya hilang, meninggalkan Rian seorang diri di dalam kegelapan malam yang gulita dan mencekam.

KLAK.

Suara engsel besi berbunyi nyaring dari arah pintu di belakang punggung Rian. Pintu kayu jati tebal Kamar 13 yang tadinya terkunci rapat dari luar mendadak bergeser terbuka beberapa sentimeter dengan sendirinya. Angin malam yang segar dari luar lorong apartemen masuk berhembus pelan, menyapu bau busuk tanah basah dan asap plastik terbakar yang memenuhi ruangan tersebut.

"Pintunya... terbuka..." bisik Rian dengan napas tersengal-sengal, hampir tak percaya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rian merangkak keluar dari Kamar 13 dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang ia miliki. Ia tidak peduli lagi pada rasa perih membakar di tangan kirinya atau rasa sakit menyengat di sekujur tubuhnya. Begitu berhasil mencapai lorong lantai tiga yang gelap, Rian bangkit berdiri bertumpu pada dinding bata dan berlari pincang menuruni anak tangga apartemen tua itu selaju yang ia bisa.

Ia melompati puing-puing kaca di lantai dasar, menembus gapura besar Apartemen Mawar Indah, dan langsung menyambar sepeda motor matic tuanya yang tersembunyi di dalam semak-semak luar.

Rian menyalakan mesin motornya dengan tangan gemetar gila-gilaan, menggasnya habis-habisan, dan melesat pergi membelah kegelapan malam meninggalkan bangunan angker itu tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.

Lihat selengkapnya