Donasi @Kamar Mati

kholid alamsyah
Chapter #8

Mata di Langit-Langit

Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari celah ventilasi kamar kontrakan tidak sedikit pun membawa rasa hangat bagi Rian. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku, membeku di tempat. Pandangan matanya terpaku lurus ke atas, menatap baling-baling kipas angin tua yang berputar berderit pelan di langit-langit kamar.

Di sana, di bagian poros tengah kipas angin yang tertutup debu tebal, menempel sebuah cermin bulat kecil berdiameter lima sentimeter. Kaca cermin itu retak di bagian tengahnya, persis seperti pola retakan cermin tua di Kamar 13. Dalam setiap putarannya, permukaan kaca kecil itu memantulkan kilatan cahaya samar yang menyorot tepat ke arah tempat tidur Rian.

Mata itu. Mata gaib penonton @KamarMati tidak pernah benar-benar pergi.

"Nggak... nggak mungkin..." bisik Rian dengan suara gemetar hebat.

Napasnya memburu liar. Dengan tangan kanan yang masih gemetar dan tangan kiri yang terbebat kain jaket berdarah, Rian menyambar kursi plastik di sudut ruangan. Ia menggeser kursi itu tepat ke bawah kipas angin, lalu memanjatnya dengan terburu-buru.

Tangannya terulur ke atas, mendekati poros kipas angin yang masih berputar. Ujung jarinya menyentuh tepi cermin bulat kecil itu, berniat mencongkelnya paksa hingga terlepas.

Namun, baru saja kulit jarinya menyentuh pinggiran kaca dingin tersebut, rasa sakit menyengat seperti sengatan listrik tegangan tinggi langsung menjalar cepat menembus tangannya!

"Aagghh!" jerit Rian refleks menarik tangannya kembali.

Ia terhuyung di atas kursi plastik hingga kursi itu bergoyang keras dan hampir membuat Rian jatuh terjerembab ke lantai.

Di saat yang bersamaan, ponsel pintar di atas meja lipat kayu bergetar hebat.

BIP!

Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar ponselnya dari akun @KamarMati:

[ Pesan dari @KamarMati: 'Kamera itu terikat dengan jantungmu sekarang, Rian. Merusaknya hanya akan menghentikan detak jantungmu sendiri. Nikmati uangmu, dan bersiaplah untuk panggung berikutnya.' ]

Darah di dalam tubuh Rian serasa berhenti mengalir. Pria itu melompat turun dari kursi, napasnya tersengal-sengal ketakutan. Ia menatap angka saldo di layar ponselnya—delapan puluh lima juta rupiah. Uang yang semula ia anggap sebagai penyelamat hidup dari kemiskinan, kini menjelma menjadi uang darah yang mengikat jiwanya pada sebuah kontrak kematian yang tak bertepi.

"Gua harus pergi dari sini. Gua harus pulang ke kampung... bawa Ibu pindah!" gumam Rian panik. Pikirannya kacau balau.

Lihat selengkapnya