Donasi @Kamar Mati

kholid alamsyah
Chapter #9

Gerbong Maut Argo Mawar

Suara gemuruh roda besi Kereta Api Argo Mawar yang beradu dengan rel membahana keras, menggetarkan lantai peron Stasiun Kota. Gerbong demi gerbong berwarna abu-abu keperakan melintas perlahan sebelum akhirnya berhenti sempurna di jalur tiga. Udara pagi yang lembap bercampur dengan aroma minyak pelumas dan bau asap mesin kereta yang menyengat.

Rian berdiri mematung di antara kerumunan calon penumpang yang sibuk berdesakan. Ponsel pintar di genggaman tangan kanannya terasa amat panas, seolah-olah baterainya siap meledak kapan saja. Di layarnya, pesan dari akun @KamarMati masih menyala konstan, memancarkan warna merah menyala yang seakan menatap langsung ke dalam jiwanya:

[ Target Lokasi: Kereta Api Argo Mawar - Gerbong 3 ] [ Tugas: Naik ke kereta apimu, Rian. Salah satu penumpang di gerbongmu membawa kotak kaset VHS kedua. Temukan dia sebelum kereta mencapai terowongan pertama. ]

Napas Rian tertahan di tenggorokan. Ia melirik ke arah lorong antar-gerbong. Papan penunjuk digital di atas pintu masuk memancarkan tulisan berwarna hijau terang: GERBONG 3.

"Ayo Mas, maju. Jangan melamun di tengah jalan," tegur seorang pria paruh baya bertopi pet yang berdiri di belakang Rian sambil menggendong tas besar.

Rian tersentak. Ia mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dengan langkah kaki yang berat dan bergetar, Rian menaiki tiga anak tangga besi kereta api dan melangkah masuk ke dalam Gerbong 3.

Pintu otomatis gerbong tertutup rapat di belakangnya dengan suara desis udara yang tajam.

PSSSHHH.

Seketika itu juga, kebisingan dari peron stasiun lenyap sepenuhnya. Suasana di dalam Gerbong 3 terasa luar biasa sunyi. Pendingin udara di dalam gerbong berhembus sangat kencang, memancarkan hawa dingin yang tak wajar hingga membuat helaian napas Rian mengembun tipis di udara.

Rian berjalan perlahan menyusuri lorong sempit di antara jajaran kursi penumpang eksekutif. Matanya bergerak liar, mengamati setiap sosok penumpang yang duduk di dalam gerbong tersebut.

Ada sekitar tiga puluh orang penumpang yang mengisi Gerbong 3. Namun, ada sesuatu yang sangat salah dengan mereka semua.

Tidak ada satu pun penumpang yang berbicara, mengobrol, atau sekadar membolak-balik halaman koran. Mereka semua duduk tegap di kursinya masing-masing, menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang kosong dan kaku. Wajah-wajah mereka tampak pucat pasi, tanpa ekspresi emosi sedikit pun, seperti deretan patung lilin yang sengaja dipajang untuk mengisi ruangan.

Saat Rian melintas di sebelah seorang wanita muda bergaun merah di kursi 7B, Rian melirik ke arah wajah wanita itu. Mata wanita muda itu tidak berkedip sama sekali, dan Rian tidak melihat dada wanita itu naik-turun menghembuskan napas.

Darah Rian terasa membeku. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Mereka bukan penumpang biasa... mereka adalah bagian dari panggung siaran ini, batin Rian menjerit ketakutan.

Rian terus melangkah menuju kursi nomor 12A yang tertera pada tiket fisiknya. Tempat duduknya berada di bagian tengah gerbong, persis di sebelah jendela kaca besar yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat.

Ia meletakkan tas ranselnya di bawah kursi, lalu terduduk lemas. Tangan kirinya yang terbebat kain jaket berdarah terasa amat berdenyut-denyut, mengirimkan rasa perih yang menjalar hingga ke bahu.

TUNG... TANG... TING... TUNG...

Suara nada panggil pengeras suara di dalam gerbong bergema nyaring, disusul suara petugas wanita yang terdengar jernih: "Selamat pagi para penumpang Kereta Api Argo Mawar. Kereta kita akan segera diberangkatkan menuju stasiun tujuan akhir. Perjalanan akan menempuh waktu sekitar empat jam dan akan melewati Terowongan Karanganyar dalam waktu lima belas menit ke depan. Selamat menikmati perjalanan Anda."

Lihat selengkapnya