Donasi @Kamar Mati

kholid alamsyah
Chapter #10

Terowongan Tanpa Ujung

Kegelapan pekat yang membungkus Gerbong 3 terasa membeku, seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam kereta terhisap keluar dalam sekejap. Suara gemuruh roda besi Argo Mawar yang beradu kasar dengan rel terngiang-ngiang membabi buta, menjelma menjadi deru lolongan panjang yang menyiksa gendang telinga.

Di tengah kegelapan yang gulita itu, hanya ada dua sumber cahaya yang menyala samar. Pertama, layar ponsel Rian yang memancarkan kilatan cahaya merah darah dari kotak dialog donasi seratus lima puluh juta rupiah. Kedua, binar pucat kebiruan yang berasal dari koper kayu terbuka di pangkuan pria tanpa wajah di kursi 15D.

Pita kaset VHS bertuliskan tanggal '13 Oktober 2018' tergeletak kaku di atas beludru merah darah.

"Ambil... kaset ini, Rian..." suara gesekan parau itu menggelegar kembali dari dada pria tanpa wajah, bergetar nyaring melintasi ruang antar-kursi yang sempit. "Atau kegelapan terowongan ini tidak akan pernah berakhir."

Rian gemetar hebat. Rasa takut yang melilit lehernya membuat jemari tangan kanannya kaku. Udara di sekitarnya terasa amat dingin, menusuk hingga ke dalam pori-pori kulitnya. Dari balik kegelapan lorong di sekelilingnya, suara-suara bisikan halus mulai bergema bersahut-sahutan. Suara hembusan napas berat dari tiga puluh penumpang pucat yang kini mendadak menegakkan posisi duduk mereka secara serentak.

Sreeek... sreeek...

"Gua gak punya pilihan..." bisik Rian parau.

Dengan membuang sisa-sisa rasa takutnya, Rian melangkah maju satu tindakan nekat. Tangannya yang dingin terulur ke depan, menyambar pita kaset VHS tua dari dalam koper kayu tersebut.

Saat jemarinya menyentuh permukaan plastik kaset yang dingin, tangan kanan pria tanpa wajah itu bergerak secepat kilat!

Greb!

Jemari-jemari panjang pucat tanpa kuku milik sosok itu mencengkeram erat pergelangan tangan Rian. Cengkeramannya terasa kaku dan membeku seperti besi tua yang dilapisi es. Kulit licin tanpa pori di wajah sosok itu perlahan-lahan terbelah secara vertikal dari atas ke bawah, membentuk rekahan hitam menganga yang memancarkan aroma amis darah segar yang menyengat.

"Putar... kasetnya..." bisik rekahan wajah itu dengan deretan suara yang tumpang tindih.

"Lepasin gua!" jerit Rian histeris.

Rian menyentakkan tangannya sekuat tenaga sambil mengayunkan cermin lipat kecil di tangan kirinya, menghantamkan sudut logam cermin itu tepat ke arah rekahan wajah sosok tersebut.

PLAK!

Sosok bermantel hitam itu terdorong ke belakang, mencengkeram pegangannya yang terlepas. Rian tidak membuang waktu. Sambil memeluk erat kaset VHS tahun 2018 di dadanya, ia berbalik dan berlari merangkak di sepanjang lorong gelap gerbong menuju tempat duduknya di kursi 12A.

Dalam kegelapan yang pekat, bayangan-bayangan penumpang di sisi kiri dan kanan lorong mulai mengulurkan tangan-tangan pucat mereka ke udara, mencoba menyambar jaket dan kaki Rian. Rasa dingin dari sentuhan-sentuhan gaib itu menyengat kulitnya, tetapi Rian terus merangkak dan menepisnya secara histeris.

Lihat selengkapnya