Alana selalu menyukai pagi yang berjalan lambat. Ia tidak pernah merasa perlu terburu-buru ketika sebagian besar orang mulai memenuhi jalanan Jakarta dengan kesibukan mereka. Dari jendela apartemennya, kota itu terlihat seperti sebuah dunia yang berbeda. Gedung-gedung tinggi berdiri di antara jalan yang mulai dipenuhi kendaraan, sementara cahaya matahari perlahan memantul pada kaca-kaca bangunan di seberang. Bagi Alana, pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa ia telah berada jauh dari kehidupan yang pernah dijalaninya bertahun-tahun lalu. Ia tidak lagi harus bangun sebelum matahari terbit untuk mengenakan seragam pramugari, berangkat ke bandara, dan mengikuti jadwal penerbangan yang telah ditentukan orang lain. Sekarang ia memiliki kebebasan untuk menentukan ke mana harus pergi, dengan siapa harus bertemu, dan bagaimana ingin menjalani hari-harinya.
Ponsel yang terletak di meja samping tempat tidur bergetar beberapa kali. Alana mengambilnya dan melihat layar yang dipenuhi pemberitahuan Instagram. Foto yang diunggahnya malam sebelumnya masih mendapatkan banyak respons. Dalam foto itu ia duduk di dalam sebuah pesawat pribadi bersama Celine, teman perempuan yang sudah beberapa kali menemaninya bepergian. Mereka terlihat santai, tersenyum ke arah kamera, dengan pemandangan awan putih di balik jendela kabin. Alana tidak menuliskan tujuan perjalanan tersebut. Ia hanya memberikan keterangan singkat yang terdengar sederhana, seolah perjalanan dengan pesawat pribadi merupakan sesuatu yang biasa baginya. Ia tahu orang-orang akan bertanya, tetapi ia juga tahu bahwa rasa penasaran justru membuat sebuah unggahan bertahan lebih lama di perhatian mereka.
Alana membuka beberapa komentar dan membacanya tanpa banyak ekspresi. Sebagian besar bernada kagum. Ada yang bertanya bagaimana ia bisa menjalani kehidupan seperti itu setelah berhenti menjadi pramugari. Ada pula yang mengatakan bahwa hidupnya terlihat seperti kehidupan seorang selebritas. Alana hanya tersenyum ketika membaca komentar tersebut. Ia tidak merasa perlu menjelaskan bahwa foto yang mereka lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Ia memang pernah menjadi pramugari. Ia memang memiliki bisnis kost eksklusif. Ia memang sering bepergian dan memiliki sejumlah barang bermerek. Semua itu benar. Hanya saja, ada bagian-bagian tertentu dari kehidupannya yang tidak pernah ia masukkan ke dalam cerita yang dibagikan kepada publik.
Kebiasaan untuk menyimpan sebagian kehidupan itu sudah dimiliki Alana sejak lama. Ia berasal dari Medan dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang menjalani kehidupan sederhana. Ayahnya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara ibunya lebih banyak berada di rumah dan memastikan segala sesuatu tetap berjalan dengan baik. Mereka bukan keluarga miskin, tetapi uang selalu menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan. Ketika masih kecil, Alana tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Yang ia rasakan justru keinginan untuk melihat kehidupan yang lebih luas daripada apa yang ada di sekelilingnya. Ia sering memperhatikan orang-orang yang datang dengan pakaian mahal, menggunakan kendaraan bagus, atau bepergian ke tempat-tempat yang hanya ia kenal melalui televisi. Ia tidak membenci kehidupan yang dimilikinya, tetapi sejak saat itu ia mulai membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari ia memiliki kesempatan untuk memilih hidupnya sendiri.
Kesempatan tersebut datang ketika Alana diterima bekerja sebagai pramugari. Pekerjaan itu membawanya keluar dari Medan dan memperkenalkannya pada dunia yang jauh lebih besar. Ia belajar banyak hal selama bekerja di penerbangan. Ia belajar menjaga sikap dalam berbagai keadaan, memahami karakter orang hanya melalui percakapan singkat, dan mengetahui bahwa penampilan sering kali menjadi bahasa pertama yang digunakan seseorang ketika bertemu orang lain. Ia juga mulai melihat kehidupan para penumpang yang memiliki kemampuan finansial jauh di atas rata-rata. Mereka berpindah kota tanpa banyak pertimbangan, tinggal di hotel terbaik, dan membeli sesuatu tanpa harus memikirkan berapa lama uang mereka akan bertahan. Pada awalnya Alana hanya memperhatikan. Lama-kelamaan ia mulai menginginkan kehidupan yang sama.
Media sosial kemudian menjadi bagian lain dari perubahan itu. Pada awalnya Alana hanya mengunggah foto perjalanan, makanan, dan beberapa momen ketika mengenakan seragam. Tidak ada tujuan khusus selain berbagi dengan teman-temannya. Namun jumlah pengikutnya perlahan bertambah. Orang-orang menyukai cara Alana menampilkan dirinya. Mereka melihat perempuan muda yang cantik, percaya diri, sering bepergian, dan tampaknya memiliki kehidupan yang menyenangkan. Alana kemudian menyadari bahwa perhatian tersebut dapat menjadi sesuatu yang berguna. Ia mulai lebih berhati-hati dalam memilih foto dan tempat untuk mengambil gambar. Ia mulai memahami bahwa apa yang diperlihatkan kepada publik dapat membentuk sebuah cerita, sementara bagian yang tidak diperlihatkan dapat tetap menjadi rahasia.
Setelah beberapa tahun bekerja, Alana akhirnya memutuskan meninggalkan dunia penerbangan. Kepada keluarganya ia mengatakan bahwa dirinya ingin membangun bisnis sendiri. Keputusan itu tidak sepenuhnya mengejutkan karena Alana memang sudah lama memiliki keinginan untuk memiliki usaha. Ia kemudian mulai membangun bisnis kost eksklusif dengan konsep yang berbeda dari tempat tinggal sewa pada umumnya. Bangunannya direnovasi dengan baik, fasilitasnya dibuat nyaman, dan lokasinya dipilih berdasarkan kebutuhan orang-orang yang menginginkan tempat tinggal praktis tetapi tetap memiliki suasana yang lebih berkelas. Bisnis tersebut berkembang perlahan dan menjadi salah satu alasan yang dapat menjelaskan perubahan kehidupan Alana.
Namun, di luar bisnis tersebut, Alana juga mulai mengenal lingkungan pergaulan baru. Ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki kekayaan dan jaringan luas. Sebagian tertarik pada bisnisnya, sebagian tertarik pada dirinya, dan sebagian lagi tidak terlalu peduli membedakan keduanya. Ada beberapa laki-laki yang kemudian memberikan bantuan dalam bentuk uang, perjalanan, hadiah, atau fasilitas lainnya. Alana tidak pernah merasa perlu memberi mereka satu nama hubungan. Ia menyebut mereka sebagai donatur ketika berbicara dengan orang yang ia percaya. Baginya, selama tidak ada yang memaksa dan semua orang memahami posisi masing-masing, hubungan tersebut tidak perlu dijelaskan kepada dunia.
Salah satu orang yang cukup dekat dengannya adalah Adrian. Usianya jauh lebih tua, tetapi ia memiliki pengalaman dan jaringan yang membuat Alana merasa nyaman berada di dekatnya. Mereka beberapa kali bertemu untuk makan malam atau makan siang di tempat yang tenang. Adrian juga termasuk orang yang pernah membantu Alana ketika ia membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnis. Tidak ada kesepakatan tertulis mengenai hubungan mereka. Tidak ada janji yang pernah dibuat secara resmi. Semua berjalan melalui perhatian dan bantuan yang diberikan secara perlahan sampai akhirnya menjadi sesuatu yang dianggap biasa oleh keduanya.
Siang itu Alana memiliki janji bertemu Adrian di sebuah restoran hotel. Ia bersiap dengan pakaian yang terlihat sederhana tetapi jelas bukan pakaian yang murah. Sebuah tas kulit tergantung di bahunya ketika ia keluar dari apartemen dan masuk ke mobil yang telah menunggu di lobi. Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali memeriksa ponsel. Adrian sempat mengirim pesan untuk memastikan ia sudah berangkat. Alana menjawab bahwa dirinya sedang dalam perjalanan dan tidak membicarakan hal lain.
Pertemuan mereka berlangsung hampir dua jam. Mereka berbicara tentang perkembangan bisnis kost dan rencana Alana untuk membeli satu bangunan lagi jika kondisi memungkinkan. Adrian memberikan beberapa masukan, sementara Alana mendengarkan sambil sesekali bercanda. Dari luar, mereka terlihat seperti dua orang yang sedang membicarakan urusan bisnis. Tidak ada yang akan menduga bahwa hubungan mereka lebih rumit daripada yang terlihat. Alana sengaja memilih restoran yang memberikan privasi karena ia tidak menyukai perhatian yang berlebihan.
Setelah makan siang, Alana berhenti di lobi untuk mengambil foto. Ia tidak memotret Adrian. Ia hanya mengambil gambar secangkir kopi dengan latar belakang interior hotel yang elegan. Foto tersebut kemudian ia unggah ke Instagram tanpa menjelaskan siapa yang menemaninya. Tidak lama setelah itu, tanda suka mulai berdatangan. Alana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan berjalan menuju mobil. Ia tidak menyadari bahwa seseorang di tempat tersebut sempat memperhatikannya lebih lama daripada yang seharusnya.
Beberapa menit setelah mobil meninggalkan hotel, ponselnya kembali bergetar. Alana membuka pesan yang masuk dan melihat sebuah akun tanpa foto profil. Pesannya singkat, tetapi membuat wajah Alana berubah.
Aku tahu siapa yang bersamamu tadi.
Ia membaca kalimat tersebut beberapa kali. Tidak ada nama, tidak ada penjelasan, dan tidak ada permintaan. Hanya pernyataan bahwa seseorang mengetahui sesuatu yang selama ini sengaja ia sembunyikan. Alana mencoba mengingat siapa saja yang mungkin melihatnya di restoran. Ia memang terbiasa berhati-hati, tetapi tidak mungkin mengendalikan setiap orang yang berada di sekitarnya.