Keesokan harinya, Fahza sudah siap menuju pesantren. Walaupun agak berat hati, ia hanya pasrah dengan keputusan orang tuanya.
"Sayang udah siap belum Nak?," teriak Bunda memanggil Fahza. "Iya Bun," ujar Fahza sambil berjalan menuju bunda dan ayahnya yang ada di ruang tamu.
"Coba periksa sekali lagi. Takutnya nanti ada yang ketinggalan barangnya," ucap Bunda menasehati. "Sudah semua kok ini," ucap Fahza. "Ya udah kita berangkat sekarang aja," ucap Ayah lalu berjalan keluar rumah menuju mobil.
Fahza dan bundanya mengikutinya dari belakang. Merekapun berangkat menuju pondok pesantren Al-Ilmu di Bandung. Perjalanan lancar tanpa ada macet sehingga tak memakan waktu yang lama. Sesampainya di sana, mereka langsung memasuki pondok pesantren dan menuju ke ndalem.
"Assalamualaikum"," ujar Ayah dan Bunda sambil mengetuk pintu. "Waalaikumsalam warahmatullah, ayo mari silakan masuk dulu"," jawab Kyai Fathur sambil membukakan pintu.
"Kok sepi ya? Pada kemana ini?," ujar Ayah. "Ada kok tenang saja," ujar Kyai.
"Eh udah pada datang ya"," ujar Nyai Zahra dari arah dapur. "Assalamu'alaikum Mbak, gimana kabarnya?," ujar Bunda ramah.
"Waalaikumsalam, alhamdulillah baik. Mari silakan diminum tehnya dulu mumpung masih anget dan nikmati juga cemilannya. Maaf ya hanya seadanya saja," jawab Nyai Zahra sambil meletakkan nampan berisi teh dan cemilan. "Ini sudah cukup kok," ucap Bunda sambil tersenyum.
Mereka menikmati hidangan yang disajikan. Fahza hanya menjadi penyimak pembicaraan para orang tua.
"Jadi begini, kami mau menitipkan putri kami di pondok pesantren ini dan mohon dibimbing untuk menjadi lebih baik lagi," ucap Ayah mengawali pembicaraan. "Oalah iya tenang aja. Eh ini anak keduamu yang namanya Fahza itu ya, Yan?," jawab Kyai Fathur.
"Oh iya ini Fahza. Kalau kakaknya nggak bisa ikut soalnya lagi sibuk-sibuknya kerja. Ngomong-ngomong putra pertamamu udah pulang dari luar negeri ya. Sekarang di mana dia?"," ucap Ayah. "Oh iya udah seminggu ini. Dia sekarang lagi ngajar di pondok putra," jawab Kyai Fathur sambil tersenyum.
"Udah besar ya Fahza ternyata dan cantik juga lagi," tambah Nyai Zahra sambil tersenyum. "Makasih tante," balas Fahza dengan senyum paksa.
"Panggil Umi saja ya Nak, biar kita jadi lebih akrab," imbuh Umi Zahra. "Eh i-iya Um-mi," jawab Fahza kaku.
"Ya sudah kalo begitu kita pamit dulu ya, titip Fahza," ucap Ayah sambil berdiri dan menyalami pak kyai dan berpelukan pada sahabatnya itu. "Iya tenang aja, dia tanggungjawab kami sekarang," balas Kyai Fathur.