Kehidupan Fahza di pesantren benar-benar berbeda seperti di rumahnya. Dia harus benar-benar mandiri melakukan semua pekerjaannya sendiri seperti nyuci baju, menyetrika dan lain sebagainya. Hal itu membuatnya muak dan ingin secepatnya kabur dari pesantren ini.
Kelas yang tadinya ramai menjadi hening. Seorang ustadzah memasuki kelas dan diikuti seseorang di belakangnya.
"Assalamualaikum semuanya," salam ustadzah Hira. "Waalaikumsalam Ustadzah," jawab santriwati serempak.
"Baiklah hari ini kita kedatangan santriwati baru. Ukhti perkenalkan dirimu," ucap ustadzah Hira ramah. "Fahza Wardatul Azmiyah dari Jakarta," ucap Fahza cuek.
"Baiklah silakan duduk di tempat yang kosong ukhti," ujar ustadzah Hira. Lalu Fahza pun berjalan menuju tempat duduk kosong yang kebetulan Salwa menempatinya sendiri.
"Akhirnya kita satu kelas," ucap Salwa, Ririn dan Alya berbarengan setelah Fahza duduk di samping Salwa. Fahza hanya tersenyum menanggapinya. Ia senang bisa satu kelas dengan teman sekamarnya.
Tak terasa bel istirahat berbunyi dan seluruh santriwati berhamburan keluar untuk merefresh otak sejenak dan bersiap pelajaran berikutnya. Fahza dan 3 sahabatnya tak berminat keluar sama sekali dan memilih di dalam kelas.
"Eh habis ini pelajarannya gus Arka," pekik Alya. "Iya nggak sabar deh, ya meskipun orangnya dingin sih. Tapi tetep aja mempesona hahaha," ujar Ririn sambil tertawa.
"Aduh mulai deh," ucap Salwa. "Kenapa Buk? Cemburu?," ledek Alya. "Eh enggak, apaan sih," gerutu Salwa sebal. "Iya juga nggak papa kali Sal," ucap Ririn.
"Siapa tuh gus Arka?," tanya Fahza yang sedari tadi diam. "Itu loh putra pertama Kyai Fathur dan Umi Zahra yang baru pulang dari Kairo," jelas Alya sambil tersenyum.
"Oh," balas Fahza cuek. "Ih kok kamu cuek gitu sih menanggapinya, Za?," kesal Alya. "Ya terus gue harus gimana?," kesal Fahza.
"Lihat aja dulu nanti pasti kamu akan terpesona deh. Eh tapi kalo bisa sih jangan nanti ada yang cemburu nih," goda Ririn sambil melirik salwa. "Gak tertarik gue. Eh Sal, emangnya lo pacaran sama si Arka itu?," ucap Fahza.
"Gus Arka, Fahza. Jangan panggil nama doang dong! Biar bagaimanapun juga dia itu guru kita," kesal Alya. "Bodo amat, nggak peduli gue," balas Fahza.
"Udah dong jangan debat. Oh iya Fahza dia bukan pacar aku, lagian kan dalam Islam melarang pacaran. Alya dan Ririn sering menggoda aku ya karena sebagian santriwati yang menjodoh-jodohkan aku dengan gus Arka," ucap Salwa lalu seperti tersipu malu.
"Gue juga paham kali kalo islam melarang keras pacaran. Tapi kalo dilihat-lihat kayaknya lo suka sama si gus itu," ucap Fahza menyunggingkan senyum. "Eh kamu kok bisa tau?," tanya Alya kepo. "Yaah kelihatan lagi," jawab Fahza santai
"Wah kamu kayak cenayang gitu ya bisa baca pikiran orang, hihihi," balas Ririn cekikikan. "Apa-," ucap Fahza terpotong.
"Assalamualaikum," salam pemuda tampan masuk kelas dengan wajah datar dan tatapan dinginnya. "Waalaikumsalam Gus," jawab santriwati serentak.
'Oh jadi itu orangnya' batin Fahza.