Saat ini Fahza tengah berada di dapur ndalem mencuci piring. Ketiga sahabatnya harus pergi ke kampus karena ada kelas siang. Awalnya mereka ingin membantu Fahza, namun Fahza menolaknya karena tidak ingin mereka telat pergi ke kampus.
Disaat kegiatan mencuci piringnya, terlihat gus Ali datang ke dapur untuk meminum karena ia merasa sangatlah haus. Ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin lalu duduk di meja makan sambil memperhatikan Fahza yang tengah mencuci piring dalam diam.
"Za," panggil gus Ali. "Iya," jawab Fahza. "Kalo menurut lo, gue harus gimana?," ucap gus Ali yang sepertinya gegana.
"Tentang apa?," tanya Fahza heran. "Dia," ucap gus Ali lesu. "Oh," ucap Fahza sambil menganggukkan kepalanya singkat, mengerti maksud gus Ali.
"Kalo lo emang beneran suka sama dia, ya utarakan aja niat baik lo. Nggak mungkin juga kan kalo lo ngajak dia pacaran? Ya kali gus Ali ngajak santri abinya pacaran," ucap Fahza santai. "Iya sih, tapi gue takut Za. Gue takut kalo dia nolak gue karena ada nama orang lain di hatinya," ucap gus Ali sendu.
"Memangnya siapa sih orangnya? Penasaran deh gue, siapa orang yang sudah berhasil membuat seorang gus Ali jadi gegana kayak gini?," ucap Fahza terkekeh geli. "Lo juga kenal siapa orangnya," ucap gus Ali santai.
"Clue nya S dan gue kenal? Wait wait, jangan bilang kalo-," ucap Fahza terpotong. "Iya memang temen sekamar lo," ucap gus Ali sambil tersenyum.
"Salwa? Sejak kapan Li?," tanya Fahza kepo. "Sejak pertama kali dia mondok di sini. Sekitar beberapa tahun yang lalu. Gue pikir itu hanya ketertarikan seorang remaja yang dinamakan cinta monyet. Tapi sampai sekarang perasaan itu masih ada, gue nggak bisa menyangkal lagi Za. Semakin gue berusaha keras untuk ngelupain semakin gue nggak bisa," ucap gus Ali sendu.
"Gue paham siapa yang lo maksud ada di hatinya. Gue nggak tau harus ngomong apa. Tapi yang gue tau, kita tidak boleh berharap lebih kepada manusia karena nanti ujungnya pasti kecewa. Lo ngerti kan maksud gue? Belajar dari pengalaman gue aja, Li," ucap Fahza tersenyum miris. "Gue paham maksud lo, Za. Makanya gue titipin rasa ini kepada Allah, entah nantinya dia jodoh gue atau bukan. Yang terpenting gue juga nggak mau terlalu berharap sama dia," ucap gus Ali tersenyum.