Pagi hari yang begitu cerah. Secerah suasana hati gus Arka saat ini setelah petunjuk dari mimpinya semalam.
Saat ini, terlihat pak kyai dengan kedua putranya mengobrol santai di gazebo belakang rumahnya sambil sesekali bersenda gurau. Tak lama kemudian terlihat umi Zahra datang dengan membawa camilan berupa pisang goreng, 2 cangkir teh dan secangkir kopi.
"Ini camilan dan minumnya, mumpung masih anget. Pasti wenak tenan," ucap umi Zahra lalu ikut duduk di gazebo dengan suami dan kedua putranya. "Makasih Umi tersayang," ucap gus Ali girang. "Makasih Umi, tau aja deh," ucap gus Arka terkekeh.
Pak kyai dan Umi Zahra tersenyum melihat kedua putranya yang sudah tumbuh dewasa. Padahal seperti baru kemarin mereka belajar merangkak. Sifat keduanya memang berbeda tapi keduanya saling melengkapi kakak beradik.
"Gimana sama usaha kamu, Li?,"tanya pak kyai pada putra keduanya. "Alhamdulillah lancar, Bi. Berkat doa kalian semuanya," jawab gus Ali.
Pak kyai mengangguk-anggukkan kepala lalu tatapannya beralih pada putra pertamanya yang sedang menikmati pisang goreng buatan uminya. "Abang, sudah ada keputusan?,"tanya kyai pada putra pertamanya
Uhukk...uhuk
Terlihat Arka tersedak karena mendapat pertanyaan dari abinya. "Keputusan apa, Bi?," Tanya umi Zahra heran. "Abang mau ngapain memangnya, Bi?," Tanya gus Ali kepo.
"Ituloh, abang sedang jatuh cinta. Kemarin sebelum sholat maghrib, Abi melihat abang yang sedang terbengong sambil senyum-senyum sendiri melihat salah satu santriwati", ucap kyai sambil terkekeh geli.
"Beneran, Nak?", tanya Umi Zahra memastikan. Gus Arka yang ditanya pun hanya tersenyum canggung. "Wah akhirnya abangku akan melepas masa lajangnya", ucap gus Ali dengan girangnya.
"Jadi bagaimana keputusannya, Bang?," tanya kyai sekali lagi. "Alhamdulillah Bi, setelah istikharah Allah memberikan petunjuk yang baik. Sekarang tinggal restu dari kalian," ucap gus Arka sambil tersenyum.
"Abi dan Umi sudah pasti merestui niat baik kamu kepada gadis itu," ucap umi Zahra sambil tersenyum. "Terima kasih, Abi Umi," ucap gus Arka.
"Tapi siapa Bang, gadis yang beruntung bisa menarik hati abangku ini?," tanya gus Ali sedikit was-was. Karena abangnya juga menyukai santriwati Abinya. Takutnya mereka menyukai orang yang sama. Nggak mungkin juga kan harus bersaing dengan saudara sendiri hanya demi cinta.
"Kamu sudah mengenalnya," ucap kyai meledek. "Aku kan mengenal hampir seluruh santriwati Bi. Jadi yang mana nih?," Tcap gus Ali tak sabaran.