Dongeng Cinta Fahza

Shofiyah
Chapter #15

Pulang dari Pondok

Terlihat Fahza sedang mengemasi beberapa pakaiannya. Karena tadi orang tuanya mengatakan bahwa mereka akan menjemput Fahza pulang selama 5 hari karena abangnya yang akan menikah besok lusa. Fahza sudah tau mengenai orang tua dan abangnya yang menetap di pesantren untuk membantu kakek dalam mengurus pesantren. Lagipula ayahnya Fahza adalah anak semata wayangnya. Fahza pun menceritakan hal itu kepada sahabatnya. Hal itu membuat sahabatnya terkejut karena faktanya bahwa Fahza adalah cucu seorang kyai. Tetapi Fahza menyuruh sahabatnya untuk tidak memanggilnya dengan embel-embel ning dan tidak membocorkan identitas aslinya itu.

"Za, bakalan sepi deh selama beberapa hari ke depan tanpa kamu," ucap Alya lesu. "Hanya 5 hari saja kok, Al. Lagian nanti juga balik lagi ke pondok. Kamu jangan sedih gitu ucap Fahza sambil merangkul Alya.

"Abang kamu udah mau nikah aja nih. Kamunya kapan?," Goda Ririn. "Nanti deh setelah abang nikah, aku langsung gas nyusul," ucap Fahza asal. "Sepertinya kamu udah mulai berdamai dengan masa lalu, Za," ucap Salwa. "Aku mencoba untuk mengikhlaskan semuanya Sal. In Sya Allah pasti akan dapat ganti yang lebih baik suatu hari nanti," ucap Fahza sambil tersenyum. "Aamiin," jawab ketiga sahabat Fahza serentak.

Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Lalu Fahza membukakannya.

"Assalamualaikum, mbak-mbak," ucap santriwati itu. "Waalaikumsalam," jawab keempat sahabat itu serentak.

"Maaf saya mengganggu sebentar. Saya disuruh bu nyai buat manggil mbak Fahza," ucap santriwati itu. "Ada apa ya, Dek?," Tanya Fahza lembut. Fahza sudah mulai berubah sekarang. Mulai dari tutur katanya dan juga kebiasaanya. Hal itu membuat bangga ketiga sahabatnya dengan perubahan yang ditunjukkan Fahza.

"Kurang tau sih Mbak, katanya disuruh ke ndalem gitu," ucap santriwati itu. "Ya udah, makasih Dek. Saya akan segera ke sana," ucap Fahza. "Sama-sama Mbak, kalo gitu aku permisi dulu. Assalamualaikum," ucap santriwati itu kemudian berlaku dari hadapan keempat sahabat itu.

"Kenapa ya kok umi manggil kamu, Za?," Tanya Alya kepo. "Mungkin ayah dan bundaku sudah datang," ucap Fahza.

"Udah mendingan kamu segera ke ndalem. Kasihan mereka nunggu," ucap Salwa lembut. "Iya Za, buruan," ucap Ririn. "Makasih ya, kalian sahabat terbaikku. Nanti aku bawakan oleh-oleh deh dari Cirebon. Aku pamit ke ndalem dulu, assalamualaikum," ucap Fahza. "Waalaikumsalam," ucap ketiga sahabatnya serentak sambil menatap langkah Fahza yang sudah keluar dari kamar.

Fahza sudah sampai di depan ndalem. Ia sempat melihat ada mobil orang tuanya. Fahza senang karena orang tuanya datang menjemputnya. Lalu dengan cepat ia segera mengetuk pintu ndalem. Pintu terbuka lebar dan terlihat gus Arka yang sepertinya akan pergi.

"Assalamualaikum Gus," ucap Fahza sambil menunduk "Waalaikumsalam. Masuk saja, orang tua kamu ada di dalam," ucap gus Arka lembut lalu pergi menuju mobilnya.

Fahza tertegun mendengar nada bicara gus Arka. Fahza menggelengkan kepalanya singkat. Lalu ia masuk begitu mendengar namanya dipanggil.

Fahza duduk di samping bubdanya. Ia hanya mendengarkan pembicaraan keempat orang tua itu. Setelah mereka berbincang singkat, akhirnya orang tua Fahza berpamitan untuk pulang.

Lihat selengkapnya