Fahza terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Fahza bergegas untuk membersihkan diri dan tak lupa untuk wudhu. Setelah itu Fahza melaksanakan sholat ashar.
Fahza berjalan keluar kamar lalu menuruni tangga. Terlihat dari ada ayah, bunda, Reihan dan juga kakek sedang berbincang serius di ruang keluarga.
"Fahza, mau kemana Nak?," Tanya bunda. "Fahza mau ketemu calon kakak ipar boleh Bun?," Tanya Fahza dengan muka memelas. "Boleh kok, tapi jangan terlalu lama ya. Ada yang ingin Ayah mau bicara hal penting sama kamu. Sebelum maghrib sudah di rumah ya," ucap ayah lembut.
"Oke. Kalo gitu Fahza pamit dulu ya, assalamualaikum," ucap Fahza sambil menyalami ayah, bunda, abang dan kakek. "Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
Fahza berjalan menyusuri pesantren. Ia pergi ke kamar asrama khusus untuk para ustadzah. Banyak sapaan hormat yang ditujukan kepadanya. Fahza tersenyum menanggapi itu semua.
"Assalamualaikum," ucap Fahza sambil mengetuk pintu. "Waalaikumsalam. Ning Fahza?," Ucap seorang ustadzah sambil membukakan pintu. Fahza tersenyum menyapanya.
"Ustadzah Hasna ada kan?," Tanya Fahza sambil tersenyum. "Ada Ning, di dalam. Mari silakan masuk!," Ucap ustadzah itu mempersilahkan masuk Fahza.
Melihat kedatangan Fahza, sontak seluruh ustadzah yang ada di kamar Hasna berdiri dan menunduk ketika melihat kedatangan Fahza. Mereka semua menyalami Fahza takdzim bahkan sampai mau dicium tapu Fahza segera menariknya. Karena menurutnya ia lebih muda dari mereka.
Karena kedatangan Fahza, lalu seluruh ustadzah yang tadinya ngumpul di kamar Hasna berpamitan untuk pergi. Karena mereka berpikir mungkin ning mereka butuh privasi untuk mengobrol dengan calon iparnya.
Sedikit penjelasan tentang Hasna. Dia dulunya abdi ndalem yang sangatlah dekat dengan Fahza layaknya saudara kandung. Hasna merupakan yatim piatu sehingga dia menetap di pesantren ini cukup lama. Sikapnya yang lemah lembut, penyayang dan sabar yang membuat Fahza menyayanginya. Karena selama ini Hasna yang mengerti perasaan Fahza setelah keluarganya.
Fahza sangat bahagia waktu mendengar kabar bahwa abangnya akan menikahi Hasna. Karena memang dari dulu Fahza sering menjodohkan mereka.
"Bagaimana kabarnya, Ning?," Tanya Ustadzah Hasna mengawali pembicaraan. "Alhamdulillah baik, Mbak," ucap Fahza sambil tiduran di paha Hasna yang sudah terbiasa.
"Betah ya di pondok? Sampai jarang pulang gitu?," ucap Hasna sambil mengelus kepala Fahza. "Iya, Mbak. Soalnya di sana Fahza menemukan sahabat yang baik-baik. In Sya Allah," ucap Fahza sambil tersenyum
"Sepertinya kamu sudah bisa mengikhlaskan masa lalu. Terlihat kalau wajah ceriamu sudah terpancar kembali," ucap Hasna terkekeh. "Aku mencoba berdamai mbak meskipun awalnya berat. Tapi aku sudah berusaha mengikhlaskan semuanya. Karena kan di depan pasti ada masa depan cerah yang menunggu," ucap Fahza sambil tertawa pelan.
"Iya, kamu benar Ning. Lupakan masa lalu, jadikan sebagai pembelajaran untuk bekal masa depan. Ketika kita ikhlas dan sabar menghadapi segala cobaan, pasti Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi," ucap Hasna tersenyum. Lalu Fahza bangkit dari tidurannya dan menatap Hasna sambil berbinar.