Di sisi lain, seorang pemuda sedang berada di ruang keluarga bersama kedua orang tua dan adiknya. Mereka menikmati waktu bersama dengan menonton televisi setelah selesai makanan makam tadi. Mereka juga sesekali mengobrol ringan dan bersenda gurau.
"Bang Arka," panggil kyai Fathur. "Iya Abi," jawab gus Arka sambil menoleh ke arah abinya. "Tadi ayah Ryan menelpon ke Abi," ucap pak kyai santai sambil sesekali menyesap kopinya.
"Lalu apa kata mereka, Abi?," tanya Umi Zahra antusias. Gus Arka dan gus Ali penasaran dengan jawaban abinya. "Fahza menerima khitbah Arka dan menyetujui pernikahan ini. Sehari setelah pernikahan Reihan," ucap kyai sambil menatap istri dan kedua anaknya. "Alhamdulillah, akhirnya Fahza mau menerimanya," ucap umi Zahra lega.
'Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupmu' batin gus Arka bersyukur.
"Akhirnya bentar lagi abangku ini punya pendamping hidup. Selamat ya, Bang," ucap gus Ali terkekeh. "Tapi Fahza punya permintaan agar pernikahan kalian nanti tidak dipublish terlebih dahulu. Fahza ingin menikmati masa-masa menjadi santri di pondok. Dia bilang tidak akan melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri ditengah dirinya menimba ilmu di pondok. Kamu tidak keberatan kan Arka? Apakah kamu menyetujui permintaannya?," Ucap kyai.
"Tidak keberatan sama sekali kok, Abi. Hanya saja bagaimana bisa Fahza begitu mudahnya menyetujui pernikahan ini?," Ucap gus Arka sedikit ragu menatap abinya. "Fahza sudah tau bahwa kamu sebenarnya adalah sahabat masa kecilnya yang sering dia panggil Algi itu," ucap kyai.
"Bagaimana dia bisa tau?," Tanya gus Arka. "Keluarga telah menjelaskan siapa gus Arka yang sebenarnya," jawab kyai. "Wah seru tuh. Pasti Fahza kaget banget saat tau kak Alginya itu. Apalagi Fahza punya panggilan khusus loh buat bang Arka," ucap gus Ali sambil tertawa.
"Panggilan apa, Li?," Tanya kyai kepo. "Gus freezer. Soalnya Fahza bilang sama Ali kalo abang itu dingin, datar terus nyebelin lagi. Gitu katanya Abi," ucap gus Ali lalu tertawa membuat kedua orang tuanya juga ikut tertawa. Gus Arka menatap jengkel ke arah adiknya.
"Tapi sepertinya umi mulai melihat deh kalo si kulkas ini sudah mulai mencair tidak lagi dingin kayak kutub," ucap umi Zahra terkekeh. "Umi ih," rengek gus Arka. "Udah-udah. Kasihan abang jangan dibully terus kayak gitu," ucap kyai menengahi.
"Oh iya Bang, semuanya sudah selesai kamu urus? Apa masih ada yang kurang? Siapa tau saja kami bisa bantu kamu," ucap kyai mulai serius. "Alhamdulillah Abi, semua sudah beres tinggal menyiapkan mental saja ini. Ternyata Allah telah mempermudah segalanya. Arka sangat bersyukur atas semua ini, Abi," ucap gus Arka sambil tersenyum.
"Abi hanya ingin berpesan kepada kamu. Jaga dan cintai Fahza dengan sepenuh hati. Fahza sudah dibahagiakan dari kecil oleh keluarganya apalagi dia anak perempuan satu-satunya. Kamu menikahi anak orang harus bisa membuatnya bahagia bukan malah dibikin susah. Jangan sampai setetes air mata kesedihan jatuh karena perlakuan kamu kepadanya, Bang," ucap kyai menasehati.
"Kalo kamu menyakitinya itu sama saja dengan kamu menyakiti Umi, Bang," sahut umi Zahra. "Gue akan jadi orang pertama yang menghajar lo jika lo sakiti kakak ipar gue itu, Bang," ucap gus Ali menimpali. "Baiklah. Abang akan selalu ingat nasehat kalian semua. Mohon doanya agar semua berjalan lancar," ucap gus Arka. "Doa kami menyertai setiap langkahmu. Semoga berbahagia Bang," ucap kyai lalu tersenyum. Gus Arka mengaminkan ucapan kyai.
Sedangkan di sisi lain, Fahza tengah berada di kamarnya. Ia sedang bermain ponselnya.
"Semoga ini adalah keputusan yang tepat," gumam Fahza. Ia sibuk scroll instagram lalu tiba-tiba notif masuk dari akun instagramnya.