Dongeng Cinta Fahza

Shofiyah
Chapter #18

Wejangan dari Bunda

Pagi kembali menyapa. Hari ini seluruh santri pesantren Nurul Ilmu disibukkan dengan persiapan menjelang pernikahan gus mereka yang akan dilaksanakan esok hari. Mungkin besok adalah hari patah hati bagi santriwati karena gus mereka yang telah menemukan tambatan hatinya.

Seperti pagi ini, Fahza terlihat membantu membuat kue di dapur pesantren. Padahal dari tadi banyak santriwati yang melarangnya.

"Aduh Ning, sudah. Ningnya duduk saja biar kami yang mengerjakan," ucap santriwati bernama Lia. "Biarin aja, Mbak. Saya bosen soalnya kalo cuma duduk aja. Lagian ini kan buat persiapan nikahan kakak saya besok," ucap Fahza sambil meletakkam adonan kue yang sudah jadi ke dalam oven.

"Kami jadi nggak enak sama ningnya," ucap santriwati bernama Mia. "Nggak masalah Mbak. Kita semua sama di mata Allah," ucap Fahza sambil tersenyum. "Masya Allah, beruntungnya yang akan jadi jodohnya ning Fahza. Udah cantik, baik, pinter masak paket komplit deh pokoknya," ucap Lia. "Mbaknya bisa aja deh. Saya ini hanya manusia biasa," ucap Fahza terkekeh.

"Oh iya Ning, ngomong-ngomong besok lusa akadnya ning Fahza kan? Sehari setelah nikahannya gus Reihan?," tanya Mia. "Sudah menyebar ternyata gosipnya. Doakan ya semoga lancar dan memang keputusan yang terbaik," ucap Fahza.

"Aamiin," ucap seluruh santriwati yang mendengarnya. "Kayaknya dua hari berturut akan menjadi hari patah hati nasional deh bagi santri putra dan putri. Soalnya kan gus dan ning idola sudah menemukan pendamping hidup," ucap Lia terkekeh. Seluruh santriwati tertawa pelan. "Kalian bisa aja," ucap Fahza tertawa pelan.

Fahza merasa senang berada di sekeliling santriwati yang begitu menyayanginya. Bercanda tawa bersama meskipun awalnya mereka canggung kepada Fahza. Tapi Fahza menyuruh mereka untuk menganggapnya teman agar tak terlalu canggung.

Sore harinya, Fahza tengah duduk di bangku taman pesantren. Menikmati angin sore yang berhembus semilir. Ini adalah tempat favoritnya dari kecil. Tempat di mana ia sering menghabiskan waktu bersama sahabat kecilnya dulu.

Fahza masih tak menyangka bahwa gusnya itu adalah sahabat masa kecilnya. Sahabat yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Sahabat yang dengan beraninya melamar dirinya kepada orang tuanya. Tak lama kemudian datanglah seorang santriwati yang menghampiri Fahza.

"Assalamualaikum Ning," ucap santriwati bernama Lina itu dengan menunduk. "Waalaikumsalam Mbak Lin, ada perlu apa?," ucap Fahza sambil menatap santriwati itu.

Lihat selengkapnya