Dongeng Cinta Fahza

Shofiyah
Chapter #20

Alhamdulillah Sah

Fahza terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Ia bergegas ke kamar mandi dan berwudhu untuk melaksanakan sholat tahajjud. Ini adalah saat yang tepat untuk bermunajat kepada Allah. Karena beberapa jam lagi akan menjadi momen terindah dalam hidup Fahza.

"Ya Allah Ya Robb, sesungguhnya Engkau tahu apa yang terbaik untuk hamba. Bantulah hamba untuk membuka ruang hati untuk dia yang ingin singgah di hati hamba. Bantu hamba untuk mempercayai ketulusann cinta lagi. Ya Allah Ya Robb, sungguh Engkau maha membolak-balikkan hati. Hamba yakin bahwa Engkau adalah sebaik-baiknya perencana. Ridhoi langkah yang hamba ambil ini. Aamiin," Fahza mengakhiri doanya. Seperti biasanya, Fahza melanjutkan kegiatannya dengan tadarus sembari menunggu waktu subuh tiba.

Pagi harinya, Fahza menatap dirinya dalam pantulan cermin di kamarnya setelah beberapa menit yang lalu selesai dirias. Hari ini statusnya akan berubah. Tanggungjawab yang selama ini diemban ayah dan abangnya akan berpindah kepada sahabat kecilnya dulu. Algi, begitulah Fahza memanggilnya. Seorang pria dengan keberaniannya mengikat Fahza dengan ikatan suci pernikahan.

Ceklek

Terdengar suara pintu dibuka. Terlihat pasangan pengantin baru berjalan menghampirinya. Tak lupa dengan senyuman manisnya.

"Masya Allah, cantik sekali kamu dek," ucap Hasna sambil tersenyum menatap adik iparnya. "Makasih mbak," ucap Fahza membalas senyuman kakak iparnya. Lalu tatapan Fahza beralih kepada Reihan yang juga tengah menatapnya lekat.

"Ih Abang ngapain natap Fahza kayak gitu? Jelek ya dandananku, pasti Abang mau bilang kalo aku kayak ondel-ondel," ucap Fahza sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat semua orang gemes. "Perasaan baru kemarin deh kamu ngompol di kasurnya Abang," ucap Reihan sambil menatap adiknya.

"Abang, itu udah lama banget tau. Sekarang Fahza udah besar dan nggak ngompol lagi," ucap Fahza menatap kesal abangnya. "Masak?," ledek Reihan. "Mbak," rengek Fahza sambil menatap Hasna.

"Udah, Mas," ucap Hasna memandang suaminya. Reihan terkekeh geli menatap adiknya yang ngambek itu.

"Jadi istri yang baik, berbakti sama suami. Kalo dia menyakiti kamu bilang sama Abang biar Abang gantung orangnya," ucap Reihan sambil mengelus kepala adiknya sayang. "Abang," ucap Fahza terharu sambil memeluk erat abangnya ini. "Udah jangan nangis. Cengeng banget sih," ucap Reihan sambil mengusap pelan punggung adiknya.

Tok tok tok

Terdengar suara pintu diketuk membuat dua bersaudara ini melepaskan acara pelukannya. Reihan segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Maaf Gus, akadnya akan segera dimulai," ucap salah satu abdi ndalem. "Iya, saya akan segera ke sana," ucap Reihan. Lalu Reihan berjalan menghampiri adik dan istrinya itu.

Lihat selengkapnya