Terlihat Fahza sedang berada di dekat jendela kamarnya. Menanti kedatangan gus Arka yang belum pulang dari masjid untuk sholat isya'. Ia masih belum percaya bahwa gus Arka adalah Algi sahabat kecilnya. Sahabat yang selalu bermain dengannya. Namun juga harus pergi dalam waktu yang lama untuk menyelesaikan pendidikannya. Tetapi lihatlah sekarang, dia sudah kembali. Dia sudah menepati janjinya.
"Kenapa melamun?," Tanya seseorang di samping Fahza. "Eh- udah pulang Kak?," ucap Fahza terkejut sambil menyalami tangan gus Arka. "Baru aja kok," ucap gus Arka singkat. "Oh," ucap Fahza.
"Kamu kenapa? Apa kamu menyesal menikah denganku?," Tanya gus Arka lagi sambil memegang pundak Fahza. "Aku nggak pernah menyesal dengan keputusan yang sudah ku buat. Tapi aku hanya sedikit merasa bersalah," ucap Fahza menatap lekat gus Arka. "Merasa bersalah? Untuk hal apa?," Tanya gus Arka memandang istrinya. "Aku takut menyakiti seseorang yang telah lama menyukaimu," jawab Fahza lirih. Melihat hal itu, gus Arka langsung menarik Fahza ke dalam pelukannya.
"Resiko punya suami tampan dan paket lengkap ya gitu. Banyak banget yang suka," ucap gus Arka terkekeh sesekali mengusap kepala Fahza. "Ih aku serius," ucap Fahza kesal. "Kan udah tak seriusin," goda gus Arka. "Tau ah," ucap Fahza kesal sambil memukul dada gus Arka.
"Maaf deh, jangan ngambek dong," bujuk gus Arka sambil menggenggan tangan Fahza yang memukulnya. "Hmm," Fahza hanya berdehem. "Lagian siapa sih orang yang udah buat istriku sampai merasa bersalah kayak gitu?," Tanya gus Arka membuat Fahza menatap suaminya itu. "Salwa," ucap Fahza menahan tangis. "Hmm sudah ku tebak. Aku sudah lama tau bahwa dia suka sama aku," ucap gus Arka sambil mengelus kepala Fahza.
"Kalo dia marah sama aku gimana?," Tanya Fahza. "Kenapa harus marah? Allah menjodohkan aku dengan kamu bukan dengan dia. Mengagumi seseorang itu boleh tapi tidak boleh berharap lebih. Semua takdir tetap Allah yang menentukan," ucap gus Arka santai. Fahza mendongak menatap suaminya itu takjub.
"Kenapa kamu pilih aku, Kak?," Tanya Fahza. "Karena Allah telah menggariskan kepada diriku untuk mencintaimu sejak kamu berada dalam kandungan bunda", ucap gus Arka sambil tersenyum. "Sejak kapan gus dingin jadi gombal kayak gini," ucap Fahza terkekeh geli.
"Sejak aku mulai penasaran dengan santriwati urakan yang ternyata adalah sahabat kecilku," ucap gus Arka santai. "Kok bisa?," Tanya Fahza kaget. "Karena kamu beda dari yang lain. Disaat semua santriwati mengidolakan diriku dan memujaku tapi kamu malah bersikap acuh seolah nggak peduli. Itu yang membuatku jadi penasaran, ditambah pernyataan abi dan umi yang bilang kalo sebenarnya dulu kita deket banget. Kemudian aku tau kalo santriwati itu adalah sahabat kecilku. Sahabat yang berhasil membuat aku takut kehilangannya. Sahabat yang membuat aku ingin menyelesaikan studi secepatnya agar bisa kembali ke tanah air," ucap gus Arka menatap lekat Fahza.
"Lalu bagaimana dengan masa lalu ku? Apa kakak sudah mengetahuinya?," Tanya Fahza. "Aku sudah mengetahuinya dan aku tidak akan berpaling darimu," jawab gus Arka memeluk Fahza lagi. "Janji?," Ucap Fahza. "Selama kamu masih sanggup bersamaku," ucap gus Arka.
"Kalo suatu saat kamu berada dalam keadaan yang membuatmu berpaling dariku?," Tanya Fahza. "Aku tidak akan mendekati keadaan itu," ucap gus Arka santai sambil mengeratkan pelukannya. "Beneran Kak?," Tanya Fahza menuntut. "Kamu begitu mencintaiku ya," goda gus Arka. "Aku hanya belum bisa jika melihat orang yang berpaling dariku karena wanita lain," ucap Fahza lirih membuat gus Arka meregangkan pelukannya.
"Dengar aku ya. Disaat aku sudah menjabat tangan ayah mengucapkan janji suci, aku telah berjanji bukan hanya di hadapan ayah dan abang kamu tetapi di hadapan Allah juga. Aku tidak akan mengingkari janjiku untuk selalu berada di sisimu, menggenggam tanganmu untuk berjalan bersamaku menuju masa depan yang cerah. Sudah jangan mikir hal yang aneh-aneh. Kamu harus percaya kepadaku," ucap gus Arka lalu mencium kening Fahza lama.