Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Fahza terbangun dari tidurnya. Saat akan pergi ke kamar mandi, ia merasakan ada beban di perutnya. Terlihat tangan Arka yang memeluknya posesif. Fahza menoleh menatap gus Arka yang masih memejamkan mata.
"Aku tau aku memang ganteng. Tapi jangan lupa kedip gitu dong sayangku," ucap gus Arka masih memejamkan mata. "Narsis banget sih," ucap Fahza sinis. "Loh, memang kenyataannya begitu. Buktinya banyak yang ngefans sama aku. Pesona aku memang tidak diragukan lagi," ucap gus Arka setelah membuka matanya. "Bodo amat deh, udah lahh aku mau ke kamar mandi dulu ih," ucap Fahza sambil menyingkirkan paksa tangan gus Arka.
Setelah Fahza selesai lalu gantian gus Arka yang ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Sembari menunggu gus Arka, Fahza menggelar 2 sajadah. Tak lama kemudian gus Arka keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian yang Fahza siapkan tadi. Fahza tersenyum melihat ketampanan suaminya itu.
Mereka melaksanakan sholat tahajjud berjamaah dengan hikmat sampai selesai. Setelah selesai, Fahza mencium tangan suaminya dengan takzim. Lalu dilanjutkan dengan gus Arka yang mencium kening istrinya lama sambil menitikan air mata.
"Kakak kenapa? Kok jadi cengeng gini sih?," Tanya Fahza kaget setelah Arka melepaskan ciumannya. "Aku nggak nangis kok hanya terharu saja," ucap gus Arka sambil tersenyum.
"Nggak nangis apaan? Ini ada air matanya ih," ucap Fahza sambil menghapus air mata gus Arka. "Air mata ini adalah tanda aku bahagia banget," ucap gus Arka sambil memegang tangan Fahza sesekali menciumnya. "Bahagia kenapa sih?," Tanya Fahza heran. "Bahagia karena Allah memberiku bidadari yang cantik untuk menjadi pendamping hidupku. Aku sangat bersyukur karena Allah telah menjawab doaku selama bertahun-tahun," ucap gus Arka sambil tersenyum.
"Sejak kapan sih gus freezer pandai gombal?," Tanya Fahza terkekeh. "Sejak aku menemukan tulang rusukku," ucap gus Arka sambil tersenyum. "Bisa aja deh," ucap Fahza tertawa pelan. "Beneran sayang. Aku nggak bohong," ucap gus Arka sambil menarik Fahza dalam pelukannya.
"Kakak nggak masalahkan kalo aku belum siap pernikahan ini dipublish? Aku ingin fokus mondok dulu," Fahza dalam dekapan gus Arka. "Iya nggak masalah kok. Lagian semua orang taunya aku udah nikah tapi mereka belum tau saja sama siapa aku nikahnya. Aku menghargai apapun keputusan kamu," ucap gus Arka sambil tersenyum. "Terima kasih, Kak," ucap Fahza lalu memeluk gus Arka sekilas.
'Allahuakbar'
'Allahuakbar'
"Udah subuh Kak, yang lain pasti udah nungguin kakak untuk ke masjid," ucap Fahza melepaskan pelukannya. "Ya udah, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum istriku," ucap gus Arka sambil mencium kening Fahza lalu bergegas ke masjid. "Waalaikumsalam suamiku," ucap Fahza tersenyum sambil menatap kepergian gus Arka. Setelah itu Fahza mengambil wudhu lagi dan mulai melaksanakam sholat subuh.
Setelah sholat subuh, Fahza sudah berkutat di dapur sendiri. Dengan lihainya ia memasak layaknya seorang chef yang handal. Ia memasak makanan layaknya di restoran. Tak lama kemudian terlihat bunda dan umi Zahra memasuki dapur.
"Assalamualaikum," ucap bunda dan umi Zahra serentak. "Waalaikumsalam," ucap Fahza sambil tersenyum. "Udah bangun aja nih pengantin baru," ucap bunda menggoda. "Ishh apaan sih Bunda," ucap Fahza cemberut. "Wangi banget masakan kamu, Nak," ucap umi Zahra memuji. Fahza hanya tersenyum menatap ibu mertuanya itu.
Tak lama pun, Hasna bergabung dengan mereka. Mereka berempat memasak bersama sesekali bercanda gurau. Ngobrol ngalor ngidul.