Seluruh santri sedang berada di masjid. Setelah sholat isya selesai, kyai menghimbau agar seluruh santri tidak meninggalkan masjid terlebih dahulu. Kyai ingin menyampaikan pengumuman yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan kabar pernikahan gus Arka yang menggemparkan pesantren. Mereka tetap pada tempatnya untuk mendengarkan hal yang akan disampaikan oleh kyai.
Beberapa hari ini, pesantren digegerkan dengan kabar pernikahan gus Arka. Bagi santriwati itu adalah patah hati nasional. Tapi mereka semua dibuat penasaran dengan sosok istri gus Arka yang sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Hal itu menjadi sebuah tanda tanya besar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap kyai mengawali. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh santri.
"Berita pernikahan gus Arka yang beredar memang benar adanya. Beberapa hari lalu memang sudah terlaksana akad nikah. Mohon doanya ya agar pernikahan mereka berkah," ucap kyai. Banyak ucapan selamat dan doa terbaik untuk gus Arka.
"Mungkin kalian bertanya-tanya seperti apakah wajah menantu saya itu," ucap kyai terkekeh. "Iya," jawab seluruh santri.
"Sudah pasti cantik bukan hanya wajah tetapi juga akhlaknya. Tapi maaf sekali karena dia belum mau dipublikasikan karena ning masih ingin meneruskan pengabdiannya sebagai seorang santri. Suatu hari kalian pasti akan tau kok ningnya itu. Mungkin nanti saat resepsi digelar. Tunggu saja ya. Baiklah, itulah pengumuman singkat dari saya. Terima kasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap kyai. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh santri.
Lalu mereka pun membubarkan diri dari masjid dan kembali ke asrama masing-masing. Di tengah perjalanan, Fahza dan sahabatnya asik bercengkrama.
"Kira-kira siapa ya istrinya gus Arka?," Tanya Alya penasaran. "Katanya kyai tadi orangnya masih nyantri," ucap Ririn.
"Kita akan tahu jawabannya saat resepsi diadakan," ucap Salwa. Fahza menoleh ke arah Salwa. Ia merasa bersalah kepadanya.
"Oh iya, besok kita kuliah pagi kan?," Ucap Ririn mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, kamu bener banget Rin," ucap Alya sambil menepuk keningnya. "Oh iya, Za. Em-," ucap Salwa ragu.
"Kenapa? Ngomong aja Sal tidak usah sungkan begitu," ucap Fahza sambil menatap Salwa. "Kita nggak bisa membantu tugas di ndalem besok," ucap Salwa lirih. "Iya nih, maafin kita ya Za," sambung Ririn.
"Udah, kalian tenang aja. Lagian nanti aku bisa kok mengatasinya," ucap Fahza menenagkan tak lupa dengan senyumannya. "Fahza the best deh," ucap Alya sambil mengacungkan jempolnya. Fahza hanya tersenyum singkat.