Suasana di ndalem terlihat begitu mencekam seperti kejadian di film-film horor saja. Mereka baru beberapa menit sampai di pesantren dan saat ini sedang berada di ndalem. Belum ada satupun percakapan diantara mereka.
"Apa yang ingin kalian tanyakan?," Tanya gus Arka dengan tegas. Alya, Salwa dan Ririn menunduk takut. Mereka tak berani sedikitpun untuk menatap gusnya ini. Gus Arka hanya menghela nafas melihat situasi ini.
Fahza hanya menatap sendu ke arah sahabatnya. Ia merasa bersalah karena menyembunyikan tentang pernikahannya dari sahabatnya.
Gus Arka menggenggam erat tangan Fahza dan mengusapnya lembut. Perlakuan itu justru berhasil membuat ketiga sahabat Fahza menatap tak percaya ke arahnya.
"Ning Fahza adalah istri sah saya. Istri yang selama ini menyembunyikan identitasnya dari seluruh warga pesantren. Dia adalah pendamping hidup saya," ucap gus Arka mengawali pembicaraan. "Istri?," Tanya ketiganya kompak sambil menatap Fahza.
Fahza menganggukkan kepalanya dan menatap ke arah sahabatnya. Sudah dipastikan bahwa mereka akan kecewa mendengar kenyataan ini. Kenyataan yang selama ini ia sembunyikan.
"Selama itu dan kamu nggak ngasih tau Za?," Tanya Salwa dengan sorot kecewa. "Maaf. Aku telah menyembunyikan hal sebesar ini dari kalian," ucap Fahza lirih. "Kenapa Za? Kamu takut kalo aku bakal benci kamu? Aku nggak sejahat itu Za," ucap Salwa tak kalah lirih.
"Katanya kita sahabat tapi kenapa kamu nggak ngasih tau kebenaran ini dari awal Za?," Ucap ucap Alya kecewa. "Segitu nggak percayanya kamu sama kami bertiga, Za?," Ucap Ririn kecewa.
"Maafkan aku. Aku gak bermaksud menyembunyikan hal ini dari kalian. Aku jug sangat terkejut jika sahabat kecilku adalah gus Arka. Orang yang sering buat aku kesel selama di pesantren ternyata adalah sahabat yang begitu aku sayangi sejak kecil. Lalu dia datang lagi untuk menjadikan aku pendamping hidupnya," ucap Fahza menjelaskan semuanya. "Seharusnya dari awal kamu bilang sama kita Za bukan malah menyembunyikannya seperti ini," ucap Alya kecewa.
"Itu juga sama aja kamu ngeraguin kita Za. Kamu seolah menganggap kita orang asing sampai kamu nggak percaya sama kita. Bukankah dalam suatu hubungan itu harus ada rasa saling percaya satu sama lain? Salah satunya persahabatan," ucap Ririn yang tengah terisak. "Maafkan aku. Aku sama sekali nggak bermaksud menyembunyikan ini dari kalian. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu yang sebenarnya," ucap Fahza lirih.
"Saya tau kalian kecewa karena ning menyembunyikan kebenaran ini. Tapi tolong kalian mengerti. Ini semua dilakukan demi kebaikan bersama," ucap gus Arka tegas.
Fahza berjalan menuju ketiga sahabatnya dan hendak berjongkok di depan mereka. Tapi dengan cepat Salwa mencegahnya lalu memeluknya erat.
"Jangan lakukan ini Za. Kita itu sahabat yang saling mendukung. Awalnya aku memang kecewa dengan kebenaran yang kamu sembunyikan. Tapi sekarang aku mengerti keadaanmu," ucap Salwa dengan terisak sambil memeluk Fahza. "Maaf Sal. Mulai sekarang aku akan terbuka dengan kalian," ucap Fahza sambil memeluk Salwa erat.