Pagi hari setelah sholat subuh Fahza bersiap akan turun ke bawah membantu umi memasak. Sebenarnya gus Arka sudah melarangnya tapi bukan Fahza namanya jika tak mampu membujuk suami tercintanya itu.
Fahza mengernyitkan keningnya ketika mendengar canda tawa di dapur. Dengan penasaran Fahza mempercepat langkahnya untuk melihat siapa saja yang tengah berada di dapur.
"Assalamualaikum," ucap Fahza memasuki dapur. "Waalaikumsalam," jawab ketiga orang itu serentak. "Loh Bunda, mbak Hasna? Kalian belum pulang?," Tanya Fahza setelah mengetahui siapa saja yang berada di dapur. "Bunda khawatir sama kamu jadi memutuskan untuk menginap," ucap bunda sambil tersenyum. "Maaf Bun, udah buat kalian semua khawatir," ucap Fahza lirih. "Jaga kesehatan ya, Nak. Apalagi sekarang ada nyawa yang dititipkan," ucap bunda sambil mengelus perut Fahza.
"Harusnya kamu istirahat kan? Kenapa kamu ke dapur, Nak?," Tanya umi sambil mengelus kepala Fahza dengan penuh sayang. "Aku bosan jika terus di kamar, Umi," jawab Fahza sambil tersenyum.
"Kamu harus jaga kesehatan, Dek. Jangan sering kecapekan," ucap Hasna menasehati. "Iya mbak, eh anak kita nanti sepantaran nih ya," ucap Fahza terkekeh.
Ucapan Fahza membuat semua yang di dapur tertawa kecil. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan memasak. Bersenda gurau memanfaatkan watu kebersamaan yang jarang terjadi.
"Alhamdulillah udah selesai," ucap Fahza girang. "Ya udah, kalian panggil semuanya. Biar Umi dan bunda yang menata semuanya," ucap umi yang menata makanan dibantu dengan Bunda.
Fahza dan Hasna berjalan menuju ruang keluarga yang memang para pria sedang bersantai di sana sesekali menikmati kopi dan camilan. Tak lama kemudian mereka sudah ada di meja makan. Para istri mengambilkan nasi dan lauk secukupnya untuk para suaminya. Ali menatap semua orang miris, karena tidak ada yang mengambilkan untuknya.
"Aku jadi pengen nikah," ucap gus Ali mengalihkan perhatian semua orang. "Katanya belum siap," celetuk kyai dengan alis terangkat. "Aku enggak ada istri yang mengambilkan nasi dan lauknya," ucap gus Ali sambil cemberut.
Semua orang tertawa mendengar penuturan dari gus Ali. Tambah masam deh mukanya karena jadi bahan tertawaan keluarganya.
"Ya udah tinggal nikah aja. Lagian kamu sudah stabil dari segi apapun," ucap gus Arka santai. "Nikah sama siapa?," Tanya gus Ali sinis. "Sama santrinya Abi idaman lo," celetuk Fahza.
Gus Ali yang mendengar ucapan Fahza langsung melotot kepada kakak iparnya yang berucap frontal itu. Fahza menutup mulutnya sambil meringis. Semua orang langsung mengernyitkan kening. Bingung siapa santri yang dimaksud oleh Fahza.
"Lo jahat banget sih wahai kakak ipar," ucap gus Ali lalu tersenyum masam. "Sorry keceplosan," ucap Fahza pelan. "Santri abi yang mana?," Tanya gus Arka sambil menatap Fahza. "Mau tau aja apa mau tau banget?," Tanya Fahza sambil menaikkan alisnya.
"Santri yang mana nih?," Tanya kyai sambil memandang putra keduanya. "Memangnya siapa Li yang dimaksud mbakmu?," Tanya umi. "Ali b-belum s-siap," ucap gus Ali gugup. "Belum siap apa takut ditolak?," Ledek Reihan.
"Ini kenapa jadi pada mojokin Ali sih?," Tanya gus Ali kesal. "Kan tadi kamu yang minta nikah," ucap Abi sambil tertawa pelan. Semua orang tertawa melihat gus Ali yang malu karena ngebet nikah itu.