Dongeng Tengah Malam

Maghfira Izani
Chapter #3

Prolog

Embusan angin malam yang sangat dingin perlahan-lahan masuk dari jendela yang terbuka setengah, menerbangkan tirai putih penutup jendela. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, dan lampu kamar sudah di matikan. Namun cahaya yang masuk dari lubang ventilasi memberikan penerangan yang cukup, belum lagi cahaya bulan yang benderang malam itu. Ruangan itu cukup luas dengan sebuah tempat tidur di tengah-tengah, dan sebuah rak kecil yang memiliki beberapa laci. Di atas rak itu terdapat banyak sekali makanan kecil; sebuah roti, pisang, dan air mineral. Segulung tisu tebal tergeletak di bagian tengah dan beberapa sampah makanan kecil berserakan di sekitarnya.

Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahunan terbaring di tempat tidur, kepalanya plontos. Dia terbaring lemah dengan selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya, dan sebuah alat pernapasan yang menyumbat lubang hidungnya. Beberapa mesin tergeletak di sisi tempat tidur, mengeluarkan suara yang seakan-akan saling bersahut-sahutan. Mata anak laki-laki itu menatap ke depan, sebuah lingkaran hitam membayangi kelopak matanya. Tiba-tiba, mata itu terpejam saat sebuah tangan yang ringkih mengusap wajahnya, tangan yang sudah mulai keriput dan penuh dengan urat nadi berwarna kebiruan yang menyembul di balik kulitnya.

"Aku tidak bisa tidur Bu," ujar anak itu pelan, bibir pucatnya bergerak-gerak seperti menari.

Seorang wanita paruh baya yang duduk di dekatnya tersenyum, beberapa garis penuaan memenuhi wajah wanita yang dipanggil 'ibu' itu. "Memangnya kau sedang memikirkan apa nak?"

"Aku sedang memikirkan kapan aku sembuh Bu, kapan kita bisa bermain bersama lagi seperti dulu." Anak laki-laki itu berbicara dengan lancar, ada sebuah kegundahan di raut wajahnya.

Lihat selengkapnya