Ibu dan anak itu kemudian saling berpelukan, ada sebuah rasa haru biru yang lepas saat mereka berpelukan. Di saat yang sama mereka mencoba untuk saling menguatkan satu sama lain, karena mereka sadar mereka sama-sama lemah. Namun kebersamaan mereka menguatkan sendi-sendi mereka yang rapuh, menghapuskan rasa takut mereka seperti debu yang tertiup angin. Mata anak laki-laki itu berkaca-kaca, senyumnya bebas. Dia seperti baru saja terbebas dari apa yang membebaninya selama ini, seperti burung yang siap untuk terbang setelah menunggu lama. Kebebasannya sudah di depan mata.
Angin semakin kencang, malam itu turun hujan. Sedangkan jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tirai yang menutupi jendela itu memukul-mukul kusen jendela, pasti tadi sore perawat lupa menutupnya. Udara dingin berputar-putar di dalam ruangan, menggerakan beberapa lukisan pemandangan dan papan tanda yang dipaku di dinding. Semakin lama gerakannya semakin kencang. Di luar ruangan itu seorang suster datang, dia berhenti sejenak di depan ruangan. Dia membawa sebuah catatan dan pulpen. Setelah mencatat sesuatu, dia mengangkat kepalanya untuk melihat sebuah papan di atas pintu, sebuah papan yang bertuliskan "PERAWATAN KHUSUS KANKER".
"Sekarang kamu tidur ya nak, sudah malam. Kamu harus istirahat." Wanita paruh baya itu mengangkat selimut hingga dada anaknya.
"Iya Bu, terima kasih sudah menceritakan beberapa cerita untukku malam ini. Kini aku bisa beristirahat dengan tenang."
Sang ibu tersenyum. Angin yang semenjak tadi berputar-putar di dalam ruangan seakan tidak berpengaruh pada mereka, tetapi kemudian sebuah suara mengagetkan mereka.
"Kamu belum tidur Irfan?" Ujar perawat yang masuk ke dalam ruangan.
Dia segera bergegas menutup jendela karena angin yang terus berputar-putar di dalam ruangan. Ketika jendela ditutup, ruangan mendadak menjadi tenang, dan perawat itu kembali ke anak laki-laki yang bernama Irfan tadi.