Hari sudah sore, tapi pak Hidayat masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia tengah menyikat sebuah meja beton dengan permukaan yang di lapisi oleh keramik putih. Permukaan itu membentuk sebuah lekukan yang lebih rendah dari sisi meja itu. Pak Hidayat dengan sabar menyikat permukaan keramik dengan sikat kecil yang dia pegang, sementara tangannya yang lain memegang selang yang terus mengalirkan air. Dia membilas semua noda yang baru saja di bersihkan, hingga noda itu larut terbawa oleh air yang mengalur melalui celah kecil di sisi meja. Beberapa kali dia harus menyikatnya dengan keras agar noda kemerahan itu hilang. Setelah 10 menit berselang, akhirnya permukaan meja itu bersih. Pak Hidayat menutup keran agar air yang mengalir di selang berhenti, lalu mengelap tangannya yang masih basah ke pakaiannya.
Hari itu pak Hidayat mengenakan sebuah celana bahan berwarna coklat dan kaus berkerah garis-garis cokelat. Sebuah sandal jepit tua terselip di kakinya. Hari itu juga dia bekerja sendirian, di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Ruangan yang di penuhi tempat tidur beroda dan beberapa kain putih. Sudah sekitar 15 tahun dia bekerja di ruangan itu, sudah 15 tahun juga dia bekerja dengan penghuni ruangan itu.
Setelah selesai membersihkan meja keramik besar itu, pak Hidayat berjalan ke sisi ruangan. Dia mengambil beberapa kain putih yang menguntal di atas sebuah tempat tidur beroda, melipatnya satu per satu, lalu memasukkannya ke sebuah lemari kecil yang berada di sudut ruangan. Tapi pekerjaannya belum selesai. Dia masih harus membereskan beberapa tempat tidur beroda yang tidak beraturan. Pak Hidayat mendorongnya satu per satu, lalu menyusunnya dengan rapi di belakang ruangan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, sebuah tubuh seorang perempuan menyembul dari pintu.
"Belum pulang pak?" Tanya wanita itu. Wanita itu mengenakan seragam putih-putih, jelas memperlihatkan bahwa dia seorang perawat.
"Belum neng," ujar pak Hidayat dengan nada yang sangat ramah.
"Sudah sore loh pak, mending bapak pulang aja," kata wanita itu sambil tersenyum ke arah pak Hidayat.
"Mungkin sedikit lagi. Kalo udah ada perintah agar bapak sudah boleh pulang, ya bakal bapak pulang. Takutnya nanti ada pasien," ujar pak Hidayat tertawa kecil. Wanita itu juga ikut tertawa.
"Ya sudah pak, saya tinggal ya." Wanita itu pamit.
"Iya neng "
Wanita itu pun pergi. Tidak lama setelah wanita itu pergi, pak Hidayat pun keluar dari ruangan itu, sambil menutup pelan-pelan pintu ruangan itu. Ada sebuah papan menempel di pintu ruangan itu, sebuah papan yang bertuliskan "kamar Mayat".
Ya, pak Hidayat bekerja sebagai penjaga kamar mayat.
Pak Hidayat memang sudah tidak muda lagi, umurnya 65 tahun. Tapi tubuh tuanya masih cukup kuat untuk bekerja. Daripada hanya diam di rumah, dia lebih memilih untuk bekerja. Pekerjaannya juga menjadi sarana untuk membantu orang lain, oleh karena itu dia ikhlas menjalani pekerjaannya walaupun bayarannya tidak seberapa. Tidak jarang juga pak Hidayat membantu memandikan mayat. Dia hanya melakukan apapun yang ia bisa, karena pada dasarnya dia hanya ingin membantu sesama manusia. Itu niatnya.
*********
Sore itu pak Hidayat berjalan pelan menuju sebuah musala yang terletak di belakang rumah sakit, tidak jauh dari lokasi kamar mayat. Sebentar lagi sudah memasuki waktu salat Maghrib. Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di Musala, lalu menunaikan ibadah salat Maghrib bersama beberapa perawat dan tukang parkir. Setelah selesai, beberapa dari perawat dan tukang parkir satu per satu meninggalkan Musala. Tapi pak Hidayat belum juga mau beranjak, ia masih ingin berzikir dan mengaji di dalam Musala. Lagipula jika seseorang memerlukannya, mereka akan tahu bahwa dia ada di mushola, jadi gampang kalau ada yang mencarinya. Pak Hidayat pun mengaji hingga waktu isya tiba. Setelah salat isya, Pak Hidayat baru meninggalkan musala dan kembali ke kantornya yang gelap dan sumpek.
Pintu kamar mayat masih tertutup, dan suasana sekitarnya pun sangat sepi. Dia memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah kursi putih panjang yang berada di depan ruangan. Beberapa menit duduk-duduk matanya udah mulai berat. Perlahan-lahan matanya menutup, dan dia pun akhirnya tertidur. Pak Hidayat tertidur sekitar satu jam, hingga seorang perawat pria membangunkannya.
"Pak Hidayat,, bangun Pak," ujar perawat itu menepuk pundaknya.
Dia pun segera bangun, ternyata yang membangunkannya adalah seorang perawat pria dari Unit Gawat Darurat. Perawat itu tidak sendiri. Dia bersama dua temannya sedang mendorong sebuah tempat tidur beroda dengan sosok tubuh di atasnya. Sosok tubuh itu ditutupi kantung mayat berwarna kuning.
"Ini korban kecelakaan pak," ujar perawat itu. "Meninggal beberapa jam yang lalu, tapi belum di ketahui identitasnya. Polisi sedang menyelidiki, jadi mayatnya di titipi di sini sampai mereka bisa menghubungi keluarganya. Tolong masukkan ke kamar mayat, dan jaga sampai keluarganya datang ya pak. Kami masih harus menangani pasien di UGD," ujar perawat itu.
Pak Hidayat menganggukan kepala, dan akhirnya ketiga perawat itu pergi.
Pak Hidayat mendorong tempat tidur itu hingga ke depan pintu kamar mayat, membuka pintu lalu memasukkannya. Setelah selesai dia menutup kembali pintu, dan duduk di kursi putih itu. Sepertinya malam ini Pak Hidayat harus lembur. Karena sangat mengantuk malam itu, Pak Hidayat pergi sebentar ke kantin untuk memesan segelas kopi demi mengusir rasa kantuknya, juga untuk mengusir udara dingin yang mulai terasa. Maklum jam sudah mulai menunjukkan pukul 10 malam, dan suasana rumah sakit pun sudah semakin sepi.
Pak Hidayat berjalan tertatih-tatih menuju kantin. Beberapa menit kemudian dia kembali membawa gelas kecil kopi yang masih hangat. Uap mengepul dari permukaan gelasnya, membuatnya harus memegang gelas itu dengan hati-hati agar tangannya tidak terbakar.
Namun setelah sampai di depan kamar mayat, dia melihat seorang ibu paruh baya sedang duduk di kursi panjang itu. Ibu itu mengenakan pakaian bermotif kembang-kembang dan celana hitam, rambut panjangnya dijepit ke atas. Pak Hidayat pelan-pelan menghampiri ibu itu. Ibu itu terlihat sangat sedih, air mata mengalir di pipinya. Dia pun kaget melihat kedatangan Pak Hidayat.
"Ibu sedang menunggui mayat yang di dalam ya?" Tanya Pak Hidayat seraya duduk di sebelah ibu itu .
"Iya pak," jawab ibu itu dengan suara parau.
Ternyata keluarga mayat yang di dalam sudah datang, pikir Pak Hidayat.
"Nama ibu siapa?" Tanya pak Hidayat.
"Nama saya Susanti pak," jawab wanita itu pelan.
"Nama saya Hidayat, saya yang jaga kamar mayat ini. Keluarga yang lain mana Bu?"