Sudah beberapa bulan ini Santi lulus SMA, tapi sampai sekarang dia tidak juga mendapatkan pekerjaan. Santi memang bukan berasal dari keluarga yang mapan, keluarganya malah terbilang sangat sederhana. Dia adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Sudah beberapa tahun ini ayah Santi yang berprofesi sebagai supir angkot sakit hingga tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Sebagai gantinya, ibunya harus bekerja serabutan. Hampir seluruh pekerjaan yang dapat dikerjakan, ibunya kerjakan untuk menyambung hidup mereka dan biaya sekolah anak-anaknya. Setelah lulus SMA sudah pasti Santi tidak akan melanjutkan pendidikannya ke universitas, karena ibunya tidak akan mampu membiayai. Apalagi ibunya harus menanggung sekolah dua adiknya. Sebagai anak tertua, biaya sekolah adik-adiknya juga merupakan tanggung jawabnya. Akhirnya Santi bertekad untuk mencari pekerjaan, apa saja asalkan halal. Tekad Santi sudah bulat.
Setelah hampir satu setengah bulan mencari pekerjaan, Santi belum juga mendapatkan satu pun pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan dengan latar pendidikan yang dia punya tidaklah mudah, butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Santi hampir saja putus asa. Tapi beruntunglah dia seorang teman lamanya menawarkan pekerjaan di sebuah minimarket. Memang gajinya tidak terlalu besar, tapi setidaknya dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya untuk sementara sampai dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik nantinya.
Santi merasa sangat senang sekali atas bantuan itu. Beberapa hari kemudian Santi datang ke manager minimarket itu. Setelah mengajukan surat lamaran bersama temannya yang langsung merekomendasikannya, Santi diterima bekerja di sana. Santi mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada temannya. Dia akhirnya mendapatkan pekerjaan, dan keesokan harinya dia mulai bekerja di sana.
Tapi ada hal yang mengganjal Santi. Ternyata dia ditempatkan di sebuah minimarket yang berada di kawasan yang masih dalam tahapan pembangunan. Tempatnya masih sangat sepi, dan jalan-jalan di sana juga masih didominasi oleh lahan kosong yang belum tergarap sama sekali. Hanya ada beberapa komplek yang baru saja berdiri di sekitar sana, itu pun masih jarang sekali di tempati orang. Hanya orang-orang yang dalam perjalanan jauh dan beberapa penduduk sekitarlah yang menjadi konsumen minimarket itu. Tidak heran, karena letak minimarket itu dekat sekali dengan sebuah pintu keluar masuk jalan tol.
Tapi Santi tidak mau mengeluh, dia tidak enak kepada temannya. Temannya sudah berusaha mencarikan pekerjaan untuknya, lagipula dia dan temannya sama-sama ditempatkan di wilayah itu. Sehari-hari temannya juga selalu memberikan tumpangan gratis menggunakan sepeda motor. Jadi setiap pagi Santi dijemput di rumahnya, pulang pun dia diantarkan juga sampai di rumahnya.
"Itung-itung aku biar ada teman San. Aku juga seneng kok ada teman mengobrol. Habis selama ini aku selalu sendirian. Di sisi lain aku juga membantu temanku, jadi kau tidak perlu sungkan. Aku tidak mengharapkan apa-apa dari kamu," ujar teman Santi, Linda namanya, saat Santi menawarkan sejumlah uang dari gaji untuk membayar 'ongkos' sehari-hari.
Mendengar hal itu Santi sangat terharu. Ternyata Linda sungguh ikhlas membantunya. Semenjak itu Santi tidak pernah sungkan kepada Linda. Apapun yang dapat dia kerjakan untuk Linda, dia tidak pernah menolak. Setidaknya dia dapat membalas kebaikan temannya itu.
Tidak terasa Santi sudah beberapa bulan bekerja di minimarket itu. Sampai sejauh ini tidak ada masalah. Dia dan ketiga temannya yang sama-sama menjaga minimarket itu sudah sangat dekat, dan saling membantu. Sudah seperti saudara saja.
************
Genap tiga bulan Santi bekerja di sana, muncul sebuah memo dari atasan pusat tentang perintah untuk buka 24 jam. Mereka semua sangat kaget, bagaimana mungkin mereka dapat menjaga minimarket itu 24 jam? Tapi karena ini adalah perintah dari pusat, mau tidak mau mereka menurut saja. Karena di sana hanya ada empat orang karyawan, dua orang pria dan dua orang wanita, akhirnya mereka membagi dua grup untuk nantinya bergiliran menjaga minimarket itu. Linda berpasangan dengan salah seorang karyawan pria namanya Dodi. Dia pun berpasangan dengan karyawan pria bernama Roni. Mereka mengundi jam jaga untuk mereka. Santi dan Roni mendapat giliran jaga malam, sedangkan Linda dan Dodi berjaga pagi sampai malam. Untungnya Roni pun tinggal tidak jauh dari rumah Santi, jadi dia bersedia menjemput Santi saat berangkat dan mengantarkannya saat pulang. Mereka memang sudah sangat kompak, membantu satu sama lain. Keesokan harinya giliran waktu jaga itu pun diberlakukan, giliran jaga siang berlangsung dari jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam, dan malam mulai dari jam sembilan malam sampai jam sembilan pagi. Mereka menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Setengah delapan malam Roni menjemput Santi, dan mereka bersama-sama berangkat menuju minimarket, ternyata Dodi dan Linda sudah bersiap untuk bertukar jaga. Mereka menyelesaikan laporan penjualan selama siang sampai malam, dan yang terjadi selama mereka jaga, setelah itu mereka ganti pakaian. Dodi pulang lebih dulu karena kebetulan istrinya sakit. Ketika sudah selesai berganti pakaian, Linda sempat menyalaminya sebelum pulang.
"Gak apa-apa ya San kamu jaga malam, mungkin ini cuma sementara aja. Kadang-kadang pimpinan pusat memang seperti itu, sebentar-sebentar mengganti jam buka toko. Roni akan selalu membantu kamu kalo ada apa-apa," ujar Linda tersenyum sambil memegang tangan Santi.
"Iya gak apa-apa kok, namanya juga kerja. Kita harus selalu mengikuti perintah atasan. Kamu hati-hati di jalan ya, sampai ketemu besok pagi." Mereka berdua saling melempar senyum, dan Linda pun pergi meninggalkan minimarket itu. Dimulailah giliran jaga malam Santi dan Roni.
Selama beberapa jam Roni membereskan barang-barang yang baru saja datang, sementara jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sedangkan Santi hanya berjaga di depan kasir. Beberapa orang mampir untuk membeli beberapa camilan dan air mineral.
Tiba-tiba Roni keluar dengan langkah tertatih-tatih, wajahnya terlihat berkeringat dan pucat. Santi kaget melihat Roni.
"Kamu kenapa Ron? Kamu sakit?" Tanya Santi. Roni mendekati Santi, dia berpegangan pada meja kasir. Sepertinya dia sudah tidak kuat berdiri lama, tubuhnya sudah lemah.
"Iya nih San, aku tiba-tiba gak enak badan. Sebenernya sih dari tadi pagi, cuma sekarang tambah parah." Santi memegang tangan Roni. Benar saja, tangan Roni terasa panas.
"Wah, kamu demam Ron, kamu benar-benar sakit."
Santi terlihat sangat panik, tapi Roni tidak memberi respon apa-apa. Setelah beberapa lama diam, Santi akhirnya bersuara kembali.
"Kamu sebaiknya pulang saja Ron." Kata Santi.
"Jangan, nanti kamu sama siapa di sini." Perasaan tidak enak menyeruak dari nada suara Roni.
"Gak apa-apa, lagipula malam-malam begini jarang orang yang datang. Aku bisa sendiri kok. Kamu pulang aja, nanti daripada semakin parah."
Roni menatap Santi, ada perasaan kaget dan salut terbias di matanya.