Peristiwa ini terjadi pada tahun 2007, ketika siklus banjir 5 tahunan melanda Jakarta dan sekitarnya. Kebetulan saat itu komplek rumah Dennis menjadi salah satu yang terkena dampak banjir, dan saat itu banjir cukup parah. Rumah Dennis dan seluruh warga di kompleknya terendam hingga dua meter. Air sudah hampir sampai atap rumah, warga langsung mengungsi. Tapi beberapa ada yang masih bertahan di lantai dua rumah mereka, demi menjaga barang-barang mereka dari pencuri yang mungkin saja mengambilnya. Begitu juga Dennis dan keluarganya, mereka memilih untuk tetap bertahan di lantai dua rumah mereka. Meskipun demikian, karena alasan kesehatan, beberapa anggota keluarga harus di evakuasi oleh tim SAR yang menyapu komplek itu dengan perahu karet. Tapi Dennis meminta agar dirinya dan seorang temannya bernama Zidan untuk tetap tinggal di rumahnya demi keamanan. Setelah bernegosiasi akhirnya ia diizinkan untuk tetap tinggal.
Karena waktu itu banjir cukup lama bertahan, sekitar 3 hari sampai banjir mulai surut, Dennis dan Zidan cukup lama bermalam di lantai dua rumah Dennis dengan penerangan yang seadanya. Hari pertama semua berjalan lancar, tidak ada pencuri. Setiap pagi dan siang petugas SAR akan menyisir komplek dengan perahu karet demi membagikan nasi bungkus bagi mereka yang tinggal dan menjaga rumah mereka. Dennis dan Zidan tidak terlalu kewalahan karena mereka mendapatkan konsumsi. Saat siang hari mereka melewati hari dengan bermain kartu atau catur yang mereka bawa. Memang saat itu seluruh listrik mati, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan hiburan, tapi mereka cukup senang dengan hiburan mereka saat itu. Hari semakin sore, petugas SAR datang menghampiri mereka.
"Gimana keadaanya?" Tanya salah satu tim SAR yang mengayuh perahu karet, mendekati Dennis dan Zidan.
"Baik pak sejauh ini aman-aman aja," kata mereka sambil berdiri di balkon rumah. Saat perahu karet tim SAR mendekat, salah satu petugas memberikan 3 buah nasi bungkus.
"Satunya lagi bagi dua aja, siapa tau nanti malem kalian laper," serunya saat memberikan nasi bungkus itu.
"Makasih pak, tau aja suka laper kalo malem haha..." Zidan menjawab dengan diiringi gelak tawa.
"Ini juga ada lilin, buat tambahan penerangan nanti malem," tambah petugas SAR lagi.
"Wah, terima kasih banyak pak." Zidan mengambil lilin itu, lalu memberikannya kepada Dennis.
"Ya sudah, kalo ada apa-apa ketok tiang listrik ya. Tim ada di sebelah sana." Tim SAR itu menunjuk ke sebuah arah, tidak terlalu jauh tapi cukup jauh untuk bisa tertangkap mereka.
"Siap pak," jawab Dennis. Perahu karet tim SAR itu pun menjauh, melanjutkan pembagian nasi bungkus. Dennis dan Zidan masuk ke dalam rumah. Zidan meletakkan nasi bungkus itu di atas meja kecil
"Malam ini kita ngapain ya?" Tanya Zidan.
"Iya ya, main catur atau main kartu udah bosen gue," jawab Dennis.
"Ya ginilah nasib korban banjir haha..." Zidan mengejek Dennis.
"Ah sial Lo," balas Dennis.
Akhirnya mereka menghabiskan sore mereka dengan berbincang-bincang seraya memerhatikan keluar, melihat banjir yang tidak surut-surut. Azan Maghrib berkumandang, mereka masuk ke dalam rumah dan menyalakan lilin-lilin lalu meletakkannya di seluruh sudut rumah.
Hari semakin gelap, hingga akhirnya keadaan benar-benar gelap. Hanya ada cahaya lilin yang menerangi mereka, sekeliling mereka benar-benar gelap. Rumah-rumah hanya terlihat atapnya saja, tanpa cahaya sama sekali. Tepat di depan rumah Dennis ada sebuah pohon mangga, pohon itu pun kini hanya tersisa bagian rantingnya saja.
**********
Tepat pukul 8 malam, mereka membuka nasi bungkus karena perut mereka sudah terasa sangat lapar. Mereka berdua makan dengan lahap. Untung saja persediaan air minum mereka cukup, karena ketika tim SAR lewat mereka lupa meminta air mineral.
Setelah makan malam, mereka duduk-duduk di balkon rumah. Memandang keadaan di luar rumah, sungguh sangat sepi dan dingin. Hanya ada suara aliran air, dan riak air yang terdengar pelan di kejauhan. Tidak ada seorang pun terlihat, seperti hanya mereka saja yang ada di sana. Tapi Dennis cukup menikmati suasana itu, dan ia tetap waspada karena mungkin saja ada pencuri datang. Jam tangan Dennis menunjukkan pukul 10 malam, tapi matanya belum juga bisa terpejam. Rasanya memang sulit melewatkan suasana seperti ini, sebuah ketenangan di antara bencana.
"Lo udah lama tinggal di sini Den?" Tanya Zidan seraya membenarkan posisi duduknya.