Namaku Audri, seorang pegawai sebuah Bank swasta di Jakarta. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1998, saat aku masih duduk di bangku SMA. Aku adalah wanita yang ceria. Keluargaku juga sangat sayang terhadapku. Di rumahku yang terletak di kawasan Cilandak, aku tinggal bersama ayah dan ibu juga adikku yang waktu itu baru berumur 7 tahun.
Tetapi entah kenapa, beberapa hari ini aku selalu mimpi didatangi seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun. Awalnya aku hanya menganggapnya hanya mimpi biasa, tapi sesosok anak laki-laki itu mendatangi mimpiku hampir setiap malam. Di dalam mimpiku, anak laki-laki itu hanya memperhatikanku dari jauh, sambil sesekali tersenyum. Aku mulai merasa gelisah akan mimpi-mimpi itu. Sampai pada suatu hari, saat kebetulan ayah, ibu, dan adikku harus pergi ke kota selama tiga hari.
Tinggallah aku dan tiga orang pembantu saja di rumah. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi pada hari kedua setelah kepergian orangtuaku, aku merasa ada perasaan yang tidak enak hari itu. Aku merasakannya semenjak aku bangun tidur di pagi hari. Sepanjang hari aku merasa seperti diawasi oleh sesuatu. Perasaan itu pun berlanjut hingga malam harinya. Sampai larut malam aku tidak dapat memejamkan mataku, aku terus saja merasa was-was. Jam dinding kamarku menunjukkan pukul sebelas malam. Ketika aku sedang membaca majalah, tiba-tiba saja kenop pintu kamarku bergerak. Seperti ada seseorang yang hendak masuk.
Seketika itu jantungku berdegup kencang. Kenop pintu kamarku terus bergerak, hingga pintu kamarku terbuka perlahan-lahan dengan sendirinya! Napasku seakan tertahan di tenggorokan. Aku berusaha untuk tidak berteriak.
Setelah pintu terbuka lebar, di depan pintu kamarku berdiri seorang anak laki-laki. Yang lebih mengejutkannya, anak laki-laki itu adalah anak laki-laki yang sering muncul di dalam mimpiku. Dia mengenakan setelan piyama berwarna putih. Rambutnya lurus disisir kesamping. Wajahnya pucat, tetapi anehnya aku sama sekali tidak takut melihatnya. Dia memanggil namaku, seraya menyodorkan tangannya seperti mengajakku pergi.
Aku sangat takut malam itu, tetapi ada sesuatu yang mendorongku untuk beranjak dari tempat tidur dan mengikutinya. Aku pun beranjak. Melihat aku beranjak, anak laki-laki itu langsung berlari ke lorong luar kamar. Aku pun mengikutinya dari belakang. Ia mengajakku menuruni tangga.
Setelah sampai di lantai satu anak itu menghilang. Aku pun mencari ke mana perginya anak itu. Ternyata anak itu berdiri di pintu dapur dan masuk ke dalam dapur. Begitu sampai di dapur, anak laki-laki itu berdiri di depan pintu belakang rumahku. Pintu itu mengarah ke halaman belakang rumahku. Dan tiba-tiba saja, dia menembus pintu itu!
Aku terkejut, bulu kudukku berdiri. Tetapi seperti ada yang mendorongku untuk tetap mengikutinya, akhirnya aku membuka pintu itu dan mengikutinya ke arah halaman belakang. Begitu sampai di sana, anak laki-laki itu menghilang! Aku kaget dan panik. Aku menoleh kanan dan kiri mencari anak itu, tetapi tidak ada! Aku pun memutuskan untuk masuk kembali.