Dongeng Tengah Malam

Maghfira Izani
Chapter #8

Sosok Misterius

"Kamu ikut mama ke rumah sakit sekarang," ujar Bu Hartati kepada Anggie, anak perempuannya. Saat itu Anggie baru saja pulang dari sekolahnya. Sembari membanting tas sekolahnya ke kursi di ruang tamu, Anggie bertanya,

"Memangnya ada apa mah?"

"Tante Ani kecelakaan, sekarang di rumah sakit." Bu Hartati terlihat sibuk mondar-mandir mencari apa-apa saja yang ingin dia bawa. Akhirnya dia hanya membawa sebuah tas hitam dan kunci mobilnya.

"Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu," ujar Anggie sebelum pergi ke kamarnya.

"Jangan lama-lama, setelah selesai langsung turun." Bu Hartati berteriak dari ruang tamu.

"Iya mah," spontan Anggie menjawab dari dalam kamarnya yang berada di bagian belakang rumahnya.

Anggie dan keluarganya tinggal di sebuah perumahan di Jakarta. Kebetulan ayah Anggie memang sedang tugas di luar kota untuk beberapa bulan, oleh karena itu mereka hanya tinggal berdua bersama dua orang pekerja rumah tangga di rumahnya. Tante Ani adalah adik kandung dari Bu Hartati, tinggal tidak jauh dari kediamannya. Dialah yang menemani Bu Hartati hampir setiap hari, karena memang hubungan mereka sangat dekat. Tante Ani sendiri belum memiliki anak, padahal dia sudah menikah sejak 5 tahun yang lalu. Suami tante Ani juga sering sekali berpergian ke luar kota karena urusan pekerjaan, makanya tante Ani lebih sering menginap di rumah Bu Hartati ketimbang di rumahnya sendiri. Dia mempercayakan rumahnya kepada kedua pekerja rumah tangganya jika sedang tidak di rumah, karena memang tante Ani memang masih berstatus sebagai seorang karyawati di sebuah perusahaan.

Hari itu Bu Hartati dan Anggie sangat terkejut mendapatkan kabar bahwa tante Ani kecelakaan. Menurut telepon yang di terima Bu Hartati, mobil milik tante Ani ditabrak oleh sebuah mobil mini bus yang melanggar lampu merah, lalu menabrak sisi kiri depan mobil tante Ani. Kecelakaan itu mengakibatkan tante Ani luka parah di bagian kepala dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Bu Hartati dan Anggie langsung masuk ke dalam mobil setelah Anggie selesai ganti baju. Beberapa menit berselang, mobil Bu Hartati sudah sampai di parkiran sebuah rumah sakit yang cukup besar. Tanpa pikir panjang, Bu Hartati dan Anggie turun dari mobil mereka dan masuk ke dalam rumah sakit. Mereka langsung mendekati meja suster di bagian depan rumah sakit.

"Maaf suster, saya mau tanya. Korban kecelakaan yang bernama Ani ditempatkan di mana ya?" Tanya Bu Hartati. Perawat yang berada di meja depan sedikit terkejut. Dia langsung mengecek daftar pasien yang masuk hari itu.

"Bu Ani Setiani ya?" Tanya perawat itu

"Iya bener sus, di mana dia?" Bu Hartati sepertinya tidak bisa menahan tangisnya, suaranya mulai terdengar gemetar.

"Tadi ibu Ani berada si UGD, tapi sekarang sudah di pindahkan ke ICU, karena kepalanya sangat parah," jelas perawat itu.

Bu Hartati langsung lemas, "ya Tuhan." Dia hampir saja tumbang, untung saja Anggie dengan sigap memegangi tubuh ibunya.

"Ruang ICU-nya sebelah mana sus?" Tanya Anggie seraya memegangi tubuh ibunya.

"Oh, ruang ICU ada di ujung lorong terus belok ke kanan. Di sana ada papan petunjuk arah kok, ikuti saja," ujar perawat itu.

"Oh gitu, makasih ya sus," tutup Anggie. Ia langsung menggandeng ibunya untuk berjalan menuju ruang ICU.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di depan ruang ICU. Ternyata benar Tante Ani terbaring di sana. Kepalanya dibungkus kain perban yang kekuatannya sangat tebal, mulut dan hidungnya juga dipasangi alat bantu pernapasan yang terhubung ke mesin-mesin di sisi tempat tidurnya. Tane Ani kelihatannya tidak sadarkan diri, wajahnya dipenuhi memar-memar dan darah yang sudah mengering. Bu Hartati keliatannya sangat terpukul, lalu memangis melihat kondisi adiknya yang mengenaskan.

Tiba-tiba seorang perawat masuk, lalu meminta Bu Hartati dan Anggie untuk pergi ke ruang dokter yang menangani tante Ani. Mereka pun keluar menuju ruangan dokter dengan diantar sang perawat. Sambil berjalan Bu Hartati bertanya tentang kronologisnya saat tante Ani dibawa ke rumah sakit dan juga bagaimana dengan si penabraknya. Menurut penuturan suster, ketika sampai di rumah sakit, tante Ani diantar oleh beberapa warga yang menolongnya. Beberapa menit berselang, polisi juga datang lalu memberikan dompet yang berada di mobil tante Ani. Pihak rumah sakit melihat beberapa kartu nama dan salah satunya adalah kartu nama Bu Hartati, dari situlah akhirnya mereka menelpon Bu Hartati. Menurut penuturan polisi, sang penabrak tante Ani melarikan diri. Tapi beberapa orang sudah melihat plat nomornya, dan kini orang itu sedang dilacak oleh polisi.

Sesampainya di dalam ruangan, dokter menjelaskan tentang keadaan tante Ani. Dokter mengatakan bahwa tante Ani mengalami luka serius di kepalanya, tulang tengkoraknya retak dan tante Ani kehabisan darah.

"Jadi gimana kondisi adik saya dok?" Ujar Bu Hartati lemas. Raut wajah dokter itu sepertinya sangat murung saat mendengar pertanyaan Bu Hartati.

"Saya juga tidak tahu Bu, cedera kepala Bu Ani sungguh parah. Kini dia koma, dan saya tidak bisa memastikan kapan dia akan sadarkan diri." Dokter itu berhenti sejenak untuk menarik napas, sepertinya sangat berat mengatakan keadaan tante Ani.

"Kami akan berusaha sebisa kami Bu, kita tunggu saja perkembangannya," lanjut dokter itu sembari menepuk pundak Bu Hartati sebagai rasa prihatin dan empati.

Ketika keluar dari ruang dokter, Bu Hartati segera mengabari suami tante Ani. Ia juga tidak lupa mengabari adik-adiknya yang lain. Seluruh keluarga mereka yang mendengar berita tentang tante Ani langsung menangis terisak, terutama suami Tante Ani. Dia bahkan langsung terbang dari Kalimantan ke Jakarta malam itu juga. Tengah malam suami tante Ani tiba di Jakarta, langsung menuju ke rumah sakit. Ketika melihat keadaan istrinya, dia langsung bersimpuh dan meneteskan air matanya. Suasana malam itu benar-benar haru.

**********

Keesokan paginya, suasana langsung ramai. Seluruh saudara-saudara Anggie berdatangan ke rumah sakit untuk melihat keadaan tante Ani, apalagi ditambah penjelasan tentang komanya tante Ani. Mereka semua terpukul.

Sore itu Bu Hartati dan Anggie pulang, karena mereka memang terlihat sudah sangat kelelahan. Lagipula sudah ada banyak orang yang menunggui tante Ani. Begitu sampai di rumah mereka langsung tertidur pulas.

Semenjak peristiwa itu, mereka berganti-gantian menjaga tante Ani. Satu Minggu setelah kecelakaan itu, satu per satu kerabat mulai pulang ke kediaman masing-masing. Suami tante Ani pun dengan berat hati harus kembali ke Kalimantan, mengingat pekerjaannya yang tidak bisa dia tinggalkan, Bu Hartati pun menyanggupi untuk menjaga tante Ani. Suami tante Ani sangat senang mendengar hal itu, dia akhirnya dapat kembali ke Kalimantan dengan hati sedikit lega.

Hari berganti hari, hingga tidak terasa sudah 3 minggu tante Ani koma. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda perkembangan dari tante Ani, tapi Bu Hartati tidak pernah lelah menjaga adiknya itu. Anggie pun kadang membantu bergantian menjaga terutama saat libur sekolah. Anggie memang sangat dekat dengan tante Ani, mereka sering menghabiskan waktu bersama walau hanya sekedar jalan-jalan di mal. Bagi Anggie, tante Ani sudah seperti ibunya sendiri.

Tidak terasa sudah genap satu bulan mereka menjaga tante Ani, tapi tidak ada perubahan sama sekali. Mereka pun sudah mulai putus asa, tapi biar bagaimanapun mereka menampik rasa putus asa itu. Mereka harus tetap optimis, tante Ani pasti akan sadar cepat atau lambat. Hampir setiap hari suami tante Ani selalu menelpon untuk menanyakan keadaan tante Ani, meski jawabannya selalu sama. Sama seperti Bu Hartati dan Anggie, suami tante Ani juga sangat optimis jika istrinya akan sadarkan diri. Mereka sama-sama berdoa untuk tante Ani, agar tante Ani cepat sadarkan diri.

Ternyata doa mereka didengar oleh Tuhan. Beberapa minggu kemudian tante Ani menggerakkan tangannya. Bu Hartati dan Anggie yang melihat hal itu terlihat sangat bahagia. Tangan tante Ani bergerak ke kanan dan ke kiri. Mereka langsung memanggil dokter.

Lihat selengkapnya