Kisah ini terjadi awal tahun 2003. Waktu itu Andri sedang berada di kamarnya saat ibunya mendatanginya.
"Dri, nanti hari selasa rencana mama sama papa mau liburan di rumah Om Yanto. Kamu mau ikut gak?" Ujar ibu Andri. Andri diam sejenak, ia menyelesaikan beberapa kalimat dari buku yang ia baca, lalu menjawab tanpa menoleh,
"Selasa ya? Emang rencananya mau berapa lama di sana?"
"Mungkin sekitar satu minggu, papa sekalian mau ngomongin bisnisnya sama Om Yanto."
"Oh gitu," jawab Andri.
Mereka sempat diam beberapa saat, hingga akhirnya ibu Andri mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya, "Jadi kamu mau ikut gak?"
Andri seketika meletakkan buku yang sedang ia baca, kemudian ia menoleh ke arah ibunya dan berkata, "Boleh deh."
Beberapa hari kemudian, tepat hari Selasa, Andri, ibu dan ayahnya bersiap-siap pergi. Mereka meletakkan seluruh barang bawaannya ke dalam mobil. Rumah Om Yanto berada di sebuah kota di Jawa Barat. Perjalanan dari rumah Andri menuju Rumah Om Yanto diperkirakan sekitar 5 jam, oleh karena itu mereka benar-benar menyiapkan semua barang bawaan mereka. Andri saat ini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Andri adalah anak kedua dari dua bersaudara, sedangkan kakaknya, seorang perempuan, saat itu bekerja di luar kota dan menetap di kota itu. Maka tinggallah Andri dan kedua orangtuanya yang tinggal di Jakarta. Ayah Andri adalah seorang pengusaha dan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Setelah yakin semua barang bawaan sudah berada di mobil, mereka pun memulai perjalanan. Selama perjalanan tidak ada banyak hal yang dapat dilakukan, bahkan Andri hanya menghabiskan waktu dengan tidur. Hingga akhirnya saat matahari akan tenggelam, mereka sampai di rumah Om Yanto.
Om Yanto menyambut mereka dengan hangat dan langsung mempersilahkan mereka masuk setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti di garasinya. Rumah Om Yanto berada di kawasan yang bisa dibilang cukup tradisional, agak jauh dari pusat kota. Walaupun rumah-rumah di sekelilingnya rumah Om Yanto terkesan sangat "kampung", tapi rumah Om Yanto tetap dibuat seperti rumah modern yang ada di tengah kota, apalagi rumahnya memang cukup besar. Om Yanto tinggal sendiri di rumah itu, karena kebetulan anak dan istrinya tinggal di luar kota, di rumahnya yang lain. Alasan Om Yanto tinggal berjauhan dengan istri dan anaknya adalah karena Om Yanto mengurusi sebuah bisnis di kota yang ia tinggali sekarang. Ia juga berencana untuk mengajak ayah Andri untuk bergabung dengan bisnisnya, itulah mengapa Andri sekeluarga datang ke sana.
Setelah turun dari mobil, Andri sekeluarga masuk dan duduk di ruang tamu. Ruang tamu. Ruang tamu Om Yanto sengat rapi, kursi-kursinya terbuat dari kayu dengan dinding berwarna krem. Banyak sekali lukisan-lukisan yang dipajang di dinding ruang tamu, dan semua lukisan itu menggambarkan alam pedesaan. Tukang kebun Om Yanto membawa semua barang bawaan mereka ke ruang tamu. Di rumah itu Om Yanto memang tinggal bersama satu orang pembantu dan satu tukang kebun.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rumah Om Yanto, tapi hanya satu yang agak mengganggu Andri, yaitu halaman depan yang agak luas dan ditumbuhi sebuah pohon beringin besar, lalu ada sebuah ayunan di bawahnya. Mungkin dulu ayunan itu tempat anak Om Yanto bermain, karena Om Yanto memang mempunyai seorang anak perempuan.
Setelah sedikit berbincang dan beristirahat, Om Yanto menunjukkan kamar Andri sekeluarga yang akan mereka tempati selama menginap di sana. Andri dan orangtuanya mendapat kamar yang berbeda. Orangtua Andri menempati kamar yang berada di tengah, sedangkan Andri menempati kamar paling depan yang berhadapan langsung dengan halaman. Memang aneh, seharusnya pemilik rumah menempati kamar paling depan. Tapi justru Om Yanto menempati kamar paling belakang. Namun Andri tidak mau banyak protes, dia segera memasukkan tas backpacknya ke dalam kamar, kemudian membongkarnya lalu memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam lemari yang sudah ada.
Satu jam kemudian Andri dipanggil untuk makan malam. Dia, orangtuanya, dan Om Yanto makan malam bersama. Setelah itu Andri masuk ke dalam kamar. Dia sepertinya sudah lelah dan sangat ingin beristirahat. Andri menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, lalu mulai memejamkan matanya. Sebenarnya Andri merasakan perasaan yang aneh, seperti ada sesuatu yang janggal. Tapi rasa lelah sudah mencengkeram tubuhnya, lagipula bisa saja itu adalah perasaan janggal karena ia tidur di tempat asing, bukan rumahnya sendiri. Malam itu Andri tertidur.
Tepat sebelum ia terlelap, sayup-sayup Andri sempat mendengar suara seretan daun-daun kering yang datangnya dari halaman depan rumah, seperti ada yang sedang menyapu. Tapi siapa yang menyapu halaman malam-malam begini? Belum sempat berpikir lebih lanjut, Andri sudah tertidur pulas.
*************
Keesokan paginya ibu Andri membangunkannya pagi-pagi sekali. Selain menyuruhnya bangun, ibu Andri juga ingin pamit karena hari itu ia, ayahnya, dan Om Yanto harus pergi untuk melihat-lihat bisnis yang akan mereka jalankan. Andri sempat duduk sebentar di tepi tempat tidur yang ada di sisi kamar. Melihat ke halaman lewat jendela itu, ia masih ingat semalam sebelum tertidur, sempat mendengar suara seseorang menyapu halaman. Sejenak dia melihat daun-daun yang berserakan di atas rumput. Aneh, jika memang semalam ada yang menyapu pasti daun-daun itu sudah bersih semua. Tetapi pagi itu masih banyak daun-daun berserakan.
Saat Andri sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba muncul tukang kebun Om Yanto membawa sebuah sapu lidi besar, sepertinya ingin meyapu halaman. Berarti memang benar halaman itu tidak disapu semalam. Lalu dari mana asal suara itu? Tukang kebun itu tersenyum saat melihat Andri sedang memperhatikannya. Andri membalasnya dengan senyuman. Ia keluar kamar dan mandi. Setelah selesai mandi, Andri mendatangi meja makan. Ternyata sudah tersedia sarapan di atas meja, tapi orang tua Andri dan Om Yanto tidak ada. Andri pun duduk dan memakan sarapan yang sudah disediakan.
Ketika hari sudah semakin sore, Andri merasa semakin bosan. Setelah sarapan dia hanya duduk di ruang tamu menonton televisi. Sepertinya ikut orangtuanya bukan ide bagus, karena kini ia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Andri keluar rumah, duduk di teras rumah, dan terus memperhatikan pohon beringin besar yang ada di halaman.
"Jangan ngelamun dik," ujar tukang kebun Om Yanto mengagetkan Andri.