Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1999. Saat itu Anwar baru saja datang ke Jakarta dari kampung halamannya di Cirebon. Anwar adalah seorang laki-laki berumur 27 tahun. Sekitar dua tahun yang lalu dia baru saja menikah. Istrinya kemudian mengandung, dan lahirlah putra pertama mereka. Awalnya hidup Anwar dan keluarganya biasa saja. Anwar bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik untuk menunjang perekonomian mereka. Namun sayangnya Anwar terkena PHK oleh pabrik tempatnya bekerja, hingga akhirnya Anwar menganggur. Saat masih bekerja sebagai buruh saja kehidupan mereka sudah pas-pasan, apalagi sekarang saat dia menganggur. Hidupnya semakin sulit, apalagi dia harus menghidupi anak pertamanya yang saat itu masih balita.
Hidup Anwar semakin terdesak. Dia tidak bisa diam saja, dia harus berbuat sesuatu, mencari pekerjaan baru. Tapi mencari pekerjaan baru ternyata lebih sulit dari yang Anwar bayangkan. Sudah satu bulan dia ke sana kemari mencari pekerjaan, tapi belum juga mendapatkannya. Hingga suatu hari seorang temannya, Bambang namanya, menelpon. Bambang sudah bekerja di Jakarta dan menjanjikan sebuah pekerjaan untuk Anwar. Kebetulan tempatnya bekerja sedang membutuhkan tenaga kerja.
"Pokoknya kamu ke Jakarta sajar War, di sini ada pekerjaan. Untuk sementara kamu tinggal di rumahku saja. Nanti kalo kamu sudah bekerja kamu bisa mengontrak rumah," seru Bambang yang menggebu-gebu lewat telepon. Anwar diam sejenak.
"Tapi gimana ya? Aku agak berat ninggalin istri sama anakku yang masih kecil," jawabnya ragu-ragu.
"Gak apa-apa, titip saja sama saudaramu. Daripada kamu tidak punya pekerjaan, mau kamu kasih makan apa istrimu? Mumpung ada kesempatan, gimana?" Ujar Bambang terus saja membujuk.
"Ya udah deh, aku coba." Akhirnya Anwar menyetujuinya.
"Nah gitu dong. Ini alamatku, kamu catet ya. Besok pagi kamu langsung berangkat aja."
Anwar mencatat dengan baik alamat Bambang. Malam harinya dia memberitahu istrinya bahwa esok hari dia akan pergi mengadu nasib ke Jakarta. Awalnya istri Anwar kaget, namun setelah di jelaskan dan melihat keadaan ekonomi mereka yang serba kekurangan, istrinya pun setuju. Dia akan memanggil adiknya untuk menemaninya di rumah selama Anwar di Jakarta. Tanpa pikir panjang, keesokan harinya Anwar berangkat ke Jakarta dengan tekad mengadu nasib.
*******
Setelah sampai di Jakarta, Anwar mengalami sedikit kesulitan menemukan alamat Bambang, namun akhirnya dia sampai juga ke alamat temannya itu. Ketika sampai di rumah Bambang, Anwar disambut baik oleh istrinya Bambang. Setelah berbincang-bincang, Anwar beristirahat sejenak di kamar kecil yang terletak di dekat dapur. Kamar itu adalah kamar yang Anwar tempati selama dia tinggal di sana. Malam harinya Anwar memberikan semua berkas yang dia bawa kepada Bambang untuk selanjutnya dibawa ke tempatnya bekerja. Bambang tidak menjanjikan banyak, dia harus memberikan itu dulu ke tempatnya bekerja. Nanti setelah itu baru dia tahu apa yang harus Anwar lakukan selanjutnya. Anwar pun setuju.
Keesokan malamnya Bambang memberitahukan Anwar bahwa dia harus menunggu kurang lebih satu bulan.
Dia sudah diterima hanya saja dia mungkin harus menunggu sekitar satu bulan lagi untuk mulai bekerja karena ada masalah internal di tempat kerjanya Bambang. Anwar tetap bersyukur walaupun dia harus menunggu selama satu bulan lagi untuk bisa bekerja. Setidaknya dia sudah diterima dan kini punya pekerjaan. Berjalannya waktu Anwar mulai merasa tidak enak, dia tinggal di rumah temannya tanpa berbuat apa-apa, dan merasa seperti benalu. Anwar memang tidak terbiasa menumpang di rumah orang. Akhirnya pada suatu malam, dia mengatakan pada Bambang bahwa dia butuh pekerjaan sementara untuk mengisi waktunya selama menunggu dia mulai bekerja di tempat kerja yang baru. Pekerjaan apa saja.
"Aku gak bisa gini terus, aku gak enak sama istri kamu. Jika aku bekerja kan setidaknya aku bisa membantu kamu dan istrimu selama aku di sini," ujar Anwar.
"Kamu jangan ngomong gitu War, aku dan istriku tidak keberatan kamu tinggal di sini. Kami memang ikhlas ingin membantu," balas Bambang mencoba mengurangi rasa tidak enak Anwar.
"Tetap saja, tolonglah carikan aku pekerjaan sementara sampai aku diterima di kantormu."
"Baiklah kalo begitu, tetanggaku ada yang punya taksi tapi tidak ada yang menariknya. Kamu mau narik taksi?" Tanya Bambang.
Anwar terdiam sebentar, lalu menjawab, "Ya sudah tidak apa-apa, aku mau."