Dongeng Tengah Malam

Maghfira Izani
Chapter #13

Perkemahan hantu

Peristiwa ini terjadi pada pertengahan tahun 1997, saat itu Gio baru kelas 6 SD. Sekolah Gio memang tidak terlalu jauh dari rumahnya, hanya perlu berjalan kaki selama 10 menit. Gio memang termasuk murid yang aktif, dia senang sekali bermain dan mengikuti kegiatan di sekolahnya. Saat itu kegiatan yang dia senangi adalah Pramuka. Ketika hari Jumat tiba, dia selalu bersiap-siap dengan peralatan pramukannya. Di sekolah Gio memang selalu diadakan kegiatan Pramuka setiap Jumat sore, kegiatan yang selalu berakhir sebelum Maghrib. Gio tidak pernah absen mengikuti kegiatan ini, sehingga pembina Pramuka di sekolahnya mengakat dia ketua regu. Kebetulan regu yang dipimpin oleh Gio bernama regu "Cobra", dan mereka selalu mengadakan latihan morse setiap hari Jumat.

Beberapa hari kemudian sekolah Gio mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan perjusami (perkemahan Jumat, sabtu, Minggu) yang akan diadakan di sekolah. Seluruh ketua regu dikumpulkan, termasuk Gio. Mereka dapat perintah untuk mempersiapkan regu masing-masing dalam mengikuti perjusami, dan mereka juga disuruh mengedarkan surat pemberitahuan yang nantinya akan dibagikan ke anggota regu dan diberikan kepada orang tua masing-masing. Gio sangat bersemangat dengan acara perkemahan ini. Kebetulan orangtua Gio juga mengizinkan. Gio pun mulai mempersiapkan apa yang dia perlukan selama perkemahan. Sebagai ketua regu, Gio harus mempersiapkan dan mengkoordinasikan apa-apa saja yang dia dan regunya perlukan, karena nantinya mereka akan membuat makanan dan membangun tenda sendiri.

3 hari sebelum perkemahan dimulai, Gio mengumpulkan seluruh teman-teman seregunya. Masing-masing membawa perlengkapan. Dua orang temannya membawa tenda, ada juga yang membawa kompor kecil dan alat memasak, dan juga obat-obatan dalam kotak P3k. Gio sendiri sudah mempersiapkan logistik yang mereka butuhkan, seperti mi instan dan beberapa kantong plastik berisi sayuran yang sudah dipotong-potong dan bumbu yang sudah di takar oleh orangtuanya untuk satu kali memasak, jadi tugasnya hanya merebus sayuran itu, memasukkan bumbu-bumbunya, dan menunggu sampai semua matang.

Seluruhnya sudah dipersiapkan dengan baik oleh Gio, hingga dia yakin regunya dapat melewati perkemahan ini sampai terakhir tanpa ada seorang pun yang pulang sebelum waktunya.

Pada Jumat pagi, seluruh siswa kelas 4 sampai kelas 5 sudah berkumpul, para pembina membuka apel pertama pagi itu. Tidak hanya murid-murid yang hadir, beberapa orangtua dari murid yang mengantar anak mereka pun berkumpul. Saat apel itu pembina juga membagikan tempat yang akan mereka gunakan untuk bermalam, ruang kelas yang sudah dimodifikasi dan dijaga dua orang pembina pada setiap satu kelas. Sedangkan kelas 6 harus membangun tenda dan bermalam di lapangan sekolah.

Setelah apel, seluruh kelas 6 yang sudah dibagi per regu mulai membangun renda mereka dengan didampingi kakak pembina. Begitu juga regu Gio, mereka bahu membahu membangun tenda mereka, membuat perapian, dan mulai menata peralatan masak. Ketika tiba waktu Salat Jumat mereka sudah selesai membangun tenda, dan mereka pun berhenti sejenak untuk melaksanakan Salat Jumat. Setelah selesai mereka berkumpul di dalam tenda, merasa sangat bersemangat dengan kegiatan perkemahan itu. Sore harinya mereka berkumpul untuk mengikuti berbagai macam lomba, mulai dari membuat simpul, lomba penyelamatan saat kecelakaan, dan lomba ketangkasan. Saat azan Magrib berkumandang mereka berhenti, dan satu per satu mulai antri untuk mandi. Setelah mandi seluruh regu berkumpul di tenda masing-masing, mulai memasak untuk makan malam. Regu Gio yang sudah membawa sebuah kompor kecil mulai memasukkan minyak tanah ke dalamnya, lalu menasak sayur yang sudah dipersiapkan Gio. Mereka pun makan malam bersama, tidak jarang mereka bercanda dan bermain gitar.

Tepat pukul 8 malam mereka berkumpul di tengah-tengah lapangan, ternyata para pembina sudah membuat sebuah api unggun yang besar. Di sana mereka menonton hiburan yang ditampilkan oleh pembina dan teman-teman mereka sendiri. Mulai dari pantomim, drama komedi, sampai penampilan musik. Malam itu mereka bersenang-senang hingga akhirnya acara berakhir tepat pukul 10 malam. Seluruh siswa diperintahkan untuk masuk ke dalam tenda dan tidur. Beberapa pembina sudah mulai berjaga di kelas dan berkeliling di tenda-tenda untuk mengontrol apabila ada yang keluyuran. Gio dan regunya mendapatkan tempat paling ujung. Mereka membangun tenda di perbatasan antar sekolahnya dan sebuah kebun kosong. Mereka baru menyadari bahwa kebun itu cukup menyeramkan, ditambah dengan deretan pohon pisang yang menambah kesan angker kebun itu, oleh karena itu mereka segera masuk ke dalam tenda, tapi mereka tidak bisa tidur malam itu. Regu mereka berisi 6 orang, dan mereka membagi 3 orang masing-masing dalam satu tenda. Tenda di sisi kiri berisi Gio, Dimas, dan Jaya. Sedangkan yang sebelah kanan berisi Tito, Sandi, dan Ari.

Sudah jam 12 malam, tapi Gio dan teman-temannya belum bisa tidur. Mereka melihat tenda yang ada di sisi kanan tidak ada tanda-tanda gerakan di dalamnya, sepertinya teman mereka yang ada di tenda itu sudah tidur. Kini hanya mereka bertiga yang belum tidur, dan mereka mulai menceritakan cerita-cerita seram. Cerita dimulai dari Jaya yang menceritakan sosok wanita di belakang rumahnya, sosok wanita yang senang mengganggu siapa saja yang menggunakan kamar mandi di kala malam, mulai dari menertawai dengan suara tawa cekikikan yang menyeramkan, sampai menampakkan wujud dari balik atap yang terbuka. Ibunya yang pernah melihat sosok wanita itu, mengatakan sosok itu sangat menyeramkan. Wajahnya hitam agak kecoklatan, seperti sosok mayat yang sudah lama terkubur di dalam tanah. Sosok wanita itu tidak memiliki bola mata, seluruh bola matanya ditutupi tanah liat. Dan yang paling menyeramkan adalah senyumnya, senyumnya yang menyeringai menunjukkan deretan giginya yang tidak rata, berantakan dan hancur. Sosok itu pernah mengintip dan menatap ibunya yang sedang di kamar mandi suatu malam, tatapan tajam seperti orang yang sangat marah.

Seketika Gio merinding, begitu juga Dimas. Tapi kemudian Dimas tidak mau kalah, dia juga punya cerita seram. Cerita itu dari kakaknya yang dulu juga bersekolah itu, waktu kakaknya masih kelas 5 SD. Saat itu sekolah juga sedang mengadakan perkemahan, dan pada suatu malam ada siswa yang hilang. Seluruh isi sekolah mencarinya, sampai akhirnya siswi itu ditemukan di sebuah sumur yang sudah tidak terpakai jauh di dalam kebun di depan mereka. Sumur itu untungnya tidak terlalu dalam karena sudah tertutup tanah yang longsor. Siswi itu ditemukan sedang tergeletak tidak sadarkan diri. Dia hanya ingat malam harinya ingin buang air kecil, tapi tiba-tiba ada sesosok mayat yang masih dibungkus kain kafan menghadangnya. Siswi itu pingsan saat melihat wajah sosok yang disebut pocong itu. Wajah pocong itu hancur dan dipenuhi belatung yang masih bergerak-gerak.

Seketika mereka semua merinding ketakutan, karena mereka berada di tempat kejadian itu terjadi. Tiba-tiba mereka merasa seperti ada yang memperhatikan, entah dari mana. Mungkin dari luar tenda...

**********

"Udah ah, tidur aja yuk," seru Gio kepada teman-temannya karena mereka jadi ketakutan sendiri. Jaya dan Dimas setuju. Akhirnya mereka berbaring di atas tikar yang menjadi alas mereka. Tapi baru saja ingin berbaring, tiba-tiba Jaya menepuk pundak Dimas dan Gio.

"Eh liat deh, perasaan tadi pohon itu cuma ada satu bayangan. Kok sekarang ada dua ya." Jaya menunjuk ke bayangan pohon-pohon pisang yang memantul di tenda mereka. Mereka sejenak diam.

"Iya ya, tadi perasaan itu cuma satu batang." Dimas pun menyadari, begitu pun Gio. Namun saat sedang kebingungan, tiba-tiba bayangan salah satu batang pohon yang mereka lihat bergerak. Bayangan itu melompat ke belakang lalu menghilang.

Gio dan teman-temannya yang menyaksikan itu seperti terkena serangan jantung. Mereka kaget bukan main, hingga jantung mereka berdebar kencang sekali. Mereka serentak masuk ke dalam selimut masing-masing dan memaksakan diri untuk tidur. Ternyata mereka benar-benar tidak sendirian.

********

Keesokan paginya para pembina membangunkan mereka pagi-pagi sekali. Seluruh siswa bangun dan mengantri untuk mandi. Selama mengantri Gio, Dimas, dan Jaya tidak bisa berbicara apa-apa, mereka masih terkejut dengan kejadian semalam. Mereka memutuskan untuk tidak menceritakan kepada siapa-siapa bahkan kepada Tito, Sandi, dan Ari.

Setelah mandi, mereka membuat sarapan. Kali ini Gio membuat mi instan untuk regunya. Mereka pun makan. Setelah makan mereka kembali dikumpulkan, setiap regu berbaris di lapangan untuk apel pagi, kemudian mereka diharuskan untuk ikut banyak kegiatan, seperti latihan tali temali, kode Morse, dan lain-lain. Hingga akhirnya hari berganti malam. Sama seperti malam selanjutnya, mereka menikmati hiburan di dekat api unggun, hingga seluruh siswa diperintahkan untuk tidur. Tapi kemudian pukul 11 malam pembina mengumpulkan seluruh regu kelas 6 untuk berkumpul, ternyata pembina memecah mereka ke regu lain. Gio harus berpisah dengan teman-teman regunya dan memimpin anggota lain yang terkenal bandel dan susah diatur. Tapi Gio tidak mau mengeluh, dia dengan senang hati menerima tugas itu.

Seperti biasa mereka dibawa per regu, dan dilepas pada titik-titik tertentu. Tugas mereka adalah mencari lokasi pos yang sudah ditentukan secepat mungkin dengan petunjuk yang sengaja disebar. Tapi hal yang membuat Gio kaget adalah, lokasi jurit malam itu menggunakan kebun kosong di samping sekolah mereka.

Gio dan regu barunya dituntun dengan mata tertutup, lalu mereka semua berhenti di suatu tempat.

Lihat selengkapnya