Dongeng Tengah Malam

Maghfira Izani
Chapter #15

Jangan Panggil Aku Penakut

Aku benci teman-temanku, ingin rasanya kukuliti mereka lalu kujadikan keset rumahku. Ya, mungkin ini merupakan bentuk dari jiwaku yang terganggu. Aku juga tidak akan menguliti mereka hidup-hidup, tapi setidaknya itu sebagai bentuk sebuah pelampiasan emosiku saat ini.

Namaku Rumi, aku seorang siswi di sebuah SMP di Depok. Aku seorang anak perempuan biasa yang tinggal di lingkungan perumahan yang tidak terlalu bagus, yang sudah kutinggali semenjak bayi. Sebenarnya hidupku biasa saja. Selain mengikuti kegiatan sekolah, orangtua juga mendaftarkanku ke bimbingan belajar, walaupun sebenarnya aku tidak mau. Namun bukan orangtua namanya jika mereka tidak memaksa, dan akhirnya aku harus menuruti mereka. Tidak ada yang aneh terhadapku, kecuali rasa takutku yang tidak pernah bisa kukendalikan.

Penakut, itu kata teman-temanku di bimbingan belajar. Tidak heran mereka menyebutku seperti itu, karena aku bisa melompat saat melihat bayangan seekor kucing di tengah malam. Aku juga bisa berteriak-teriak dan menangis sangat keras hanya karena kakakku pulang tengah malam. Aku lebih penakut dari anak perempuan seumuranku. Cerita-cerita seram, film seram, atau apapun yang berhubungan dengan sosok yang bernama hantu adalah musuhku. Aku tidak pernah mau mendekati mereka, bahkan jika mereka berwujud manusia.

Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa seperti ini, yang jelas aku takut gelap (sudah pasti) dan paranoid. Saat aku berada di tempat yang sepi pada malam hari, pikiranku akan melayang ke mana-mana; membayangkan ada sosok hitam besar di ujung gang, atau seorang wanita yang menangis di dekat persimpangan. Padahal mungkin semua itu tidak ada, tapi aku sangat bisa merasakan mereka di dalam pikiranku. Hingga akhirnya aku akan takut, dan menelpon ibuku untuk menjemput. Belum lagi jadwal bimbingan belajarku yang menyebalkan. Bimbingan belajarku dimulai dari setelah Maghrib (sekitar pukul tujuh malam) dan berakhir pukul sembilan malam. Cukup malam untukku yang penakut ini. Kasihan ibuku, dia selalu menjadi sasaranku untuk datang menjemputku. Tidak apa-apa lah, toh dia juga tidak keberatan. Kesimpulannya adalah semua dapat kukendalikan, jadi rasa takutku yang berlebihan tidak menggangu sama sekali.

Setidaknya awalnya memang seperti itu. Keadaannya berubah saat aku naik ke tingkat baru, dan mendapatkan kelas baru di bimbingan belajar itu. Kelas baru berarti teman baru, teman baru berarti pribadi baru. Sebenarnya teman-teman baruku tidak seburuk itu, mereka adalah orang-orang baik. Irene adalah yang tertua, dan ia sangat supel. Lalu Veni, berambut panjang dan berbadan kurus. Terakhir adalah si saudara kembar Ovie dan Ivie, mereka adalah yang paling bawel di kelasku. Biarpun begitu, bukan berarti tidak ada salah dengan mereka. Mereka semua suka sekali dengan hal-hal yang berbau seram, aku sampai bingung dibuatnya. Ketika ada waktu senggang, mereka membicarakan cerita-cerita seram yang terjadi di sekitar rumah mereka, dan hampir setiap akhir pekan mereka saling bertukar film horor. Aku hanya bisa pergi menjauh saat mereka mulai menceritakan cerita-cerita seram koleksi mereka, karena jika sekali saja aku mendengar cerita mereka, maka malam harinya aku dipastikan tidak akan bisa tidur, aku yakin itu.

Mereka akan langsung mentertawakanku saat aku menjauh.

"Kenapa Mi? Takut haha... Dasar Rumi penakut," ujar Ovie dengan nada mengejek.

Aku hanya bisa diam dan tidak menggubris ejekan mereka. Tapi itu berlangsung hampir setiap hari, dan hal itu lama kelamaan membuatku menjadi sangat jengkel. Aku pun jadi benci terhadap sifat penakutku, aku ingin membuangnya jauh-jauh dan menunjukkan kepada teman-teman bahwa aku bukan penakut lagi. Aku pun mulai berencana untuk menghilangkan sifat itu, namun itu masih berupa wacana-wacana di kepalaku saja. Aku belum bisa (atau berani) mewujudkannya, tapi aku tahu rencana itu sudah mulai tumbuh. Tapi tiba-tiba saja aku mendapatkan keberanian dan tekad yang kuat untuk mulai membuang rasa takut yang berlebihan itu.

Sebenarnya keberanian itu tidak muncul begitu saja, ada hal yang memacunya hingga muncul ke permukaan. Hal yang memacu keberanian itu muncul saat Ivie mengerjaiku.

Suatu hari saat kami sedang di dalam kelas bimbingan belajar, dan saat itu sku sangat ingin buang air kecil. Waktu itu udara memang sedang dingin, hujan di luar yang lebat dan pendingin udara membuat hasrat ingin buang air kecilku timbul. Aku pun meminta izin untuk ke kamar mandi, lalu aku keluar dari kelas. Pelan-pelan kuturuni tangga beton untuk menuju lantai dua, kamar mandi memang terletak di lantai dua. Ketika sampai di lantai dua, ternyata suasana lorong sangat sepi. Untung saja tidak gelap, jika saja lantai dua dalam keadaan gelap, maka matilah aku. Aku berjalan dengan perasaan gelisah menuju kamar mandi, pikiranku sudah tidak terkendali saat itu. Aku sudah membayangkan ada sosok makhluk setengah badan manusia sedang melihat ke arahku seraya menggesek-gesekkan pangkal tubuhnya di lantai dan meninggalkan garis merah darah yang cukup panjang.

Aku memejamkan mata, dan membukanya beberapa menit kemudian. Seperti yang sudah kuduka, tidak ada apa-apa di ujung lorong, makhluk setengah badan itu hanya ada di kepalaku. Lalu pelan-pelan kubuka pintu kamar mandi. Imajinasiku kembali liar, aku merasa seperti melihat seorang anak kecil dengan pergelangan tangan terpotong. Matanya kosong memandangku, dan darah dari telapak tangan menetes-netes di lantai. Bibir anak itu genetaran dan perlahan-lahan terbuka, "kakak, tolong saya..."

Ia berbisik dengan suara lirih seperti biasa, aku memejamkan mataku dan membukanya kembali. Sosok anak itu hilang begitu saja, tapi menurutku memang dia tidak pernah berada di sana. Dasar rasa takut yang menyebalkan. Setelah selesai buang air kecil, aku segera keluar kamar mandi. Tapi ada perasaan tidak enak di dalam hatiku, dan sepertinya itu adalah bagian dari rasa takutku yang berlebihan. Kudorong pintu kamar mandi.

Tapi ketika aku membuka pintu kamar mandi, sesosok wanita berambut panjang muncul, ia maju dan mencekik leherku. Aku melompat ke belakang, kaget bukan main. Jantungku berdegup sangat kencang, darah di dalam tubuhku terasa panas, aku menutup mata dan berteriak keras. Tapi kemudian cekikan itu terlepas, dengan diiringi suara gelak tawa yang cukup keras. Aku membuka mataku, betapa kesalnya ketuka yang kutemui adalah si kembar Ovie dan Ivie yang tengah menertawakanku. Ivie mengenakan rambut palsu yang sangat panjang hingga menutupi wajahnya, ia tertawa seraya menyingkirkan rambut itu agar ia dapat melihat ekspresiku yang menurut mereka sangat lucu. Aku menangis. Mereka yang awalnya menganggap ekspresiku lucu seketika diam saat melihat aku menangis. Aku tidak lagi melihat wajah mereka, aku langsung saja berlari dari lorong. Aku izin pulang saat itu juga, dan tidak lagi melihat mereka.

**********

Keesokan harinya mereka datang padaku dengan wajah sangat menyesal, meminta maaf kepadaku. Mereka benar-benar tidak bermaksud jahat terhadapku, mereka hanya berpikir ingin menjahiliku. Tapi ternyata mereka berpendapat kejahilan sangat berlebihan, terutama saat melihat ekspresiku saat itu. Berkali-kali mereka minta maaf kepadaku. Irene pun membujukku, dia mengatakan bahwa mereka benar-benar sedang berpikir bodoh. Tidak ada niat jahat sama sekali, dan aku pun memaafkan mereka. Tapi saat itu juga tekad dan keberanianku untuk membuang sifat penakutku muncul.

Mulai hari itu, aku menolak saat ibuku mengatakan akan menjemputku. Aku akan pulang sendiri. Setelah kelas selesai, kubereskan buku-buku dan kuangkat tasku. Setelah berpamitan berpamitan dengan teman-teman di depan gedung bimbingan belajar, aku pun memulai langkah pertamaku menuju rumah. Malam itu udara sangat dingin, dan jalan sudah cukup sepi. Aku berjalan di bawah sinar lampu jalan yang menerangi jalan menuju rumahku. Sebenarnya jantungku sudah berdebar-debar saat itu, imajinasiku juga sudah mulai muncul, ditandai dengan sesosok kemunculan mayat yang terbungkus kain kafan di sisi jalan.

Wajahnya hancur dan bercampur tanah. Kafan yang melilit tubuhnya juga sudah lusuh, penuh noda darah dan nanah akibat pembusukan tubuhnya sendiri. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas, yang kulihat adalah sebuah kapas tipis dan basah menutupi mulut dan matanya. Kakiku gemetaran saat itu, langkahku juga mulai gontai. Kutarik napas pelan-pelan , lalu kupejamkan mata. Ketika kubuka, sosok itu sudah hilang. Imajinasi payah.

Lihat selengkapnya